Oleh: Ahmad Syahrin Thoriq
Semua juga tahu, sejak dahulu hingga hari ini, kebanyakan para politikus dan mereka yang haus kedudukan itu paling gemar menjadikan agama sebagai sarana untuk memuluskan nafsu politik mereka. Agama dijadikan kuda Troya untuk menguasai dan mengelabuhi umat, terkadang bahkan dijadikan kelinci percobaan untuk menguji sejauh mana masyarakat dapat diarahkan, dan pada saat tertentu hingga dijadikan kambing hitam ketika kepentingan politik tidak berjalan sebagaimana yang diharapkan.
Sebenarnya juga, telah banyak cerita kekecewaan rakyat kepada janji manis para politikus yang pernah dititipi harapan dan cita-cita umat. Saat mencari dukungan begitu dekat kepada ulama, setelah duduk lupa dengan kepentingan agama. Para politikus yang saat nyalon terlihat sangat agamis, bahkan menampilkan kesan seolah-olah kepentingan agama merupakan bagian utama dari perjuangan mereka. Tapi nyatanya setelah terpilih, tak ada bedanya dengan para tikus curut lainnya yang merongrong dan menggarong kekayaan negara.
Hal yang seperti ini sudah menjadi cerita lama. Terlalu sering terjadi, bahkan terus berulang dari zaman ke zaman. Dan tahu anda apa yang lebih membagongkan dari itu semua? Yah, saat ini, yang benar -benar lebih mengherankan adalah kita bukannya sadar diri telah ditipu berkali-kali, atau minimal tidak percaya lagi omongan dan janji-janji mereka, tapi malah hendak merujuk dan menjadikan mereka sebagai salah satu referensi dalam cara beragama.
Sebodoh-bodohnya orang awam rasanya pasti mengetahui, yang bisa diteladani dalam urusan agama hanyalah para ulama, itupun tak sembarang ulama. Lalu bagaimana mungkin orang yang buta agama, atau bahkan mungkin sekadar membaca Qur’an saja ia tidak bisa, mau dijadikan role model dalam beragama?
Ditipu oleh politikus dalam urusan dunia hingga berkali-kali tapi tak juga kunjung menyadari itu sih memang bodoh, tapi masih mungkin untuk dimaklumi. Tapi mau-maunya kena tipu juga oleh mereka dalam urusan agama itu baru luar biasa kebodohannya. Istilah anak sekarang, orang model begini yang otaknya masih murni dan orisinil, sama sekali belum ‘tercemari’ oleh pendidikan.
Mengapa fenomena menyedihkan semacam ini bisa terus terjadi? Salah satu sebabnya adalah karena orang-orang yang seharusnya menyadarkan umat justru tidak selalu berdiri di tempat yang semestinya. Mereka yang punya ilmu yang luas sekaligus memiliki pengaruh yang besar, bukannya menjadi penyambung lidah umat, tapi justru malah menjadikan pengaruhnya untuk mencari muka di hadapan para penguasa.
Ketika orang awam berkali-kali melakukan kesalahan, persoalannya tidak selalu semata-mata karena ketidaktahuan. Bisa jadi mereka sebenarnya telah mengetahui mana yang benar, tetapi ketika melihat orang-orang yang mereka anggap berilmu justru mengambil sikap yang berbeda, mereka pun merasa memiliki pembenaran untuk mengikuti kesalahan tersebut. Kebodohan memang menyesatkan. Tetapi ilmu yang disalahgunakan jauh lebih bisa menyesatkan, karena ia tidak hanya menyesatkan pemiliknya, melainkan dapat membuat banyak orang tersesat bersamanya.
Dan yang paling membuat ilmu rentan disalahgunakan adalah ketika ia terlalu dekat dengan kekuasaan dan mulai dipergunakan untuk meraih kedudukan, pengaruh, atau keuntungan di sisi para penguasa. Pada titik itu, ilmu yang semestinya menjadi alat untuk menegakkan kebenaran justru dapat berubah menjadi alat untuk mencari pembenaran. Dari sinilah para penjilat kekuasaan mendapatkan tempatnya. Dalam setiap zaman, akan selalu ada manusia yang mengambil peran sebagai penjilat kekuasaan.
Mereka adalah orang-orang yang rela menjual apa saja demi menyenangkan tuannya. Bukan hanya kehormatan dan prinsip yang mereka gadaikan, tetapi terkadang bahkan agama dan fatwa pun mereka jadikan barang dagangan. Sejarah telah mencatat, fenomena semacam ini bukanlah sesuatu yang baru.
Dahulu pernah terjadi bencana besar di Mesir berupa gempa dahsyat yang menimbulkan kerusakan dan korban jiwa dalam jumlah besar. Dalam keadaan seperti itu, semestinya para pemilik ilmu mengingatkan penguasa dan masyarakat untuk bermuhasabah, bertaubat, memperbaiki kedzaliman, dan kembali kepada Allah. Namun para penjilat justru mengambil jalan yang berbeda.
Alih-alih menyampaikan nasihat, mereka malah datang membawa pujian. Bencana yang seharusnya menjadi momentum untuk merenung justru dipoles menjadi bahan sanjungan kepada penguasa. Gempa tidak lagi dipandang sebagai musibah yang menggetarkan hati, tetapi digambarkan seolah-olah bumi sedang bergembira karena keadilan dan kemakmuran penguasa. Konon, di antara syair yang digunakan untuk memuji itu berbunyi:
مَا زُلْزِلَتْ مِصْرُ مِنْ كَيْدٍ أَلَمَّ بِهَ لَكِنَّهَا رَقَصَتْ مِنْ عَدْلِكُمْ طَرَبًا
“Mesir tidak berguncang karena musibah yang menimpanya, tetapi ia bergoyang menari karena bersuka cita atas keadilan tuan.”
Lihatlah bagaimana penyakit menjilat dapat membuat seseorang kehilangan kemampuan untuk berkata jujur.
Maka wahai para pemilik suara yang amanah jeritan umat ini dititipkan di lisan kalian, Jangan sampai ilmu yang telah Allah titipkan justru kalian jadikan alat untuk mencari muka di hadapan para penguasa dan politikus yang gemar menipu itu…
Semoga bermanfaat.