Izin bertanya kiyai tentang waktu sebenarnya lahirnya Nabi ﷺ, apakah benar tanggal 12 Rabiul Awwal? Karena saya baca ada yang menyebutkan tanggal 9 nya.
Jawaban
Oleh: KH. Ahmad Syahrin Thoriq
Tentang waktu kelahiran Nabi shallallahu alaihi wa sallam, terdapat perkara yang disepakati oleh para ulama dan ada pula yang masih diperselisihkan. Adapun yang disepakati adalah hari kelahiran beliau, yaitu hari Senin. Hal ini berdasarkan hadis sahih yang secara tegas menyebutkan bahwa Nabi ﷺ dilahirkan pada hari Senin. Karena itu, para ulama tidak berbeda pendapat mengenai harinya. Dasarnya adalah hadis sahih ketika Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam ditanya tentang puasa hari Senin, beliau menjawab:
ذَاكَ يَوْمٌ وُلِدْتُ فِيهِ، وَيَوْمٌ بُعِثْتُ أَوْ أُنْزِلَ عَلَيَّ فِيهِ
“Itu adalah hari ketika aku dilahirkan dan hari ketika aku diutus, atau diturunkan wahyu kepadaku.”(HR. Muslim)
Juga berdasarkan hadits lainnya dari Ubaidullah bin Umar meriwayatkan dari Kuraib, dari Ibnu Abbas:
وُلِدَ النبيُّ ﷺ يومَ الاثنينِ واستُنْبِئَ يومَ الاثنينِ وتوفيَ يومَ الاثنينِ وخرج مهاجرًا من مكةَ إلى المدينةِ يومَ الاثنينِ وقَدِمَ المدينةَ يومَ الاثنينِ ورُفِعَ الحجرُ الأسودُ يومَ الاثنينِ
“Nabi ﷺ dilahirkan pada hari Senin, diangkat menjadi nabi pada hari Senin, wafat pada hari Senin, keluar berhijrah dari Makkah menuju Madinah pada hari Senin, tiba di Madinah pada hari Senin, dan Hajar Aswad juga diangkat (diletakkan) pada hari Senin.” (HR. Thabrani)
Al imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata:
وهذا ما لا خلاف فيه أنه ولد صلى الله عليه وسلم يوم الاثنين
“Mengenai hal ini tidak terdapat perbedaan pendapat, bahwa ﷺ dilahirkan pada hari Senin.”[1]
Adapun mengenai waktu yang lainnya yakni tanggal, bulan, dan waktu siang atau malamnya, para ulama berbeda pendapat. Al Halabi rahimahullah berkata: “Telah terjadi perbedaan pendapat mengenai waktu kelahiran Nabi ﷺ yaitu apakah beliau dilahirkan pada malam hari atau siang hari. Jika dikatakan beliau lahir pada siang hari, maka diperselisihkan pula pada waktu apa di siang tersebut beliau dilahirkan. Para ulama juga berbeda pendapat mengenai bulan, tahun, dan tempat kelahiran beliau. Ada yang berpendapat bahwa beliau dilahirkan pada hari Senin. Sebagian ulama bahkan mengatakan bahwa mengenai hal ini (harinya) tidak terdapat perbedaan pendapat. “[2]
Waktu kelahiran
Sebagian ulama seperti Zubair bin Bakkar dan al Hafizh Ibnu Asakir menyebutkan bahwa kelahiran beliau terjadi di waktu malam ketika terbit fajar. Hal ini berdasarkan riwayat ucapan kakek beliau ﷺ, Abdul Muththalib: “Pada malam ini, bersamaan dengan datangnya waktu shubuh, telah lahir seorang anak bagiku.”
Sedangkan riwayat dari al imam Said bin al Musayyab rahimahullah menyebutkan:
ولد رسول الله ﷺ عند إبهار النهار أي وسطه
“Rasulullah ﷺ dilahirkan ketika waktu siang telah mencapai pertengahannya.”[3]
Al Hafizh Abu al Fadhl al Iraqi berkata:
الصواب أنه ﷺ ولد في النهار، وهو الذي ذكره أهل السيروحديث أبي قتادة مصرح به.
“Pendapat yang benar adalah bahwa beliau ﷺ dilahirkan pada siang hari. Inilah yang disebutkan oleh para ahli sirah. Hadis Abu Qatadah juga secara tegas menunjukkan hal tersebut.”[4]
Al imam Ibnu Dihyah rahimahullah berkata: “Adapun riwayat yang menyebutkan bahwa bintang-bintang berguguran atau tampak menjuntai, maka riwayat tersebut lemah. Sebab, riwayat itu mengharuskan bahwa kelahiran beliau terjadi pada malam hari.”[5]
Tanggal kelahiran
Sebagian ulama berpendapat bahwa Nabi ﷺ dilahirkan pada tanggal 12 Rabi’ul Awwal, dan ini adalah pendapat yang masyhur, dinyatakan oleh banyak ulama sirah. Al imam Ibnu Rajab al Hanbali rahimahullah berkata:
والمشهور الذي عليه الجمهور أنه ولد يوم الاثنين ثاني عشر ربيع الأول، وهو قول ابن إسحاق وغيره.
“Pendapat yang masyhur dan dipegang oleh mayoritas ulama adalah bahwa Nabi ﷺ dilahirkan pada hari Senin, tanggal 12 Rabiul Awal. Ini merupakan pendapat Ibnu Ishaq dan ulama lainnya.”[6]
Sedangkan sebagian ulama yang lain menyatakan bahwa tanggal kelahiran Nabi adalah 9 Rabi’ul Awwal, dan ini dipandang sebagai pendapat yang lebih kuat. Al imam ath Thabari al Makki rahimahullah berkata:
وقيل لثمان وصححه كثير من العلماء
“Pendapat delapan malam ini dinilai shahih oleh banyak ulama.”[7]
Dalam kitab Nurul Yaqin disebutkan: “Almarhum Mahmud Basya al Falaki telah melakukan perhitungan astronomis dan menyimpulkan bahwa kelahiran tersebut terjadi pada pagi hari Senin, tanggal 9 Rabiul Awal, yang bertepatan dengan tanggal 20 April tahun 571 M. Menurut perhitungan tersebut, tahun itu merupakan tahun pertama setelah peristiwa Tahun Gajah.”[8]
Hal yang sama juga dinyatakan dalam kitab Rakhiq al Makhtum karya Syaikh Shafiyyurrahman al Mubarakfury.[9]
Al imam Ibnu Jauzi rahimahullah menyebutkan bahwa Nabi lahir di bulan Rabi’ul awwal, hanya kemudian kapan tanggalnya ulama berbeda pendapat. Beliau berkata: “Adapun mengenai tanggal berapa beliau dilahirkan dalam bulan tersebut, para ulama berbeda pendapat dalam empat pendapat: Pertama, beliau dilahirkan setelah berlalu dua malam dari bulan Rabiul Awal. Kedua, beliau dilahirkan setelah berlalu delapan malam. Ketiga, beliau dilahirkan setelah berlalu sepuluh malam. Keempat, beliau dilahirkan setelah berlalu dua belas malam.”[10]
Bulan kelahiran
Mayoritas ulama berpendapat bahwa bulan kelahiran Nabi ﷺ adalah Rabi’ul Awwal. Al imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata: “Mayoritas ulama berpendapat bahwa kelahiran beliau terjadi pada bulan Rabiul Awal.”[11]
Al imam al Suhaili berkata:
وهو المعروف. ونقل بعضهم فيه الإجماع.
“Ini adalah pendapat yang terkenal dan sebagian menyatakan adanya ijma’ tentang waktu ini.”[12]
Al imam Ibnu Jauzi rahimahullah berkata:
اتفقوا على أن رسول ﷺ ولد يوم الإثنين في شهر ربيع الأول عام الفيل
“Para ulama sepakat bahwa Rasulullah ﷺ dilahirkan pada hari Senin, di bulan Rabiul Awal, pada Tahun Gajah.”[13]
Al imam Ibnu Rajab al Hanbali rahimahullah berkata: “Adapun mengenai bulan kelahiran beliau, para ulama juga berbeda pendapat. Ada yang mengatakan bahwa beliau dilahirkan pada bulan Ramadhan. Pendapat ini diriwayatkan dari Abdullah bin Amr, tetapi sanadnya tidak sahih.
Ada pula yang berpendapat bahwa beliau dilahirkan pada bulan Rajab, namun pendapat ini juga tidak sahih.
Pendapat lainnya menyatakan bahwa beliau dilahirkan pada bulan Rabiul Awal. Inilah pendapat yang masyhur di kalangan masyarakat, sampai-sampai Ibnu al Jauzi dan ulama lainnya menukil adanya kesepakatan mengenai hal tersebut. Namun, yang lebih tepat, pendapat ini merupakan pendapat mayoritas ulama.”[14]
Tahun kelahiran
Mayoritas ulama berpendapat bahwa kelahiran beliau terjadi pada Tahun Gajah. Al imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata:
ولد رسول الله ﷺ عام الفيل ..وهو المشهور عند الجمهور
“Rasulullah ﷺ lahir pada tahun gajah dan ini adalah pendapat yang terkenal dari mayoritas ulama.”[15]
Bahkan ada yang menyatakan lahirnya Nabi ﷺ pada tahun tersebut sebagai ijma’.[16] Pendapat ini didukung oleh penelitian modern yang dilakukan oleh para peneliti Muslim dan bahkan juga dari kalangan orientalis, hanya kemudian mereka berbeda dalam menyimpulkan Tahun Gajah itu terjadi pada tahun tahun 570 M atau 571 M.
Sebab perbedaan ini
Kelahiran Nabi ﷺ bukanlah peristiwa biasa. Ia merupakan salah satu nikmat Allah yang terbesar bagi umat ini. Dengan kelahiran beliau, Allah menghadirkan kepada manusia sosok yang kelak menjadi penutup para nabi, pembawa rahmat, dan utusan-Nya kepada seluruh umat manusia. Al imam Ibnu Rajab al Hanbali rahimahullah berkata:
فإن أعظم نعم الله على هذه الأمة إظهار محمد ﷺ لهم وبعثته وإرساله إليهم
“Sesungguhnya di antara sebesar-besarnya nikmat Allah kepada umat ini adalah ditampakkannya Muhammad ﷺ kepada mereka, serta diutus dan dikirimkannya beliau kepada mereka.”[17]
Al imam as Suyuthi rahimahullah juga berkata:
وأي نعمة أعظم من النعمة ببروز هذا النبي ﷺ الذي هو نبي الرحمة في ذلك اليوم
“Adakah kiranya nikmat yang lebih besar dari pada lahirnya Nabi ﷺ, yang merupakan Nabi pembawa rahmat, pada hari tersebut?”[18]
Dengan demikian, tidak diragukan bahwa kelahiran beliau ﷺ merupakan peristiwa yang sangat agung dan penuh keberkahan. Namun, keagungan suatu peristiwa tidak selalu berarti seluruh rincian sejarahnya tercatat secara pasti. Pada saat beliau dilahirkan, belum diketahui oleh manusia kedudukan dan misi besar yang telah Allah tetapkan bagi beliau. Karena itu, sebagian detail mengenai masa awal kehidupan beliau tidak mendapatkan perhatian pencatatan sebagaimana yang terjadi setelah beliau diangkat menjadi Rasul.
Hal inilah yang kemudian dapat membantu menjelaskan mengapa para ulama menemukan beberapa riwayat yang berbeda dalam menentukan tanggal dan waktu kelahiran Nabi ﷺ.
Syaikh Dr. Muhammad ath Thayyib an Najjar rahimahullah menjelaskan : “Barangkali rahasia di balik perbedaan pendapat ini adalah bahwa ketika beliau dilahirkan, tidak seorang pun memperkirakan bahwa beliau akan memiliki kedudukan dan pengaruh sebesar itu. Oleh sebab itu, sejak awal kehidupannya, beliau tidak menjadi pusat perhatian dan tidak banyak disorot.
Ketika Allah mengizinkan Rasulullah ﷺ untuk menyampaikan dakwahnya, empat puluh tahun setelah kelahirannya, orang-orang mulai kembali mengingat berbagai kenangan yang tersimpan dalam ingatan mereka tentang nabi ini. Mereka pun mulai bertanya tentang setiap hal, baik yang besar maupun yang kecil, mengenai perjalanan hidup beliau.
Hal tersebut terbantu oleh berbagai kisah yang diceritakan sendiri oleh Rasulullah ﷺ mengenai peristiwa-peristiwa yang beliau alami atau yang terjadi dalam perjalanan hidupnya sejak masa kecil. Demikian pula dengan berbagai riwayat yang disampaikan oleh para sahabat dan orang-orang yang dekat serta berhubungan dengan beliau tentang peristiwa-peristiwa tersebut.
Sejak saat itulah kaum muslimin mulai menghimpun dan memperhatikan segala sesuatu yang mereka dengar tentang sejarah Nabi mereka ﷺ, untuk kemudian menyampaikannya kepada generasi-generasi berikutnya sepanjang zaman.”[19]
Wallahu a’lam.
[1] Al Bidayah wa an Nihayah (3/378)
[2] As Sirah al Halabiyyah (1/84)
[3] Subul al Huda wa ar Rasyad (1/333)
[4] Subul al Huda wa ar Rasyad (1/333)
[5] Tarikh al Khamis (1/198)
[6] Lathaif al Ma’arif hlm. 185
[7] Khalasah Sair Sayyid al Basyar hlm. 24
[8] Nurul Yaqin fi Sirah Sayid al Mursalin hlm. 9
[9] Ar Rahiq al Makhtum hlm. 7
[10] Shifah ash Shafwah (1/22)
[11] Bidayah wa an Nihayah (3/374)
[12] Subul al Huda wa ar Rasyad (1/334)
[13] Shifah ash Shafwah (1/22)
[14] Lathaif al Ma’arif hlm. 184
[15] Al Bidayah wa an Nihayah (3/375)
[16] Zad al Ma’ad (1/76)
[17] Lathaif al Ma’arif hal. 173
[18] Al Hawi lil Fatawa (1/229)
[19] Al Qaul al Mubin fi Sirah Sayyid al Mursalin, hlm. 78.