PADAHAL HARTANYA HALAL DAN TAK SEBERAPA

16 Sep 2026 Admin Article

Oleh: KH. Ahmad Syahrin Thoriq

Bagi kebanyakan kita, punya harta dan bisa hidup berkecukupan merupakan sesuatu yang menggembirakan. Namun bagi sebagian besar sahabat Rasulullah ﷺ, banyaknya harta justru terkadang menjadi sesuatu yang membuat mereka merasa ketakutan. Bukan karena harta itu sendiri tercela, tetapi karena mereka sangat khawatir jika harta yang mereka miliki membuat mereka menyimpang dari wasiat Rasulullah ﷺ.

Memang, harta yang halal bukanlah sesuatu yang tercela, sebagian dari shahabat Nabi ada yang hidup kaya raya. Dan Rasulullah ﷺ sendiri telah bersabda:

نِعْمَ الْمَالُ الصَّالِحُ لِلْمَرْءِ الصَّالِحِ

“Sebaik-baik harta adalah harta yang baik di tangan orang yang baik.” (HR. Ahmad)

Namun ada satu hal yang sering terlupakan: dalam Islam, persoalan harta tidak berhenti pada pertanyaan, “Apakah harta ini halal?” Setelah itu masih ada pertanyaan yang lebih panjang: dari mana ia diperoleh, untuk apa ia digunakan, dan seberapa jauh ia telah mengambil tempat di dalam kehidupan kita? Rasulullah ﷺ bersabda:

لَا تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ ... وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَ أَنْفَقَهُ

“Tidak akan bergeser kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai ia ditanya ... tentang hartanya, dari mana ia memperolehnya dan untuk apa ia membelanjakannya.” (HR. Tirmidzi)

Diriwayatkan bahwa Khabbab bin al Aratt radhiyallahu ‘anhu pernah berada dalam keadaan sakit menjelang wafatnya. Beberapa orang sahabat datang menjenguknya dan berkata, “Bergembiralah wahai Abu Abdullah! Sebentar lagi engkau akan berjumpa dengan Rasulullah ﷺ di telaga.”

Namun ucapan itu justru membuat Khabbab menangis. Ia menunjuk ke bagian atas dan bawah rumahnya. Yakni ia menunjuk kepada barang-barang dan perkakas yang ia miliki, padahal di dalam rumah itu hanya terdapat sedikit perabot dan beberapa barang yang sangat diperlukan dalam keseharian. Kemudian ia berkata: “Bagaimana dengan semua ini?”

Hal ini karena ia teringat pesan Rasulullah ﷺ:

إِنَّمَا يَكْفِى أَحَدَكُمْ مِنَ الدُّنْيَا كَزَادِ الرَّاكِبِ

“Sesungguhnya yang mencukupi bagi salah seorang di antara kalian dari dunia ini hanyalah seperti bekal seorang musafir.”[1]

Khabbab takut bahwa apa yang dimilikinya saat itu telah melebihi sekadar bekal yang dibutukan seseorang dalam menjalani kehidupan di dunia ini, selayaknya seorang musafir yang berbekal secukupnya agar tidak membebaninya dalam menempuh perjalanan.

Kegelisahan yang sama juga terlihat pada Salman radhiyallahu ‘anhu ketika menjelang kewafatannya. Orang-orang yang berada di sekelilingnya melihat  beliau sangat gelisah. Mereka bertanya, “Apa yang membuatmu gelisah, wahai Abu Abdullah? Bukankah engkau telah memiliki banyak kebaikan? Engkau telah menyertai Rasulullah ﷺ dalam berbagai peperangan dan menyaksikan penaklukan-penaklukan besar?”

Salman menjawab:

يُجْزِعُنِي أَنَّ حَبِيبَنَا ﷺ حِينَ فَارَقَنَا عَهِدَ إِلَيْنَا، قَالَ: لِيَكْفِ الْيَوْمَ مِنْكُمْ كَزَادِ الرَّاكِبِ فَهَذَا الَّذِي أَجْزَعَنِي

“Yang membuatku gelisah adalah bahwa ketika kekasih kita ﷺ meninggalkan kami, beliau berpesan kepada kami: ‘Hendaknya apa yang dimiliki seseorang di antara kalian cukup seperti bekal seorang musafir.’ Inilah yang membuatku gelisah.”

Dan ketika harta Salman dikumpulkan setelah kewafatannya untuk dibagikan kepada ahli warisnya, Ternyata seluruh harta yang dimilikinya itu hanya bernilai sekitar lima belas dirham.[2] Ya kurang lebih Lima belas dirham yang jika dirupiahkan maksimal 2 juta rupiah. Harta sejumlah itulah yang membuat seorang sahabat besar seperti Salam al Farisi radhiyallahu’anhu merasa khawatir Rasulullah ﷺ tidak ridha kepadanya saat berjumpa dengan dirinya.

Riwayat-riwayat di atas menunjukkan betapa kuatnya ittiba’para shahabat kepada  Rasulullah ﷺ . Dan ketika sang Rasul meninggalkan wasiat, maka apa yang menajdi pesan beliau tidak berhenti ketika majelis berakhir dan tidak hilang ketika beliau wafat. Pesan itu terus hidup dalam hati mereka, bahkan sampai berada di penghujung kehidupan.

Mereka mengenang sabda beliau, mengingat kebiasaan beliau, memperhatikan cara hidup beliau, lalu mengukur kehidupan mereka sendiri dengan kehidupan Rasulullah ﷺ.

Semoga bermanfaat.


[1] Musnad Abi Ya’la (9/601)

[2] Shahih Ibnu Hibban (2/204)