KEDERMAWANAN ABU BAKAR SHIDIQ

13 Sep 2026 Admin Article

Oleh: KH. Ahmad Syahrin Thoriq

Sayyidina Abu Bakar ash-Shiddiq adalah seorang yang dermawan, suka memberi, gemar menginfakkan hartanya di jalan Allah, dan senantiasa terdepan dalam melakukan kebaikan. Ia tidak pernah menahan hartanya apabila hal itu diperlukan untuk membela Islam, meninggikan kalimat kebenaran, dan menyampaikan dakwah Nabi ﷺ. Ali radhiyallahu‘anhu berkata tentangnya:

والذي نفسي بيده ما استبقنا إلى خير قط إلا سبقنا أبو بكر إليه

“Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidaklah kami berlomba dalam suatu kebaikan melainkan Abu Bakar selalu mendahului kami dalam kebaikan tersebut.” (HR. Thabrani)

  1. Menyedekahkan seluruh hartanya

Tentang kisah kedermawanannya, disebutkan dalam beberapa hadits bahwa sayidina Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu pernah mendengar Nabi ﷺ menganjurkan untuk bersedekah dan mengeluarkan harta di jalan Allah. Umar radhiyallahu‘anhu berkata, “Ketika itu terlintas dalam pikiranku bahwa aku memiliki harta yang ingin aku sedekahkan.” Maka ia membawa harta tersebut kepada Nabi ﷺ dan menyedekahkannya, dengan harapan dapat mengungguli Abu Bakar radhiyallahu‘anhu dalam hal kedermawanan.

Hal tersebut disebutkan dalam sebuah hadits: “Aku kemudian datang membawa setengah dari hartaku. Rasulullah ﷺ bertanya kepadaku, ‘Apa yang engkau sisakan untuk keluargamu?’ Aku menjawab, ‘Sebanyak yang aku bawa ini.’ Kemudian Abu Bakar datang membawa seluruh harta yang dimilikinya. Rasulullah ﷺ bertanya kepadanya, ‘Wahai Abu Bakar, apa yang engkau sisakan untuk keluargamu?’ Abu Bakar menjawab, ‘Aku tinggalkan untuk mereka Allah dan Rasul-Nya.’ Aku berkata, ‘Aku tidak akan pernah dapat mengunggulinya dalam suatu hal pun.’” (HR. Tirmidzi)

  1. Menebus Bilal dengan bayaran sangat tinggi

Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu tidak pernah merasa berat mengeluarkan hartanya, bahkan emas yang dimilikinya, untuk membebaskan Bilal radhiyallahu‘anhu ketika ia disiksa karena keimanannya. Ia bahkan membawa sejumlah emas untuk membeli Bilal kemudian memerdekakannya.

Telah diketahui bahwa Rasulullah ﷺ pernah melewati Bilal ketika ia sedang disiksa di bawah terik panas dan pasir Makkah. Bilal terus mengucapkan, “Ahad, Ahad.” Nabi ﷺ kemudian berkata, “Yang Maha Esa akan menyelamatkanmu.”

Setelah itu Nabi ﷺ mendatangi Abu Bakar dan berkata, “Aku melihat Bilal sedang disiksa karena Allah.” Abu Bakar kemudian pulang ke rumahnya, mengambil emas, lalu mendatangi Umayyah bin Khalaf. Ia membeli Bilal darinya dengan harga yang sangat tinggi dan kemudian memerdekakannya. Kala itu Umayyah bin Khalaf berkata kepada Abu Bakar, ‘Seandainya engkau hanya bersedia membayar satu uqiyah, aku tetap akan menjualnya kepadamu.’

 

Sayidina Abu Bakar menjawab dengan jawaban telak: “Sebaliknya seandainya engkau tidak mau menjualnya kecuali dengan harga seratus uqiyah, niscaya aku tetap akan membelinya.’”[1]

Dan tentang peristiwa tersebut Allah Ta‘ala kemudian menurunkan firman-Nya:

وَمَا لِأَحَدٍ عِندَهُ مِن نِّعْمَةٍ تُجْزَىٰ ۝ إِلَّا ابْتِغَاءَ وَجْهِ رَبِّهِ الْأَعْلَىٰ

“Padahal tidak ada seorang pun memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya, melainkan karena mencari keridaan Tuhannya Yang Mahatinggi.” (QS. Aln Lail: 19–20)

  1. Memerdekakan orang-orang Islam yang disiksa karena keimanannya

Sayidina Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu juga disebutkan pernah memerdekakan tujuh orang yang semuanya disiksa karena beriman kepada Allah. Ia rela mengeluarkan banyak hartanya demi membebaskan orang-orang Islam yang mendapatkan penyiksaan karena mempertahankan keimanan mereka. Al imam Ibnu Abi Hatim menyebutkan dalam tafsirnya: “Abu Bakar memerdekakan tujuh orang yang semuanya disiksa karena Allah: Bilal, Amir bin Fuhairah, an Nahdiyyah dan putrinya, Zunairah, Ummu ‘Abis, dan seorang budak perempuan dari Bani al Mu’ammal.’[2]

  1. Menginfakkan harta pribadinya untuk dakwah

Demikian juga beliau termasuk orang yang berada di barisan paling awal dalam dakwah Islam. Ia tidak pernah merasa berat mengeluarkan hartanya di jalan Allah demi meninggikan kalimat-Nya dan membantu menyampaikan risalah yang dibawa oleh Rasul-Nya ﷺ. Ia menggunakan harta pribadinya untuk mendukung dakwah dan membela agama Allah.

Al imam Ibnu Asakir meriwayatkan melalui beberapa jalur dari Aisyah radhiyallahu‘anha dan Urwah bin az Zubair bahwa ketika Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu masuk Islam, ia memiliki harta sebesar empat puluh ribu dinar—dalam riwayat lain disebutkan empat puluh ribu dirham. Harta tersebut kemudian ia belanjakan untuk kepentingan Rasulullah ﷺ. Ia menggunakannya untuk membebaskan para budak serta membantu perjuangan Islam.

Diriwayatkan pula dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi ﷺ bersabda:

مَا نَفَعَنِي مَالٌ قَطُّ إِلَّا مَالُ أَبِي بَكْرٍ

“Tidak ada harta seseorang yang memberikan manfaat kepadaku sebagaimana harta Abu Bakar.”

            Mendengar hal tersebut, justru Abu Bakar menangis seraya berkata: “Bukankah Allah hanya memberikan manfaat kepadaku melalui dirimu? Bukankah Allah hanya memberikan manfaat kepadaku melalui dirimu?” Ia mengulanginya sebanyak tiga kali. (HR. Ahmad)

  1. Menyerahkan hartanya kepada Baitul Mal ketika menjadi khalifah

            Ketika sayidina Abu Bakar ash Shiddiq radhiyallahu‘anhu diangkat menjadi khalifah kaum Muslimin, ia menyerahkan seluruh dinar dan dirham yang dimilikinya kepada Baitul Mal. Harta yang sebelumnya berada dalam kepemilikannya tersebut ia serahkan untuk kepentingan kaum Muslimin.

Diriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu‘anha: “Ketika Abu Bakar diangkat menjadi khalifah, ia memasukkan setiap dinar dan dirham yang dimilikinya ke dalam Baitul Mal.”[3]

Semoga Bermanfaat


[1] Mushannaf Ibnu Abi Syaibah (7/337)

[2] Abu Bakar ash Shidiq Afdhal ash Shahabah hlm. 37

[3] Siyar A’lam an Nubala (2/361)