KEDERMAWANAN ABDURRAHMAN BIN AUF

19 Sep 2026 Admin Article

      Abdurrahman bin Auf radhiyallahu ‘anhu adalah salah seorang sahabat yang Allah Ta‘ala karuniai kelapangan rezeki. Namun kekayaan yang dimilikinya tidak menjadikannya tenggelam dalam kecintaan kepada dunia. Ia justru dikenal sebagai sosok yang gemar berinfak dan mengorbankan hartanya untuk kepentingan kaum muslimin.

    1. Infaqnya untuk mendanai jihad fi sabilillah di masa Nabi

            Al imam Ibnu al Mubarak meriwayatkan dari Ma’mar, dari az Zuhri, bahwa Abdurrahman bin Auf radhiyallahu ‘anhu di suatu peristiwa pernah bersedekah dengan separuh hartanya pada masa Rasulullah ﷺ, yaitu sebanyak empat ribu dinar. Setelah itu, ia kembali bersedekah sebanyak empat puluh ribu dinar lagi. Tidak berhenti sampai di sana, ia juga menyediakan lima ratus ekor kuda untuk berjihad di jalan Allah, kemudian menyediakan lima ratus ekor unta untuk keperluan jihad di jalan Allah.[1]

Urwah berkata “Abdurrahman bin Auf berwasiat sebanyak 50.000 dinar untuk digunakan di jalan Allah. Setiap orang diberikan 1.000 dinar dari harta tersebut.”[2]

    1. Mensedekahkan semua hasil penjualan tanahnya

Diriwayatkan pula pernah Abdurrahman bin Auf menjual sebidang tanah miliknya seharga empat puluh ribu dinar, yakni sekitar Rp 446 milyar . Kemudian hasil penjualan itu semua ia bagikan kepada orang-orang fakir dari Bani Zuhrah, kaum Muhajirin, dan para Ummul Mukminin.

Perawi riwayat ini berkata, “Aku mendatangi Aisyah radhiyallahu ‘anha dengan bagian yang diperuntukkan baginya. Ia bertanya, ‘Siapa yang mengirimkan ini?’ Aku menjawab, ‘Abdurrahman.’      

Aisyah lantas berkata,

إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ قَالَ: إِنَّهُ لَا يَحْنُو عَلَيْكُنَّ بَعْدِي إِلَّا الصَّابِرُونَ سَقَى اللَّهُ ابْنَ عَوْفٍ مِنْ سَلْسَبِيلِ الْجَنَّةِ

‘Ketahuilah, aku pernah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, “Tidak ada yang akan memperhatikan dan menjaga kalian setelahku kecuali orang-orang yang sabar.” Semoga Allah memberi minum Ibnu Auf dari mata air Salsabil di surga.”[3]

    1. Pernah mensedekahkan semua perdagangannya

Suatu hari, Abdurrahman bin Auf radhiyallahu ‘anhu masuk ke kota Madinah dengan membawa kafilah dagang yang sangat besar. Jumlahnya mencapai 700 ekor unta yang penuh dengan muatan. Rombongan itu begitu besar hingga ketika memasuki Madinah, suara langkah dan gemuruhnya terdengar di seluruh penjuru kota.

Ketika ummul mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha mendengar hal tersebut, beliau berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: ‘Aku telah melihat Abdurrahman bin Auf masuk ke dalam surga dengan merangkak.’”

Berita tentang ucapan Aisyah tersebut kemudian sampai kepada Abdurrahman bin Auf. Beliau berkata, “Jika aku mampu, sungguh aku akan memasukinya dengan berjalan tegak.”

Maka kemduian tanpa ragu, beliau pun menginfakkan seluruh kafilah tersebut di jalan Allah, bukan hanya muatannya, tapi kendaraan yang mengangkut bahkan hingga pelana-pelana untanya.[4]

    1. Kedermawanan yang dirasakan semua orang

Kedermawanan Abdurrahman bin Auf radhiyallahu ‘anhu tidak hanya terlihat dari besarnya harta yang beliau infakkan, tetapi juga dari luasnya kalangan yang menerima manfaatnya. Beliau membantu para sahabat, membebaskan budak, dan menginfakkan hartanya dalam berbagai bentuk kebaikan. Di antara gambaran tersebut adalah:

Ketika menjelang wafat, Abdurrahman bin Auf berwasiat agar setiap orang yang masih hidup dari kalangan Ahli Badar diberikan 400 dinar. Jumlah mereka ketika itu sekitar 100 orang. Mereka pun menerima pemberian tersebut, termasuk Utsman dan Ali.[5] Dan ketika ditanyakan alasan mengapa keduanya masih mau menerima bagian tersebut padahal dua shahabat ini tidaklah membutuhkan, mereka menjawab:

أن مال عبد الرحمن حلال صَفْو، وإن الطُعْمَة منه عافية وبركة

“Harta Abdurrahman adalah harta yang halal dan bersih. Mengambil bagian darinya merupakan keselamatan dan keberkahan.”[6]

Pada suatu hari, beliau memerdekakan 30 orang budak dari kepemilikannya. Ja‘far bin Burqan bahkan menyebutkan bahwa jumlah budak yang pernah beliau merdekakan mencapai 30.000 orang.

            Kedermawanan Abdurrahman bin Auf radhiyallahu ‘anhu bukan sekadar memberikan sedekah kepada sebagian orang saja, tetapi manfaat hartanya dirasakan oleh masyarakat secara luas. Sampai-sampai masyhur sebuah ungkapan tentangnya: “Seluruh penduduk Madinah seakan-akan memiliki bagian dalam harta Ibnu Auf. Sepertiganya ia pinjamkan kepada mereka, sepertiganya ia gunakan untuk melunasi utang-utang mereka, dan sepertiganya lagi ia gunakan untuk menyambung hubungan baik dengan mereka serta mensedekahi mereka.”[7]

Putra beliau, Thalhah bin Abdullah bin Auf berkata:

كان اهل المدينة عيالا على عبد الرحمن بن عوف ثلث يقرضهم ماله وثلث يقضي دينهم بماله وثلث يصلهم

“Penduduk Madinah seakan-akan menjadi tanggungan Abdurrahman bin Auf. Sepertiga hartanya ia pinjamkan kepada mereka, sepertiganya ia gunakan untuk melunasi utang mereka, dan sepertiganya lagi ia gunakan untuk menyambung hubungan dengan mereka.”[8]

 

[1] Siyar A’lam an Nubala’ (1/81)

[2] Siyar A’lam an Nubala’ (1/88)

[3] Thabaqat li Ibni Sa’ad (3/123)

[4] Bidayah wa an Nihayah (10/255)

[5] Bidayah wa an Nihayah (10/255)

[6] Ar Rijal Haul ar Rasul hlm. 345

[7] Ar Rijal Haul ar Rasul hlm. 345

[8] Siyar A’lam an Nubala’ (1/88)