Oleh: KH. Ahmad Syahrin Thoriq
Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma pernah berkata: “Dia ﷺ adalah Manusia yang paling dermawan.”. Ungkapan ini menjadi saksi atas betapa besar kemurahan hati dan kedermawanan sang Nabi ﷺ. Hal itu tentu tidak mengherankan, sebab kedermawanan merupakan akhlaq yang telah melekat kuat dalam diri beliau sejak awal kehidupan beliau jauh sebelum diutus menjadi seorang rasul. Sifat tersebut kemudian semakin kokoh karena lingkungan Arab tempat beliau tumbuh dan dibesarkan merupakan masyarakat yang terkenal dengan berbagai bentuk kemurahan hati dan kebiasaan memberi.
Ummul Mukminin Khadijah radhiyallahu ‘anha juga menjelaskan bahwa Nabi ﷺ telah memiliki sifat mulia tersebut bahkan sebelum beliau diutus sebagai Rasul. Dalam perkataannya yang masyhur, ia berkata:
إنك لتصل الرحم ، وتحمل الكلّ ، وتكسب المعدوم ، وتقري الضيف ، وكلها صفات تحمل في طيّاتها معاني الكرم والجود
“Sesungguhnya engkau suka menyambung tali silaturahmi, membantu orang yang lemah dan terbebani, memberikan pertolongan kepada orang yang tidak memiliki apa-apa, dan memuliakan tamu.”[1]
Jika kita menelusuri kembali lembaran sejarah, kita akan menemukan berbagai sisi yang menunjukkan keagungan dari sifat kedermawanan Nabi ﷺ. Dalam keadaan beliau sedang lapang ataupun dalam kondisi sempit, beliau tetap memiliki kemurahan hati yang sama. Bahkan, pemberian dan kedermawanan beliau semakin bertambah pada musim-musim kebaikan dan waktu-waktu yang utama, seperti di bulan Ramadan. Sayidina Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata:
كَانَ النَّبِيُّ ﷺ أَجْوَدَ النَّاسِ، وَأَجْوَدَ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ، فَلَرَسُولُ اللهِ ﷺ أَجْوَدُ بِالْخَيْرِ مِنَ الرِّيحِ الْمُرْسَلَةِ.
“Rasulullah ﷺ adalah manusia yang paling dermawan. Dan beliau menjadi lebih dermawan lagi pada bulan Ramadan ... Sungguh, Rasulullah ﷺ lebih dermawan dalam memberikan kebaikan daripada angin yang berembus.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Nabi ﷺ benar-benar mencapai kedudukan yang paling tinggi dan paling mulia di antara orang-orang yang dikenal memiliki sifat murah hati dan kedermawan. Beliau tidak pernah menolak orang yang meminta ataupun orang yang mengeluhkan membutuhkannya. Sang Nabi ﷺ akan memberikan harta terbaik yang beliau miliki dengan segala kemurahan hati yang sangat jarang ditemukan tandingannya. Jabir radhiyallahu’anhu berkata:
مَا سُئِلَ النَّبِيُّ ﷺ عَنْ شَيْءٍ قَطُّ فَقَالَ: لَا
“Tidaklah Rasulullah ﷺ dimintai sesuatu, lalu beliau mengatakan, ‘Tidak.’” (Muttafaqun ‘alaih)
Disebutkan dalam sebuah riwayat pernah suatu ketika seorang Arab Badui datang menemui Nabi ﷺ. Ia melihat sekawanan kambing yang memenuhi sebuah lembah. Melihat banyaknya kambing tersebut, ia pun berharap mendapatkan kemurahan hati Nabi ﷺ. Ia kemudian meminta agar sebagian kambing yang ada di lembah itu diberikan kepadanya. Nabi ﷺ bahkan kemudian memberikan seluruh kambing-kambing tersebut kepadanya. Laki-laki badui itu kemudian pulang dengan penuh kegembiraan lalu menemui kaumnya seraya berkata: “Wahai kaumku, masuk Islamlah! Demi Allah, sesungguhnya Muhammad memberikan pemberian seperti orang yang tidak takut jatuh miskin.”(HR. Muslim)
Peristiwa-peristiwa semacam ini memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap hati orang-orang Arab Badui. Pada awalnya, mereka datang menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan tujuan memperoleh seekor kambing atau unta, dinar atau dirham, lalu pulang membawa apa yang mereka inginkan. Namun, tidak lama kemudian hati mereka terbuka untuk menerima Islam dan berpegang teguh kepadanya.
Karena itu, Anas radhiyallahu ‘anhu memberikan komentar mengenai peristiwa tersebut:
إن كان الرجل ليسلم ما يريد إلا الدنيا ، فما يسلم حتى يكون الإسلام أحب إليه من الدنيا وما عليها
“Sesungguhnya seseorang terkadang masuk Islam karena tidak menginginkan apa-apa selain dunia. Namun, setelah masuk Islam, ia tidak pernah berhenti hingga Islam menjadi sesuatu yang lebih ia cintai daripada dunia dan segala isinya.” (HR. Muslim)
Nabi ﷺ juga sering memberikan berbagai pemberian untuk melunakkan dan menumbuhkan kecintaan orang-orang yang baru masuk Islam. Pada Perang Hunain, beliau memberikan sejumlah besar unta kepada ‘Uyainah bin Hisn, al-Aqra‘ bin Habis, al-‘Abbas bin Mirdas, Abu Sufyan bin Harb, dan Shafwan bin Umayyah, semoga Allah meridhai mereka. Ketika beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pulang dari peperangan tersebut, beberapa orang Arab Badui mengikuti beliau sambil meminta sesuatu. Beliau kemudian berkata kepada mereka:
أَتَخْشَوْنَ عَلَيَّ الْبُخْلَ؟ فَوَاللَّهِ لَوْ كَانَ لَكُمْ بِعَدَدِ شَجَرِ تِهَامَةَ نَعَمًا، لَقَسَمْتُهُ بَيْنَكُمْ، ثُمَّ لَا تَجِدُونِي بَخِيلًا وَلَا جَبَانًا وَلَا كَذُوبًا.
“Apakah kalian khawatir aku akan menjadi orang yang kikir? Demi Allah, seandainya kalian memiliki ternak sebanyak jumlah pepohonan di Tihamah, niscaya akan aku bagikan semuanya kepada kalian. Setelah itu, kalian tidak akan mendapati aku sebagai orang yang kikir, pengecut, ataupun pendusta.” (HR. Ahmad)
Di antara kisah yang menunjukkan kedermawanan Nabi ﷺ adalah hadits yang diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu. Ia berkata: “Pernah dibawa kepada Nabi ﷺ harta dari Bahrain. Beliau kemudian bersabda, ‘Hamparkanlah harta itu di masjid.’
Harta-harta tersebut merupakan harta paling banyak yang pernah dibawa kepada Rasulullah ﷺ. Setelah itu, beliau keluar untuk menunaikan shalat dan tidak menoleh sedikit pun kepadanya. Setelah selesai shalat, beliau datang dan duduk di dekat harta tersebut. Tidaklah beliau melihat seseorang kecuali beliau memberinya bagian. Rasulullah ﷺ tidak berdiri dari tempat itu hingga tidak tersisa satu dirham pun.” (HR. Bukhari).
Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu juga berkata: “Pernah aku berjalan bersama Nabi ﷺ Ketika itu beliau mengenakan selendang Najrani yang tebal bagian tepinya. Tiba-tiba seorang Arab Badui menyusul beliau dan menarik selendang itu dengan tarikan yang sangat kuat. Sampai-sampai aku melihat bagian pundak Nabi ﷺ dan bekas tepi selendang tersebut terlihat di sana akibat kuatnya tarikan itu. Kemudian orang Badui itu berkata kepada beliau, ‘Perintahkanlah agar aku diberi sebagian dari harta Allah yang ada padamu.’ Nabi ﷺ menoleh kepadanya sambil tersenyum, lalu memerintahkan agar orang tersebut diberi sesuatu.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Nabi ﷺ juga sangat peka terhadap keadaan orang-orang di sekitarnya. Beliau dapat mengetahui kebutuhan seseorang hanya dari raut wajahnya. Namun, ketika hendak membantu, beliau melakukannya dengan cara yang sangat halus, sehingga orang yang dibantu tidak merasa malu ataupun direndahkan.
Hal ini terlihat dalam kisah Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu. Ketika dalam perjalanan pulang bersama Nabi ﷺ, beliau mengetahui bahwa Jabir baru saja menikah. Nabi ﷺ kemudian menanyakan tentang untanya dan menawarkan untuk membelinya dengan harga empat dinar.
Setelah mereka tiba di Madinah, Nabi ﷺ memerintahkan Bilal agar menyerahkan uang tersebut kepada Jabir. Beliau bahkan memerintahkan agar uang itu ditambah, sementara unta Jabir tetap dikembalikan kepadanya. (HR. Bukhari Muslim)
Dengan demikian, Jabir mendapatkan uang sekaligus tetap memiliki untanya. Begitulah cara Nabi ﷺ membantu orang lain: bukan sekadar memenuhi kebutuhannya, tetapi juga menjaga kehormatan dan perasaannya.
Pada kesempatan yang lain, Nabi ﷺ melihat tanda-tanda kelaparan pada wajah Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Beliau tersenyum, kemudian mengajaknya menuju sebuah wadah yang berisi susu. Beliau memerintahkannya untuk minum.
Abu Hurairah pun minum hingga merasa kenyang. Namun, Nabi ﷺ terus memberikan wadah itu kepadanya dan memintanya untuk kembali minum. Demikian seterusnya hingga Abu Hurairah berkata: “Demi Zat yang mengutusmu dengan membawa kebenaran, aku sudah tidak menemukan tempat lagi untuk menampungnya.” (HR. Bukhari)
Curahan kedermawanan Nabi ﷺ begitu luas, hingga orang-orang di sekeliling beliau pun merasakan manfaatnya, bahkan termasuk orang-orang yang memusuhi beliau. Ketika pemimpin kaum munafik, Abdullah bin Ubay bin Salul, meninggal dunia, putranya datang menemui Nabi ﷺ dan berkata: “Wahai Rasulullah, berikanlah kepadaku pakaianmu untuk mengafani jenazahnya, halatkanlah dia, dan mohonkanlah ampunan untuknya.”
Nabi ﷺ pun memberikan pakaiannya kepada putra Abdullah bin Ubay tersebut. (HR. Bukhari)
Dengan akhlak mulia semacam inilah Nabi ﷺ mendidik para sahabatnya. Pada suatu hari, beliau pernah berpesan kepada salah seorang sahabatnya:
أَنْفِقْ وَلَا تَخَفْ مِنْ ذِي الْعَرْشِ إِقْلَالًا.
“Berinfaklah, dan jangan takut Zat Yang memiliki ‘Arsy akan menjadikanmu kekurangan.”(HR. Abu Ya‘la)
Demikianlah kedermawanan Nabi ﷺ. Kemurahan hati beliau menjadi bukti kemuliaan diri, tingginya kedudukan, keluhuran budi pekerti, dan kesucian jiwa beliau ﷺ. Benarlah apa yang dikatakan seorang penyair:
هو البحر من أي النواحي أتيته فلجته المعروف والجود ساحله تـراه إذا ما جئتـه متهـللاً كأنك تعطيه الذي أنت سائله
“Dialah lautan; dari arah mana pun engkau mendatanginya, niscaya engkau akan mendapati bahwa teluknya adalah kebaikan, sedangkan pantainya adalah kemurahan hati.
Engkau akan melihatnya, ketika engkau datang kepadanya, menyambutmu dengan wajah berseri-seri, seakan-akan justru engkaulah yang memberikan kepadanya apa yang engkau minta.”[2]