Oleh: KH. Ahmad Syahrin Thoriq
Kemuliaan seseorang tidak hanya diukur dari keluasan ilmu, kedudukan, kekayaan, atau kehormatan yang tampak di hadapan manusia. Akan tetapi, yang benar-benar menunjukkan kualitas batin seseorang adalah bagaimana ia memperlakukan orang lain. Terutama ketika berhadapan dengan kesalahan, perbedaan, atau perselisihan.
Islam mengajarkan agar seorang mukmin memiliki hati yang lapang, mudah menumbuhkan kasih sayang, dan tidak tergesa-gesa memutuskan tali persaudaraan apalagi untuk saling membenci dan menyalakan bara permusuhan. Allah Ta'ala berfirman:
ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ
"Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antara engkau dan dia terdapat permusuhan seakan-akan menjadi teman yang sangat setia." (QS. Fushshilat: 34)
Di antara tanda keluhuran akhlaq yang ada pada diri seseorang adalah mudahnya ia merajut hubungan persaudaraan dan tidak bermudah-mudah dalam membenci sesuatu. Al imam asy-Sya'bi rahimahullah pernah memberikan perumpamaan yang sangat indah tentang perbedaan karakter manusia dalam menjaga hubungan dengan sesamanya. Beliau berkata:
إن كرام الناس: أسرعهم مودةً، وأبطؤهم عداوةً، مثل الكوب من الفضة، يبطئ الانكسار، ويسرع الانجبار. وإن لئام الناس: أبطؤهم مودةً، وأسرعهم عداوةً، مثل الكوب من الفخار، يسرع الانكسار، ويبطيء الانجبار
"Sesungguhnya manusia yang mulia itu adalah yang cepat menyayangi namun paling lambat dalam memusuhi. Ia seperti gelas yang terbuat dari perak; sulit untuk pecah, namun cepat untuk diperbaiki. Sedangkan manusia yang hina adalah yang paling lambat dalam menyayangi, namun begitu cepat ketika memusuhi; seperti gelas yang terbuat dari tembikar, cepat pecah, dan sulit untuk diperbaiki."[1]
Demikian juga al imam Abu Hatim rahimahullah menyampaikan nasehatnya:
الكريم من أعطاه شكره ومن منعه عذره، ومن قطعه وصله، ومن وصله فضله، ومن سأله أعطاه، ومن لم يسأله ابتدأه، وإذا استضعف أحدًا رحمه، وإذا استضعفه أحد رأى الموت أكرم له منه، واللئيم بضد ما وصفنا من الخصال كلها
"Orang yang mulia ialah orang yang berterima kasih kepada siapa saja yang berbuat baik kepadanya. Bila ada yang tidak dapat memberinya sesuatu, ia memakluminya. Bila ada yang memutus hubungan dengannya, justru ia menyambungnya. Bila ada yang menjalin hubungan dengannya, ia membalasnya dengan kebaikan yang lebih besar. Bila diminta, ia memberi. Bahkan kepada orang yang tidak meminta pun ia berinisiatif memberi. Bila melihat orang yang lemah, ia menyayanginya. Dan apabila dirinya diperlakukan dengan hina, ia lebih memilih kematian daripada hidup dalam kehinaan. Adapun orang yang hina, maka sifatnya adalah kebalikan dari seluruh sifat tersebut."[2]
Namun, akhlak yang mulia seperti ini tidak lahir begitu saja. Ia memerlukan latihan untuk menundukkan ego, melapangkan dada, serta membiasakan diri berbaik sangka kepada sesama. Karena itu, janganlah kita menjadi pribadi yang mudah tersinggung, gemar berprasangka buruk, atau tergesa-gesa menaruh kebencian hanya karena kesalahan yang sebenarnya masih mungkin dimaklumi. Hati yang mulia selalu lebih dahulu mencari alasan untuk memaafkan daripada mencari pembenaran untuk membenci. Al imam Abu Qilabah rahimahullah berkata:
إذا بلغك عن أخيك شيء تكرهه فالتمس له العذر جهدك، فإن لم تجد له عذرا فقل في نفسك لعل لأخي عذرا لا أعلمه
"Apabila sampai kepadamu suatu berita tentang saudaramu yang engkau benci, maka berusahalah semaksimal mungkin untuk mencarikan alasan baginya. Jika engkau tidak menemukan alasan, maka katakanlah dalam hatimu, 'Barangkali saudaraku mempunyai alasan yang belum aku ketahui.'"[3]
Semoga Allah Ta'ala menganugrahkan kepada kepada setiap kita jiwa yang memiliki kelapangan dada lagi pemaaf, serta menjauhkan kita dari sifat mudah membenci dan gemar menyimpan dendam, yang itu semua menjadi sebab rusaknya ukhwah persaudaraan di tengah-tengah kaum muslimin.
Semoga bermanfaat.