SAHABAT PERLU DIRAWAT

23 Aug 2026 Admin Article

Oleh : KH. Ahmad Syahrin Thoriq

            Dalam kehidupan ini kita membutuhkan orang-orang yang memiliki hubungan yang khusus yang sama sekali berbeda dengan interaksi kita dengan manusia pada umumnya, sebuah interaksi yang melampaui urusan kepentingan, keuntungan atau hanya sekadar basa-basi semata. Kita membutuhkan orang-orang yang kepada mereka kita dapat mencurahkan kegelisahan dan kesedihan kita, orang-orang yang membuat kita merasa nyaman, serta dapat menikmati kebersamaan, percakapan, kelembutan, dan kehangatan perasaan bersama mereka.

            Kita membutuhkan orang-orang yang memberikan nasihat dan pertimbangan kepada kita, serta menunjukkan kepada kita kekurangan dan kelemahan yang ada pada diri sendiri. Kita membutuhkan orang-orang yang bersedia memaklumi kesalahan dan kekhilafan, dan tidak melampiaskan kebencian karena hal tersebut.  Mereka inilah yang kita sebut dengfan sahabat dan saudara karena Allah.

            Seorang sahabat itu lebih berarti dan bernilai dari semua harta benda berharga seperti rumah atau kendaraan mewah yang kita miliki.  Maka ketika untuk rumah dan kendaraan seseorang rela mengeluarkan biaya untuk merawatnya, maka dibutuhkan juga effort, tenaga dan usaha untuk menjaga persahabatan yang ada.

            Hubungan yang baik tidak selalu bertahan hanya karena pernah dibangun dengan ketulusan. Ia membutuhkan komunikasi, kepedulian, saling mengunjungi, saling membantu, memaklumi kekurangan, serta kesediaan hadir ketika seorang sahabat membutuhkan. Sebab, kedekatan yang tidak dirawat lambat laun dapat berubah menjadi jarak, dan hubungan yang dahulu begitu erat bisa perlahan menjadi asing. Al imam Hasan Bin Atiyah rahimahullah berkata:

امش ميلا وعد مريضا  وامش ميلين وأصلح بين اثنين وامش ثلاثة وزر في الله

“Dahulu dikatakan: berjalanlah sejauh satu mil untuk menjenguk orang sakit, berjalanlah dua mil untuk mendamaikan dua orang, dan berjalanlah sejauh tiga mil untuk mengunjungi seorang saudara karena Allah.”[1]

Al imam Syafi’i rahimahullah berkata:

إذا كان لك صديق فشد يديك به، فإن اتخاذ الصديق صعب ومفارقته سهل. وقد كان الرجل الصالح يشبه سهولة مفارقة الصديق بصبي يطرح في البئر حجرا عظيما فيسهل طرحه عليه، ويصعب إخراجه على الرجال البرك

“Jika engkau memiliki seorang sahabat, maka peganglah dia erat-erat dan jagalah persahabatan dengannya. Sebab, mendapatkan seorang sahabat itu sulit, sedangkan berpisah darinya sangat mudah.

Orang saleh dahulu pernah menggambarkan betapa mudahnya berpisah dengan seorang sahabat dengan perumpamaan seorang anak kecil yang melemparkan batu besar ke dalam sumur. Melemparkannya ke dalam sumur sangat mudah baginya, tetapi mengeluarkannya kembali merupakan pekerjaan yang sulit, bahkan bagi orang-orang dewasa yang kuat.”[2]

            Nabi kita adalah teladan terbaik dalam kehidupan ini termasuk dalam masalah dunia persahabatan. Di mana beliau untuk para sahabat-sahabatnya rela berkorban apapun, bahkan beliau dikenal tidak pernah berkata tidak saat diminta bantuannya.

Pantas saja saat beliau wafat, jumlah sahabat beliau tidak kurang dari 100.000 orang. Mereka ini bukan hanya manusia-manusia yang sekadar mengenal lalu menghormati sang Nabi, tapi memiliki ikatan yang sangat kuat dan erat dengan beliau , yang rela mengorbankan harta, kedudukan, bahkan nyawa untuk persahabatan tersebut.

            Lalu sekarang hitunglah berapa sahabat yang kita miliki ? Coba perhatikan ada berapa banyak manusia di sekitar kita orang-orang yang siap berkorban apapun bahkan nyawanya untuk membela kita, yakni pihak yang kita sebut dia dengan sahabat.

            Bukan berapa banyak orang yang mengenal nama kita. Bukan pula berapa banyak orang yang dapat kita sapa ketika bertemu. Tetapi berapa banyak orang yang benar-benar memiliki hubungan persaudaraan dengan kita? Berapa banyak orang yang bersedia hadir ketika kita membutuhkan? Dan sebaliknya, berapa banyak orang yang dapat merasakan bahwa kita juga akan hadir untuk mereka ketika mereka berada dalam kesulitan?

            Karena itu, para ulama terdahulu memberikan gambaran yang sangat tinggi tentang makna persaudaraan. Bagi mereka, persaudaraan bukan sekadar ucapan atau pengakuan, tetapi memiliki konsekuensi nyata dalam ikatan batin dalam hubungan. Pernah seorang laki-laki datang kepada Abu Hurairah dan berkata, “Wahai Abu Hurairah, sesungguhnya aku ingin menjadikanmu sebagai saudaraku karena Allah.”

Abu Hurairah bertanya, “Apakah engkau mengetahui apa hak persaudaraan?”

Laki-laki itu menjawab, “Tidak. Jelaskan kepadaku.”

Abu Hurairah berkata, “Di antara hak persaudaraan adalah bahwa engkau tidak merasa lebih berhak atas dirham dan dinarmu daripada aku.”

Laki-laki itu berkata, “Aku belum sampai pada tingkatan seperti itu.”

Abu Hurairah berkata,

فإليك عني

“Kalau begitu, pergilah dariku.”[3]

            Demikian pula diriwayatkan bahwa Abu Ja'far pernah berkata kepada para sahabatnya:

أيدخل أحدكم يده في جيب أخيه فيأخذ من ماله ما يريد؟

“Apakah salah seorang di antara kalian ada yang tanpa sungkan memasukkan tangannya ke kantong saudaranya, lalu mengambil dari hartanya apa yang dia kehendaki?”

Mereka menjawab, “Tidak.”

Abu Ja'far berkata, “Kalau begitu, kalian bukanlah saudara sebagaimana yang kalian klaim.”[4]

Semoga bermanfaat.

 

[1] Az Zuhud li Hanad bin Sari (1/227)

[2] Holyah Aulia (9/122)

[3] Subulus Salam Min Shahih Sirah Sayyidil Anam (1/272)

[4] Mukhtashar Minhaj al Qashidn hlm. 100