MANFAAT MEMPELAJARI SYAMAIL NABI

16 Sep 2026 Admin Article

Oleh: KH. Ahmad Syahrin Thoriq

Diantara faedah mempelajari syamail Nabi ﷺ adalah agar seorang Muslim bisa mengenal Rasulullah ﷺ dengan lebih baik, bukan hanya dari ajaran yang beliau sampaikan, tetapi juga dari akhlak, kebiasaan, ciri-ciri beliau dan hal mendetail lainnya terkait sosok yang mulia ini. Pengetahuan tentang hal-hal tersebut bukan hanya sekadar wawasan belaka yang tidak memiliki manfaat bagi siapapun yang mempelajarinya. Bahkan ia memiliki faidah yang besar karena berkaitan dengan kecintaan seseorang kepada Rasulullah ﷺ dan bisa menumbuhkan keinginan yang kuat untuk meneladani beliau.

Sebagian ulama seperti al imam Ghazali rahimahullah menyatakan bahwa sebab-sebab kecintaan pada dasarnya kembali kepada tiga hal: keindahan, kesempurnaan, dan kebaikan yang diterima seseorang. Seseorang bisa dicintai karena kedermawanannya, keberaniannya, kesabarannya, ilmunya, kerendahan hatinya, ketekunan ibadah dan ketakwaannya, kezuhudan dan kewara‘annya, kesempurnaan akalnya, keluasan pemahamannya, keindahan adabnya, kebaikan akhlaknya, kefasihan lisannya, baiknya pergaulannya, banyaknya kebaikan yang ia lakukan, kasih sayang dan kelembutannya, atau sifat-sifat kesempurnaan lainnya.[1]

Lalu bagaimana jika seluruh sifat kesempurnaan tersebut, beserta berbagai sifat mulia lainnya, berkumpul dalam diri satu orang? Dan bagaimanakah lagi jika seluruh sifat kesempurnaan dan keindahan itu terdapat pada dirinya dalam bentuk yang paling sempurna?

            Dialah manusia yang paling mulia, junjungan kita Muhammad ﷺ. Beliau adalah tempat berkumpulnya seluruh sifat kesempurnaan dan keindahan akhlak. Allah telah menciptakan rupa beliau yang agung dan bentuk beliau yang mulia dengan sangat sempurna, serta menghimpunkan dalam diri beliau berbagai macam keindahan dan keelokan. Karena itu, setiap orang yang menggambarkan sifat-sifat beliau akan mengatakan:

لم ير قبله ولا بعده مثله.

“Tidak pernah dilihat sebelumnya dan tidak pula sesudahnya seseorang yang seperti beliau.”

Mengenal akhlak Rasulullah ﷺ akan membantu seseorang mengikuti keluhuran akhlak beliau. Allah Ta‘ala telah memuji beliau dengan firman-Nya:

وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيمٍ

“Sesungguhnya engkau benar-benar berada di atas akhlak yang agung.” (QS. al-Qalam: 4).

Para sahabat radhiyallahu ‘anhum memberikan teladan dalam hal ini. Mereka tidak hanya memperhatikan sabda-sabda Rasulullah ﷺ, tetapi juga berusaha mengikuti beliau dalam berbagai perkara yang mereka lihat dari kehidupan beliau; bagaimana beliau berjalan ketika bepergian, bagaimana beliau makan dan berpakaian, serta berbagai kebiasaan beliau lainnya.

Bahkan sekadar mengenal sifat fisik beliau pun memiliki faedah yang besar. Diantaranya berkaitan dengan nikmat perjumpaan dengan beliau ﷺ di dalam mimpi.  Bagaimana seseorang dapat memastikan bahwa sosok yang dilihatnya dalam mimpi adalah Rasulullah ﷺ jika ia sendiri tidak mengetahui bagaimana ciri-ciri beliau? Memang benar, Rasulullah ﷺ telah bersabda:

مَنْ رَآنِي فِي الْمَنَامِ فَقَدْ رَآنِي، فَإِنَّ الشَّيْطَانَ لَا يَتَمَثَّلُ بِي

“Barang siapa melihatku dalam mimpi, maka sungguh ia telah melihatku, karena setan tidak dapat menyerupaiku.” (HR. Bukhari)

Hadits  di atas menunjukkan bahwa setan memang tidak dapat menyerupai Rasulullah ﷺ. Namun, hal itu tidak berarti setiap sosok yang muncul dalam mimpi lalu mengaku sebagai Rasulullah ﷺ otomatis benar-benar beliau. Bisa saja seseorang melihat sosok tertentu dalam mimpi, kemudian muncul klaim atau bisikan bahwa sosok tersebut adalah Nabi ﷺ. Karena itu, pengetahuan tentang sifat dan ciri-ciri Rasulullah ﷺ tetap memiliki kedudukan penting.

Karena itu, para ulama terdahulu tidak serta-merta membenarkan setiap pengakuan seseorang yang mengatakan bahwa dirinya telah bertemu Nabi ﷺ dalam mimpi. Diriwayatkan bahwa seseorang datang kepada Imam Ibnu Sirin dan mengaku telah melihat Rasulullah ﷺ dalam mimpinya. Ibnu Sirin tidak langsung membenarkan pengakuan tersebut. Beliau justru memintanya untuk menjelaskan sifat dan ciri-ciri sosok yang dilihatnya dalam mimpi, seraya berkata:


صف لي الذي رأيته

“Sebutkan kepadaku sifat orang yang engkau lihat itu.”

Dan setelah orang tersebut menceritakan apa yang dilihatnya ternyata tidak sesuai dengan sifat nabi dalam Syamail, al imam Ibnu Sirin berkata kepadanya bahwa yang dilihat dalam mimpi itu bukanlah Rasulullah ﷺ.[2]

Inilah salah satu alasan mengapa para ulama memberikan perhatian besar terhadap riwayat-riwayat yang menjelaskan syamail Nabi ﷺ. Mereka meriwayatkan bagaimana rupa beliau, bentuk wajahnya, rambutnya, tinggi badannya, cara berjalannya, pakaiannya, makanannya, hingga berbagai kebiasaan beliau dalam kehidupan sehari-hari.

Mempelajari semua itu bukan sekadar mengumpulkan informasi tentang Rasulullah ﷺ. Ia adalah bagian dari upaya untuk mengenal beliau secara lebih dekat. Dengan mengenal rupa beliau, kita mengetahui sosok yang kita cintai. Dengan mengenal akhlak beliau, kita mengetahui pribadi yang harus kita teladani. Dan dengan mengenal kehidupan serta petunjuk beliau, kita semakin memahami bagaimana mengikuti sunnahnya.

Sebab, sulit membayangkan seseorang dapat mencintai dan meneladani Rasulullah ﷺ dengan baik sementara ia tidak berusaha mengenal pribadi beliau. Syamail membawa kita lebih dekat kepada sosok Rasulullah ﷺ; mengenalkan bagaimana beliau hidup, bagaimana beliau berinteraksi dengan manusia, bagaimana beliau beribadah, dan bagaimana beliau menjalani kehidupan denganbegitu indah yang kemudian dijadikan sebagai suri teladan bagi orang-orang yang beriman.

Pengetahuan seseorang tentang sifat-sifat agung dan syamail Nabi ﷺ akan memberikan gambaran yang bersifat ilmiah tentang beliau, yang kemudian tertanam dalam hati dan tergambar dalam khayalannya. Seakan-akan ia telah melihat sendiri sosok yang dicintainya, yaitu Rasulullah ﷺ.

Rasulullah ﷺ dahulu sering menceritakan kepada para sahabat tentang sifat-sifat para rasul sebelum beliau. Beliau mendekatkan gambaran tersebut kepada mereka dengan menyebutkan sosok-sosok yang memiliki kemiripan dengan mereka. Sampai-sampai para sahabat seakan berada dalam keadaan seperti telah melihat para rasul tersebut secara langsung. Cara demikian merupakan salah satu jalan yang paling dekat untuk mengenal mereka dan salah satu sarana yang paling efektif untuk menumbuhkan kecintaan kepada mereka. Misalnya Nabi ﷺ bersabda:

حِينَ أُسْرِيَ بِي لَقِيتُ مُوسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ ـ فَنَعَتَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ ـ فَإِذَا رَجُلٌ ـ حَسِبْتُهُ قَالَ ـ مُضْطَرِبٌ، رَجِلُ الرَّأْسِ كَأَنَّهُ مِنْ رِجَالِ شَنُوءَةَ

“Ketika aku diperjalankan dalam Isra, aku bertemu dengan Musa alaihissalam.” Kemudian Nabi ﷺ menggambarkan sifat Musa alaihissalam. “Ternyata ia adalah seorang laki-laki yang tinggi dan kurus, berambut ikal, seakan-akan ia berasal dari kalangan kaum Syanu’ah.” (HR. Muslim)

Beliau juga bersabda: “Dan aku bertemu dengan Isa.” Kemudian Nabi ﷺ menggambarkan sifatnya. “Ternyata ia adalah seorang laki-laki yang berperawakan sedang, berkulit kemerah-merahan..” (HR. Bukhari)

Beliau ﷺ juga bersabda:

وَرَأَيْتُ إِبْرَاهِيمَ صَلَوَاتُ اللهِ عَلَيْهِ، وَأَنَا أَشْبَهُ وَلَدِهِ بِهِ

“Aku juga melihat Ibrahim alaihissalam, dan akulah di antara anak keturunannya yang paling mirip dengannya.” (HR. Muslim)

Wahai saudara-saudaraku  yang mulia, sesungguhnya dengan menyebutkan syamail beliau ﷺ serta mendengarkan sifat dan ciri-ciri beliau, hati orang-orang yang mencintai beliau akan menjadi hidup. Jiwa dan pikiran mereka menjadi bahagia, kecintaan mereka semakin bertambah, dan kerinduan mereka kepada beliau pun semakin bergelora. Sebagaimana yang diungkapkan dalam bait syair:

ونحيا بذكراكم إذا لم نراكم .. ألا إن تذكار الأحبة ينعشنا

 “Kami hidup dengan mengingat kalian meski kami tidak dapat melihat kalian.
Sungguh, mengingat orang-orang yang tercinta akan menghidupkan kembali jiwa-jiwa.”[3]

Semoga bermanfaat.


[1] Ihya Ulumiddin (4/300)

[2] Fath al Bari (12/384)

[3] Wa Muhammadah (1/126)