Ustadz AST ada tiga kitab yang sering saya dengar, Mughni Muhtaj, Tuhfah al Muhtaj dan Nihayah al Muhtaj. Bisa disampaikan sedikit tentang kitab tersebut dan mungkin ciri khasnya? Syukran.
Jawaban
Oleh: KH. Ahmad Syahrin Thoriq
Ada sebuah hal yang cukup menarik dalam khazanah fiqih madzhab Syafi‘i. Terdapat tiga kitab yang namanya memiliki kemiripan, sama-sama menggunakan lafadz “al Muhtaj”, dan ketiganya sama-sama ditulis sebagai syarah atas kitab Minhaj at Thalibin karya Imam an Nawawi. Ketiga kitab tersebut adalah Tuhfatul Muhtaj karya Ibnu Hajar al Haitami, Nihayatul Muhtaj karya Syamsuddin ar Ramli, dan Mughni al Muhtaj karya al Khatib as Syirbini.
Kesamaan tersebut semakin menarik karena para pengarangnya hidup pada masa yang relatif berdekatan. Al Khatib as Syirbini wafat pada 977 H, Ibnu Hajar al Haitami pada 974 H, sedangkan ar Ramli wafat pada 1004 H. Ketiganya juga sama-sama berada dalam mata rantai perkembangan fiqih Syafi‘i muta’akhkhirin dan memberikan perhatian besar terhadap tahrir, tarjih, serta penjelasan pendapat yang mu‘tamad dalam madzhab.
Namun, perlu ditegaskan bahwa Minhaj at Thalibin tidak hanya memiliki tiga syarah tersebut. Sejak masa Imam an Nawawi hingga generasi ulama sesudahnya, kitab ini mendapatkan perhatian yang sangat besar dari para ulama. Di antara syarah yang terkenal adalah al Ibtihaj fi Syarh al Minhaj karya Taqiyuddin as Subki, Kanzu ar Raghibin karya Jalaluddin al Mahalli, an Najm al Wahhaj fi Syarh al Minhaj karya ad Dimyathi, ad Dibaj fi Taudhih al Minhaj karya az Zarkasyi, Qut al Muhtaj fi Syarh al Minhaj karya al Adzra‘i, serta Bidayat al Muhtaj dan Irsyad al Muhtaj karya Ibnu Qadhi Syuhbah. Selain itu masih terdapat banyak syarah lainnya.
Hal ini sebenarnya tidak mengherankan. Minhaj at Thalibin merupakan mukhtashar yang sangat padat. Imam an Nawawi menyusun kitab tersebut dengan meringkas al Muharrar karya Imam ar Rafi‘i, sekaligus melakukan sejumlah editing, penyempurnaan, dan penambahan. Karena kepadatannya, ungkapan-ungkapan di dalam Minhaj sering kali membutuhkan penjelasan lebih lanjut. Dari sinilah kemudian muncul tradisi panjang para ulama Syafi‘iyyah dalam mensyarah, meringkas, mentahqiq, dan memberikan hasyiyah terhadap kitab tersebut.
Menariknya lagi, meskipun ketiganya sama-sama mensyarah Minhaj at Thalibin, karakter masing-masing kitab tidak sepenuhnya sama. Mughni al Muhtaj tampil dengan gaya yang relatif sistematis dan fokus. Nihayatul Muhtaj menonjol dalam tahrir madzhab dan penyaringan pendapat yang diamalkan dalam madzhab. Sementara Tuhfatul Muhtaj dikenal dengan pembahasan yang lebih padat dan mendalam, terutama dalam sisi istidlal dan ta‘lil. Berikut ini adalah penjelasan singkat terkait ketiga kitab tersebut, silahkan disimak dengan baik.
1. Tuhfatul Muhtaj
Kitab Tuhfatul Muhtaj (تحفة المحتاج), yang sering pula disingkat menjadi at Tuhfah, merupakan salah satu syarah terpenting atas kitab Minhaj at Thalibin karya Imam an Nawawi dan yang “tertua” dari dua kitab Muhtaj yang akan disebutkan berikutnya. Nama “Tuhfah” bermakna persembahan atau hadiah, sedangkan “muhtaj” berarti orang yang membutuhkan. Dengan demikian, Tuhfatul Muhtaj dapat dimaknai sebagai “persembahan bagi orang yang membutuhkan”, yakni sebuah karya yang dipersembahkan untuk membantu para penuntut ilmu memahami fiqih madzhab Syafi‘i melalui Minhaj at Thalibin.
Pengarangnya adalah al imam Abu al ‘Abbas Ahmad bin Muhammad bin Ali bin Hajar al Haitami, yang wafat pada tahun 974 H. Ia merupakan salah seorang tokoh utama Syafi‘iyyah pada fase kedua setelah an Nawawi dan ar Rafi‘i rahimahullah. Al imam Haitami lahir di Mesir pada tahun 909 H dan kemudian menjadi salah satu ulama paling berpengaruh dalam tahrir dan penguatan pendapat madzhab Syafi‘i.
Tuhfatul Muhtaj mulai ditulis pada 12 Muharram 958 H di Makkah. Motivasi penulisannya berasal dari keinginan sang imam untuk memberikan khidmah terhadap karya-karya Imam an Nawawi, khususnya Minhaj at Thalibin. Dalam menyusun Tuhfatul Muhtaj, al imam al Haitami tidak hanya menjelaskan teks Minhaj secara literal. Ia memanfaatkan berbagai syarah dan hasyiyah sebelumnya, di antaranya al Ibtihaj karya Taqiyuddin as Subki, Kanzu ar Raghibin karya Jalaluddin al Mahalli, Hasyiyah Abdul Haqq, dan karya-karya lainnya. Ia juga memberikan pembahasan terhadap persoalan yang belum dijelaskan dalam syarah-syarah sebelumnya, disertai analisis dalil dan ta‘lil secara ringkas.
Salah satu fungsi penting Tuhfatul Muhtaj adalah melakukan tarjih terhadap berbagai persoalan yang sebelumnya menjadi ikhtilaf antara Imam an Nawawi dan Imam a Rafi‘i. Karena itu, kitab ini menjadi salah satu rujukan penting bagi orang yang ingin mengetahui pendapat mu‘tamad dalam madzhab Syafi‘i hingga masa Ibnu Hajar al Haitami.
Dari segi karakter pembahasan, Tuhfatul Muhtaj dikenal lebih mendalam dan padat. Pembahasannya juga memberikan perhatian besar terhadap istidlal dan ta‘lil.
Perhatian ulama terhadap Tuhfatul Muhtaj juga sangat besar. Kitab ini kemudian diberi berbagai mukhtashar, hasyiyah, serta karya khusus yang menjelaskan istilah-istilah yang digunakan oleh Ibnu Hajar. Di antara hasyiyah yang paling terkenal adalah Hasyiyah al ‘Abbadi dan Hasyiyah al Syirwani. Adapun karya yang secara khusus membahas istilah-istilah Tuhfah antara lain ‘Uqud al Durar fi Bayani Mushthalahati Tuhfati Ibni Hajar karya Muhammad bin Sulaiman al Kurdi.
2. Mughni al Muhtaj
Nama lengkap kitab ini adalah Mughni al Muhtaj ila Ma‘rifati Ma‘ani Alfazh al Minhaj (مغني المحتاج إلى معرفة ألفاظ المنهاج). Nama tersebut menggambarkan tujuan penulisannya, yaitu membantu para penuntut ilmu memahami ungkapan-ungkapan Minhaj at Thalibin, menjelaskan maksudnya, serta mengungkap kandungan hukum yang terdapat di dalamnya.
Pengarangnya adalah al imam Syamsuddin Muhammad bin Ahmad as Syirbini (الشربيني), yang lebih dikenal dengan julukan al Khatib as Syirbini. Ia berasal dari Syirbin, sebuah daerah yang sekarang berada di wilayah Daqahliyyah, Mesir. Di antara guru-gurunya adalah Syihabuddin ar Ramli dan Ahmad al Burullusi. Keluasan ilmunya tampak dari diberikannya izin untuk mengajar dan berfatwa ketika sebagian gurunya masih hidup. Al Khatib as Syirbini wafat di Kairo pada tahun 977 H.
Adapun penulisan Mughni al Muhtaj dimulai sekitar tahun 959 H. Dalam menyusun Mughni al Muhtaj, as Syirbini tidak hanya menjelaskan Minhaj at Thalibin secara langsung, tetapi juga menelaah berbagai syarah dan hasyiyah yang telah ditulis sebelumnya. Ia mengambil manfaat dari karya-karya Syaikhul Islam Zakariyya al Anshari, Syihabuddin ar Ramli, serta syarah Ibnu Syuhbah atas Minhaj at Thalibin. Dengan demikian, kitab ini menjadi salah satu karya yang menghimpun dan merangkum berbagai pembahasan ulama Syafi‘iyyah sebelum masa penulisnya.
Metode sang imam dalam kitab ini cukup sistematis. Ia berusaha menjelaskan lafadz-lafadz Minhaj at Thalibin yang masih samar, menerangkan maksud dari ungkapan yang ringkas, serta menguraikan hukum-hukum yang terkandung di dalamnya. Dalam menjelaskan suatu hukum, ia juga menyebutkan dalil dan ta‘lil yang berkaitan dengannya. Apabila terdapat perbedaan pendapat di antara ashhab al wujuh maupun ulama Syafi‘iyyah muta’akhkhirin, ia menjelaskan pendapat yang dianggap mu‘tamad. Hadits-hadits yang membutuhkan takhrij juga terkadang disertai penjelasan mengenai sumbernya.
Salah satu karakteristik Mughni al Muhtaj adalah penyajiannya yang relatif ringkas dan fokus. Sang penulis sendiri menghendaki kitabnya berada dalam ukuran yang lengkap namun juga tidak terlalu berat. Karena itu, pembahasannya tidak dimaksudkan untuk menjadi syarah yang terlalu panjang, tetapi juga tidak melewatkan hal-hal penting yang perlu diuraikan. Beliau berusaha mengumpulkan hal-hal yang diperlukan untuk memahami Minhaj at Thalibin tanpa terlalu banyak bertele-tele.
3. Nihayah al Muhtaj
Kitab ini memiliki nama lengkap Nihayatul Muhtaj ila Syarhi al Minhaj (نهاية المحتاج إلى شرح المنهاج) merupakan salah satu syarah terpenting atas kitab Minhaj at Thalibin karya Imam an Nawawi. Nama “Nihayah” bermakna “ujung penghabisan”, yang mengisyaratkan harapan pengarang agar kitab ini menjadi rujukan yang mencukupi bagi orang yang ingin mendalami fiqih madzhab Syafi‘i melalui Minhaj at Thalibin.
Pengarangnya adalah al imam Syamsuddin Muhammad bin Ahmad bin Hamzah ar Ramli, salah seorang muharrir madzhab Syafi‘i pada fase kedua bersama al imam Ibnu Hajar al Haitami rahimahumallah. Beliau dikenal sebagai rujukan fatwa masyarakat Mesir pada masanya dan mendapat julukan “as Syafi‘i as Shaghir” atau Syafi’I kecil karena kedalaman penguasaannya terhadap madzhab Syafi‘i.
Nihayatul Muhtaj memiliki kedudukan yang sangat penting dalam fiqih Syafi‘i dan disejajarkan dengan kitab Tuhfatul Muhtaj karya al imam Ibnu Hajar al Haitami. Keduanya menjadi rujukan utama bagi pembahasan fiqih Syafi‘i tingkat lanjut, sebelum kemudian dilengkapi dengan berbagai hasyiyah. Bahkan sejumlah ulama dari Syam datang ke Mesir untuk mempelajari Nihayatul Muhtaj secara langsung.
Dari segi metode, al imam ar Ramli menjadikan kitab ini sebagai syarah mutawassith, yaitu syarah dengan pembahasan pertengahan. Ia menegaskan bahwa dirinya berusaha membatasi pembahasan pada pendapat yang diamalkan dalam madzhab dan tidak terlalu memperpanjang pembahasan mengenai pendapat-pendapat yang lemah. Tujuannya adalah menjaga ringkasnya kitab.
Salah satu keistimewaan Nihayatul Muhtaj adalah kandungan tahrir madzhab yang dilakukan penyusunnya. Kitab ini merupakan hasil penyaringan dari berbagai karya ulama Syafi‘iyyah muta’akhkhirin, terutama syarah-syarah Minhaj at Thalibin dan beberapa karya fiqih lainnya. Di antara kitab yang paling banyak menjadi sumbernya adalah Kanzu ar Raghibin, Tuhfatul Muhtaj, dan Mughni al Muhtaj.
Ar Ramli juga menjelaskan lafadz-lafadz Imam an Nawawi yang masih samar, menguraikan kandungan maknanya, serta menyajikan hukum-hukum fiqih secara terperinci. Pada bagian tertentu, pembahasannya dapat menjadi cukup panjang apabila diperlukan. Ia juga memasukkan kaidah fiqih, beberapa faedah fiqih, dalil-dalil hukum secara ringkas, serta sejumlah fatwa yang bersumber dari ayahnya, Syihabuddin ar Ramli, dan para mufti lainnya.
Nihayatul Muhtaj kemudian menjadi salah satu karya penting dalam proses tahrir madzhab Syafi‘i. Karena itu, ketika membandingkannya dengan Tuhfatul Muhtaj, tidak tepat jika sekadar melihat banyaknya nukilan dari salah satu kitab sebagai ukuran keunggulan. Sumber yang Anda berikan juga menekankan bahwa masing-masing memiliki kelebihan dan karakteristik tersendiri, dan keduanya sama-sama merupakan karya besar dua muharrir madzhab Syafi‘i pada fase kedua.
Dalam perkembangannya, Nihayatul Muhtaj juga memiliki sejumlah hasyiyah penting, terutama Hasyiyah as Syabramallisi dan Hasyiyah ar Rasyidi yang juga dikenal dengan nama Hasyiyah al Maghribi.
Adapun dari sisi penerbitan, kitab ini telah dicetak oleh sejumlah penerbit. Salah satu edisi Dar al Fikr diterbitkan dalam delapan jilid disertai Hasyiyah al Syabramallisi dan Hasyiyah ar Rasyidi. Sementara edisi Dar Ihya’ at Turats al ‘Arabi, Beirut, diterbitkan dalam delapan jilid dengan ketebalan sekitar 2.742 halaman melalui tahqiq Ahmad ‘Azu ‘Inayah.
Dengan demikian, Nihayatul Muhtaj dapat diposisikan sebagai salah satu rujukan utama untuk memahami fiqih Syafi‘i tingkat lanjut. Kekuatan utamanya bukan semata-mata pada ketebalan kitab, tetapi pada usaha ar Ramli melakukan tahrir terhadap pendapat-pendapat madzhab Syafi’i dan menyajikan qaul yang dianggap mu‘tamad secara sistematis.
Wallahu a’lam.