KEUTAMAAN SAHABAT NABI

29 Jul 2026 Admin Article

Oleh: KH. Ahmad Syahrin Thoriq

            Pada bab ini akan dipaparkan berbagai dalil dari al Qur'an, hadits Nabi , serta penjelasan para ulama mengenai keutamaan dan kedudukan agung para sahabat. Dengan memahami hal tersebut, diharapkan tumbuh rasa cinta, penghormatan, dan sikap adil terhadap generasi yang telah Allah pilih sebagai pembawa cahaya Islam kepada seluruh umat manusia.

  1. Mereka adalah manusia yang dipilih oleh Allah

            Keutamaan para sahabat Rasulullah berawal dari sebuah kenyataan yang tidak dimiliki oleh generasi mana pun sesudah mereka, yaitu bahwa Allah sendiri yang memilih mereka untuk menjadi pendamping Nabi-Nya yang terakhir. Mereka bukanlah orang-orang yang secara kebetulan hidup semasa dengan Rasulullah , melainkan manusia-manusia pilihan yang dipersiapkan oleh Allah untuk menerima wahyu, menyaksikan turunnya syariat, mendampingi perjuangan Rasulullah , serta memikul amanah menyampaikan agama ini kepada generasi setelah mereka.

            Sebagaimana Allah memilih para nabi dan rasul dari kalangan manusia untuk mengemban risalah-Nya, demikian pula Allah memilih para sahabat untuk menjadi penolong, pembela, dan penerus perjuangan Rasulullah . Oleh karena itu, kedudukan mereka merupakan kedudukan yang sangat istimewa. Setelah derajat kenabian, tidak ada martabat yang lebih tinggi daripada kedudukan para sahabat Nabi .

Allah mengabadikan kemuliaan mereka dalam firman-Nya,

مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا...

"Muhammad adalah utusan Allah, dan orang-orang yang bersama beliau bersikap keras terhadap orang-orang kafir, tetapi penuh kasih sayang sesama mereka. Engkau melihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia dan keridaan Allah..." (QS. al Fath: 29).

            Para ahli tafsir menjelaskan bahwa frasa "وَالَّذِينَ مَعَهُ" bersifat umum, mencakup seluruh sahabat Rasulullah , baik mereka yang lama maupun sebentar mendampingi beliau. Dengan demikian, ayat ini merupakan pujian Allah kepada seluruh generasi sahabat.

Keistimewaan mereka semakin tampak karena Allah tidak hanya menyebut mereka dalam al-Qur'an, tetapi juga telah menggambarkan sifat-sifat mereka dalam kitab-kitab samawi terdahulu.

ذَلِكَ مَثَلُهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَمَثَلُهُمْ فِي الْإِنْجِيلِ...

"Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil..." (QS. al Fath: 29).

Hal ini menunjukkan bahwa kemuliaan para sahabat telah diketahui bahkan sebelum mereka dilahirkan. Allah telah menetapkan bahwa mereka akan menjadi generasi pendamping penutup para nabi dan rasul.

Sayidina Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu berkata :

إن الله نظر فى قلوب العباد، فوجد قلب محمد ﷺ خير قلوب العباد، فاصطفاه لنفسه وابتعثه برسالته، ثم نظر فى قلوب العباد بعد قلب محمد فوجد قلوب أصحابه خير قلوب العباد، فجعلهم وزراء نبيه ﷺ يقاتلون عن دينه

 “Sesungguhnya Allah melihat ke dalam hati para hamba-Nya, lalu Dia dapati hati Muhammad saw sebagai sebaik-baik hati para hamba. Maka Dia memilihnya untuk diri-Nya dan mengutusnya dengan risalah-Nya. Kemudian Allah melihat ke dalam hati para hamba setelah hati Muhammad, lalu Dia dapati hati para sahabatnya sebagai sebaik-baik hati para hamba. Maka Dia menjadikan mereka para pembantu Nabi-Nya saw, yang berperang membela agama-Nya.” [1]

            Karena itulah para ulama Ahlussunnah sepakat bahwa tidak ada seorang pun setelah para nabi yang dapat menyamai kedudukan para sahabat. Imam Ibnu Hazm rahimahullah berkata,

وأما الصحابة رضي الله عنهم فلا سبيل إلى أن يلحق أقلهم درجة أحد من أهل الأرض.

"Adapun para sahabat radhiyallahu 'anhum, maka tidak mungkin seorang pun dari penduduk bumi dapat menyamai kedudukan sahabat yang paling rendah sekalipun."[2]

Senada dengan itu, Imam al Qurthubi rahimahullah berkata,

من صحب النبي ﷺ ورآه ولو مرةً في عمره أفضل ممن يأتي بعده، وأن فضيلة الصحبة لا يعدلها عمل.

"Siapa saja yang pernah menemani Nabi dan melihat beliau meskipun hanya sekali seumur hidupnya, maka ia lebih utama daripada siapa pun yang datang setelahnya. Keutamaan sebagai sahabat tidak dapat disamai oleh amal apa pun."[3]

            Oleh sebab itu, kemuliaan para sahabat bukanlah hasil penilaian manusia, melainkan kemuliaan yang Allah tetapkan dan Rasul-Nya tegaskan. Mereka adalah generasi pilihan yang dipilih untuk mengemban amanah terbesar setelah para nabi, yaitu menjaga dan menyampaikan agama Islam kepada seluruh umat manusia. Karena itu, mencintai mereka, menghormati mereka, serta mengikuti jejak mereka merupakan bagian dari kesempurnaan iman dan konsekuensi dari kecintaan kepada Rasulullah .

  1. Generasi terbaik umat ini

            Selain dipilih Allah untuk mendampingi Rasulullah , para sahabat juga merupakan generasi terbaik yang pernah dimiliki umat Islam. Predikat ini bukan sekadar pujian dari manusia, tetapi merupakan kesaksian Allah dan Rasul-Nya . Mereka menjadi generasi teladan yang dijadikan ukuran bagi umat-umat sesudahnya dalam keimanan, pengorbanan, dan keteguhan memegang agama.

Allah berfirman,

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ

"Kalian adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, karena kalian menyuruh kepada yang makruf, mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah." (QS. Ali Imran: 110)

            Meskipun ayat ini bisa saja dimaknai mencakup seluruh umat Muhammad yang memenuhi sifat-sifat tersebut, banyak ulama tafsir menjelaskan bahwa generasi yang pertama kali masuk dalam kandungan ayat ini adalah para sahabat Rasulullah . Mereka adalah orang-orang yang paling sempurna dalam merealisasikan amar makruf, nahi mungkar, dan keimanan kepada Allah. Al imam al Qurthubi rahimahullah berkata:

قيل: اتفق المفسرون على أنها واردة في أصحاب رسول الله ﷺ.

"Dikatakan bahwa para ahli tafsir telah bersepakat bahwa ayat ini turun mengenai para sahabat Rasulullah ."

Al imam Ibnu Hajar al Asqalani rahimahullah berkata:

والخطاب الشفهي لصحابة رسول الله صلى الله عليه وسلم ومن حضر نزول الوحي، وهو يشمل جميعهم،

“Khitab secara langsung dalam ayat ini ditujukan kepada para sahabat Rasulullah dan orang-orang yang menyaksikan turunnya wahyu, sehingga mencakup seluruh sahabat.”[4]

Al imam Ibnu Abi Hatim dan ath Thabari meriwayatkan melalui jalur as Suddi, bahwa Umar radhiyallahu 'anhu berkata:

لو شاء الله لقال أنتم خير أمة فكنا كلنا، ولكن قال "كنتم"، فهي خاصة لأصحاب محمد ومن صنع مثل صنيعهم

“Seandainya Allah menghendaki, niscaya Dia akan berfirman: "Kalian adalah umat terbaik," sehingga kita semua termasuk di dalamnya. Akan tetapi Allah berfirman: "Kalian dahulu adalah umat terbaik", maka ayat ini khusus ditujukan kepada para sahabat Muhammad dan kepada siapa saja yang berbuat seperti perbuatan mereka.”[5]

            Hal senada juga diriwayatkan dari sejumlah ahli tafsir yang menjadikan para sahabat sebagai contoh paling sempurna dari predikat "umat terbaik", sementara generasi setelah mereka memperoleh bagian dari keutamaan tersebut sejauh mereka mengikuti jejak para sahabat. Predikat sebagai generasi terbaik itu kemudian ditegaskan oleh Rasulullah dalam sabdanya,

خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ

"Sebaik-baik manusia adalah generasiku, kemudian generasi setelah mereka, kemudian generasi setelah mereka." (HR. Bukhari dan Muslim)

            Yang dimaksud dengan "generasiku"  dalam hadits ini adalah para sahabat Nabi . Mereka adalah manusia terbaik setelah para nabi dan rasul. Keutamaan tersebut lahir karena mereka hidup bersama Rasulullah , menyaksikan turunnya wahyu, belajar langsung dari beliau, serta menjadi orang-orang pertama yang mengorbankan jiwa dan harta demi tegaknya agama Islam. Oleh karena itu, para ulama Ahlussunnah sepakat bahwa tidak ada generasi setelah para sahabat yang dapat menandingi keutamaan mereka. Imam an Nawawi rahimahullah berkata,

الصحابة كلهم عدول من لابس الفتن وغيرهم بإجماع.

"Seluruh sahabat adalah orang-orang yang adil (terpercaya), baik yang terlibat dalam berbagai fitnah maupun yang tidak, berdasarkan ijmak kaum muslimin."

Imam al Qurthubi rahimahullah juga menegaskan,

من صحب النبي  ﷺ ورآه ولو مرة في عمره أفضل ممن يأتي بعده، وأن فضيلة الصحبة لا يعدلها عمل.

"Siapa saja yang pernah menemani Nabi dan melihat beliau walaupun hanya sekali seumur hidupnya, maka ia lebih utama daripada siapa pun yang datang sesudahnya. Keutamaan sebagai sahabat tidak dapat disamai oleh amal apa pun."[6]

Dalam sebuah hadits disebutkan:

أَنْتُمْ تُوفُونَ سَبْعِينَ أُمَّةً، أَنْتُمْ خَيْرُهَا وَأَكْرَمُهَا عَلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ

"Kalian akan menyempurnakan jumlah tujuh puluh umat. Kalian adalah umat yang terbaik di antara semuanya dan yang paling mulia di sisi Allah 'Azza wa Jalla." (HR. Hakim)[7]

Dan hadits lainnya:

إِنَّ اللَّهَ اخْتَارَ أَصْحَابِي عَلَى الثَّقَلَيْنِ سِوَى النَّبِيِّينَ وَالْمُرْسَلِينَ

 “Sesungguhnya Allah telah memilih para sahabatku di atas seluruh makhluk yang dibebani syariat (manusia dan jin), kecuali para nabi dan para rasul.” (HR. Bazar)[8]

            Predikat sebagai generasi terbaik bukanlah semata-mata penghormatan atas jasa sejarah, melainkan pengakuan terhadap kualitas iman, ilmu, akhlak, dan pengorbanan mereka. Oleh sebab itu, Rasulullah menjadikan generasi sahabat sebagai tolok ukur keutamaan umat ini, sementara Allah menjadikan mereka teladan yang patut diikuti oleh setiap muslim hingga Hari Kiamat.

3. Para Sahabat Menjadi Standar Kebenaran

Kemuliaan para sahabat tidak hanya terletak pada kedudukan mereka sebagai generasi terbaik umat ini, tetapi juga pada kenyataan bahwa Rasulullah menjadikan mereka sebagai tolok ukur kebenaran dalam memahami dan mengamalkan ajaran Islam. Hal ini menunjukkan bahwa pemahaman, keyakinan, dan praktik keagamaan para sahabat merupakan rujukan utama bagi setiap muslim yang menginginkan keselamatan.

            Ketika Rasulullah mengabarkan bahwa umat Islam kelak akan terpecah menjadi banyak golongan, para sahabat bertanya tentang kelompok yang akan selamat dari perpecahan tersebut. Beliau menjawab,

مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِي

"Yaitu mereka yang mengikuti jalan yang aku tempuh bersama para sahabatku."(HR. at Tirmidzi dan lainnya)

            Dalam hadits, Rasulullah tidak hanya menyebut dirinya sebagai tolok ukur kebenaran, tetapi juga menyandingkan para sahabat dengan dirinya dalam perkara tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa pemahaman para sahabat terhadap al Qur'an dan Sunnah merupakan pemahaman yang benar dan menjadi standar bagi generasi setelah mereka.

            Oleh karena itu, Ahlussunnah wal Jama'ah selalu menjadikan pemahaman para sahabat sebagai landasan dalam memahami nash-nash syariat. Sebab mereka adalah orang-orang yang menyaksikan turunnya wahyu, mengetahui sebab-sebab turunnya ayat, memahami maksud sabda Nabi secara langsung, serta mendapatkan bimbingan dan koreksi dari beliau ketika terjadi kekeliruan. Karena itulah Allah memerintahkan umat ini agar mengikuti jalan mereka. Allah berfirman,

وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ...

"Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama masuk Islam dari kalangan Muhajirin dan Anshar serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya." (QS. at Taubah: 100)

            Perhatikan bahwa Allah tidak hanya memuji kaum Muhajirin dan Anshar, tetapi juga memberikan pujian kepada orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik. Ayat ini menunjukkan bahwa keselamatan tidak hanya diraih dengan mengaku mencintai para sahabat, tetapi juga dengan mengikuti metode beragama dan jalan hidup mereka. Karena itu, para ulama menjadikan manhaj sahabat sebagai tolok ukur dalam membedakan antara kebenaran dan penyimpangan. Imam Malik rahimahullah pernah berkata,

لن يصلح آخر هذه الأمة إلا بما صلح به أولها.

"Umat ini tidak akan menjadi baik pada generasi akhirnya kecuali dengan apa yang telah menjadikan baik generasi awalnya."[9]

Demikian pula Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu berkata,

من كان منكم مستنًّا فليستنَّ بمن قد مات، فإن الحي لا تؤمن عليه الفتنة، أولئك أصحاب محمد ﷺ كانوا أفضل هذه الأمة، وأبرها قلوبًا، وأعمقها علمًا، وأقلها تكلفًا...

"Barang siapa di antara kalian ingin mengikuti suatu jalan, hendaklah ia mengikuti orang-orang yang telah wafat, karena orang yang masih hidup tidak aman dari fitnah. Mereka adalah para sahabat Muhammad . Mereka adalah umat ini yang paling utama, paling bersih hatinya, paling dalam ilmunya, dan paling sedikit sikap memaksakan diri..."

            Oleh sebab itu, para ulama Ahlussunnah sepanjang zaman menjadikan manhaj para sahabat sebagai standar dalam memahami tuntunan Al-Qur'an dan Sunnah. Mengikuti mereka tentu bukanlah bentuk fanatisme kepada individu tertentu atau kejumudan dalam beragama, melainkan bentuk ketaatan kepada petunjuk Rasulullah yang telah menjadikan mereka sebagai teladan bagi seluruh umat hingga Hari Kiamat.

4. Para Sahabat Adalah Penjaga Agama Ini

            Allah tidak hanya memilih para sahabat untuk mendampingi Rasulullah , tetapi juga mengembankan kepada mereka amanah yang sangat besar, yaitu menjaga dan menyampaikan agama Islam kepada generasi sesudahnya. Melalui merekalah Al-Qur'an diwariskan, Sunnah Rasulullah diriwayatkan, syariat dipahami, dan ajaran Islam tersebar ke seluruh penjuru dunia. Dengan kata lain, para sahabat merupakan mata rantai pertama dalam transmisi ilmu dan risalah Islam. Allah berfirman,

وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِّتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا

"Demikianlah Kami telah menjadikan kamu sebagai umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas seluruh manusia, dan agar Rasul menjadi saksi atas kamu." (QS. al Baqarah: 143)

            Allah juga berfirman,

وَمَن يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِن بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَىٰ وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّىٰ وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ ۖ وَسَاءَتْ مَصِيرًا

"Barang siapa menentang Rasul setelah jelas baginya petunjuk dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa dalam kesesatan yang telah dipilihnya dan Kami masukkan ia ke dalam Neraka Jahannam. Itulah seburuk-buruk tempat kembali." (QS. an Nisa': 115)

            Para ulama telah menjelaskan bahwa yang pertama kali dimaksud dengan "jalan orang-orang mukmin" dalam ayat ini adalah jalan para sahabat Rasulullah . Sebab merekalah orang-orang mukmin yang hidup bersama beliau dan menerima bimbingan beliau secara langsung. Oleh karena itu, mengikuti jalan mereka merupakan bagian dari mengikuti petunjuk Rasulullah .[10] Kedudukan para sahabat sebagai penjaga agama dijelaskan dengan sangat tegas oleh Imam Abu Zur'ah ar Razi rahimahullah. Beliau berkata,

إذا رأيت الرجل ينتقص أحدًا من أصحاب رسول الله ﷺ فاعلم أنه زنديق، وذلك أن الرسول ﷺ عندنا حق، والقرآن حق، وإنما أدى إلينا هذا القرآن والسنن أصحاب رسول الله ﷺ، وإنما يريدون أن يجرحوا شهودنا ليبطلوا الكتاب والسنة

"Apabila engkau melihat seseorang mencela salah seorang sahabat Rasulullah , maka ketahuilah bahwa ia adalah seorang zindiq. Sebab Rasulullah adalah benar, Al-Qur'an adalah benar, dan yang menyampaikan Al-Qur'an serta Sunnah kepada kita hanyalah para sahabat Rasulullah . Mereka hendak mencacatkan para saksi agama ini agar Al-Qur'an dan Sunnah menjadi batal.”[11]

            Karena itu, para ulama Ahlussunnah menetapkan bahwa seluruh sahabat adalah orang-orang yang adil ('udul) dalam periwayatan, sehingga mereka tidak memerlukan penelitian tentang kredibilitas sebagaimana para perawi setelah mereka.

Al Imam Ibnu ash Shalah rahimahullah berkata,

للصحابة بأسرهم خصيصة، وهي أنه لا يُسأل عن عدالة أحد منهم، بل ذلك أمر مفروغ منه؛ لكونهم على الإطلاق معدَّلين بنصوص الكتاب والسنة وإجماع من يُعتدُّ به من الأمة.

"Seluruh sahabat memiliki satu keistimewaan, yaitu tidak perlu lagi diteliti keadilan seorang pun dari mereka. Hal itu merupakan perkara yang telah selesai, karena mereka seluruhnya dinyatakan adil berdasarkan nash Al-Qur'an, Sunnah, dan ijmak ulama yang diakui."[12]

Demikian pula al imam an Nawawi rahimahullah menegaskan:

الصحابة كلهم عدول من لابس الفتن وغيرهم بإجماع من يُعتد به.

"Seluruh sahabat adalah orang-orang yang adil, baik mereka yang terlibat dalam berbagai fitnah (peperangan dan perselisihan internal) maupun yang tidak terlibat. Hal ini merupakan ijmak para ulama yang pendapatnya diakui dan dijadikan pegangan."[13]

Beliau juga berkata:

ولهذا اتفق أهل الحق ومن يعتد به في الإِجماع على قبول شهاداتهم ورواياتهم وكمال عدالتهم رضي الله عنهم

"Karena itu, Ahlul Haq dan seluruh ulama yang pendapatnya diperhitungkan dalam ijmak telah bersepakat untuk menerima persaksian dan riwayat mereka, serta menetapkan kesempurnaan sifat adil pada diri mereka. Semoga Allah meridhai mereka semuanya."[14]

            Atas dasar itulah, Ahlussunnah wal Jama'ah meyakini bahwa para sahabat merupakan penjaga pertama agama ini. Allah memilih mereka untuk menyaksikan turunnya wahyu, Rasulullah mendidik mereka secara langsung, lalu mereka menyampaikan Al-Qur'an dan Sunnah kepada generasi setelahnya dengan penuh amanah. Oleh sebab itu, menjaga kehormatan para sahabat bukan sekadar membela sejarah, melainkan menjaga keutuhan agama Islam itu sendiri. Sebaliknya, meragukan integritas para sahabat berarti meragukan jalur transmisi yang telah Allah pilih untuk menyampaikan risalah-Nya kepada umat manusia.

5. Para Sahabat Adalah Umat yang Diridhai Allah

            Di antara keutamaan terbesar yang Allah anugerahkan kepada para sahabat adalah penetapan keridaan-Nya kepada mereka. Tidak ada pujian yang lebih tinggi bagi seorang hamba daripada memperoleh keridaan Allah, karena keridaan-Nya merupakan tujuan tertinggi setiap mukmin. Ketika Allah menyatakan keridaan-Nya kepada seseorang, berarti Dia telah menerima keimanan, amal, dan pengorbanannya. Allah berfirman,

وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَّضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۚ ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

"Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama masuk Islam dari kalangan Muhajirin dan Anshar serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya. Dia menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang agung." (QS. at Taubah: 100)

            Ayat ini merupakan salah satu pujian terbesar yang Allah berikan kepada para sahabat. Allah tidak sekadar memuji amal mereka, tetapi secara tegas menyatakan keridaan-Nya kepada mereka. Bahkan keridaan tersebut diiringi dengan janji surga yang kekal sebagai balasan atas keimanan dan pengorbanan mereka. Al imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata:

فقد أخبر الله العظيم أنه قد رضي عن السابقين الأولين من المهاجرين والأنصار والذين اتبعوهم بإحسان، فيا ويل من أبغضهم أو سبَّهم أو أبغض أو سبَّ بعضهم

“Sungguh Allah Yang Maha Agung telah mengabarkan bahwa Dia benar-benar telah meridhai orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama masuk Islam dari kalangan Muhajirin dan Anshar serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik. Maka sungguh celakalah orang yang membenci mereka, mencela mereka, atau membenci dan mencela sebagian dari mereka.”[15]

            Keridaan Allah kepada para sahabat juga ditegaskan dalam peristiwa Bai'at ar Ridwan. Allah berfirman,

لَقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَنْزَلَ السَّكِينَةَ عَلَيْهِمْ وَأَثَابَهُمْ فَتْحًا قَرِيبًا

"Sungguh Allah telah ridha kepada orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon. Dia mengetahui apa yang ada dalam hati mereka, lalu Dia menurunkan ketenangan kepada mereka dan memberikan kepada mereka kemenangan yang dekat." (QS. al Fath: 18)

            Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:

الرضا من الله صفة قديمة، فلا يرضى إلا عن عبد علم أنه يوافيه على موجبات الرضا، ومن رضي الله عنه لم يسخط عليه أبداً.

"Keridaan Allah adalah sifat-Nya yang azali. Allah tidak akan meridhai seorang hamba kecuali Dia mengetahui bahwa hamba tersebut akan menghadap-Nya dalam keadaan yang menyebabkan keridaan-Nya. Dan barang siapa telah diridhai Allah, maka Allah tidak akan murka kepadanya selama-lamanya."[16]

6. Para Sahabat Mendapat Tazkiyah Langsung dari Allah

            Di antara keistimewaan terbesar yang Allah anugerahkan kepada para sahabat selanjutnya adalah bahwa mereka memperoleh tazkiyah secara langsung dari-Nya. Tazkiyah adalah persaksian Allah terhadap keimanan, ketakwaan, keikhlasan, dan kelurusan seseorang. Tidak ada pujian yang lebih agung daripada ketika Allah sendiri memuji hamba-hamba-Nya dalam Al-Qur'an. Tazkiyah tersebut tampak dalam banyak ayat Al-Qur'an. Allah tidak hanya memuji amal mereka, tetapi juga memuji hati, akhlak, dan keadaan mereka. Diantaranya Allah berfirman:

وَلَٰكِنَّ اللَّهَ حَبَّبَ إِلَيْكُمُ الْإِيمَانَ وَزَيَّنَهُ فِي قُلُوبِكُمْ وَكَرَّهَ إِلَيْكُمُ الْكُفْرَ وَالْفُسُوقَ وَالْعِصْيَانَ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الرَّاشِدُونَ

"Akan tetapi Allah menjadikan kalian mencintai keimanan dan menjadikan iman itu indah di dalam hati kalian. Dia menjadikan kalian benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kemaksiatan. Mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk." (QS. al Hujurat: 7)

 Syaikh al Kairanawi al Hanafi rahimahullah ketika menjelaskan ayat di atas berkata:

فعلم أن الصحابة كانوا محبي الإيمان كارهي الكفر والفسق والعصيان وكانوا راشدين، فاعتقاد ضد هذه الأشياء في حقهم خطأ

“Dengan ayat ini diketahui bahwa para sahabat adalah orang-orang yang mencintai keimanan, membenci kekafiran, kefasikan, dan kemaksiatan, serta mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk. Maka meyakini kebalikan dari sifat-sifat tersebut pada diri mereka adalah suatu kekeliruan."[17]

Dalam ayat yang lain Allah berfirman,

وَأَلْزَمَهُمْ كَلِمَةَ التَّقْوَى وَكَانُوا أَحَقَّ بِهَا وَأَهْلَهَا

"Dan Allah menetapkan kepada mereka kalimat takwa, dan merekalah yang paling berhak terhadapnya serta paling layak memilikinya." (QS. al Fath: 26)

            Ayat ini turun berkaitan dengan peristiwa Hudaibiyah. Ketika menghadapi tekanan dan berbagai tuntutan kaum musyrikin, para sahabat tetap teguh bersama Rasulullah . Allah kemudian memuji mereka dengan menyatakan bahwa merekalah orang-orang yang paling berhak memegang kalimat takwa dan paling pantas menyandangnya. Ini merupakan persaksian Ilahi atas keluhuran iman dan keteguhan mereka dalam membela agama.

***

            Dari uraian tentang berbagai keutamaan para sahabat di atas, jelaslah bahwa Ahlussunnah wal Jama'ah meyakini bahwa mereka adalah generasi yang paling bersih akidahnya, paling lurus pemahamannya, dan paling mulia akhlaknya setelah para nabi dan rasul. Mereka adalah generasi yang dipilih, dipuji, diridhai, dan disucikan oleh Allah , serta dijadikan teladan bagi umat ini hingga Hari Kiamat. Oleh karena itu, tidak sepantasnya seorang muslim meragukan keimanan mereka, merendahkan kedudukan mereka, atau mencela orang-orang yang telah Allah puji di dalam Kitab-Nya dan dimuliakan oleh Rasul-Nya .

Atas dasar itulah, para ulama Ahlussunnah menjadikan kecintaan kepada para sahabat sebagai bagian dari prinsip akidah. Al imam Ibnu Abdil Barr rahimahullah berkata:

“Para shahabat Nabi adalah generasi terbaik, dan umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia. Keadilan seluruh mereka telah ditetapkan berdasarkan pujian Allah kepada mereka dan pujian Rasul-Nya kepada mereka. Tidak ada seorang pun yang lebih adil daripada orang yang Allah pilih untuk mendampingi Nabi-Nya dan menolong beliau. Tidak ada tazkiyah yang lebih agung daripada itu, dan tidak ada penetapan keadilan yang lebih sempurna daripadanya.

Allah Ta'ala berfirman tentang mereka: ‘Muhammad adalah utusan Allah, dan orang-orang yang bersama beliau bersikap keras terhadap orang-orang kafir, namun berkasih sayang di antara sesama mereka. Engkau melihat mereka rukuk dan sujud, mencari karunia Allah dan keridaan-Nya...'(QS. al Fath: 29)."[18]

 Al imam ath Thahawi rahimahullah berkata:

ونحب أصحاب رسول الله ﷺ ولا نفرط في حب أحد منهم، ولا نتبرأ من أحد منهم، ونبغض من يبغضهم وبغير الخير يذكرهم، ولا نذكرهم إلا بخير، وحبهم دين وإيمان وإحسان، وبغضهم كفر ونفاق وطغيان.

"Kami mencintai para sahabat Rasulullah . Kami tidak berlebihan dalam mencintai salah seorang dari mereka dan tidak pula berlepas diri dari seorang pun di antara mereka. Kami membenci siapa saja yang membenci mereka atau menyebut mereka dengan selain kebaikan. Kami tidak menyebut mereka kecuali dengan kebaikan. Mencintai mereka adalah bagian dari agama, iman, dan ihsan, sedangkan membenci mereka merupakan kekufuran, kemunafikan, dan kedurhakaan."[19]

Wallahu a'lam.

[1] Musnad imam Ahmad (1/379), Majma’ az Zawaid (1/178).

[2] al Fal fi al Milal wa al Ahwa’ wa al Nial (4/117)

[3] Al Jami’ li Ahkam al Qur’an (4/171)

[4] Al Ishabah fi Tamyiz ash Shahabah (1/21)

[5] Al imam Ibnu Hajar al Asqalani dalam Fath al Bari (8/225) berkata: “Sanadnya dha'if, karena melalui jalur as Suddi. Selain itu, terdapat cacat lain, yaitu sanadnya munqathi' (terputus). Sebab, as Suddi tidak pernah bertemu dengan seorang sahabat pun selain Anas bin Malik.

Maka, pendapat yang benar dalam menafsirkan ayat ini adalah bahwa ayat tersebut bersifat umum untuk seluruh umat ini pada setiap generasi, sebagaimana dijelaskan oleh al Hafizh Ibnu Katsir dan ulama lainnya. Beliau berkata: 'Pendapat yang benar adalah bahwa ayat ini berlaku umum bagi seluruh umat pada setiap generasinya. Namun generasi terbaik di antara mereka adalah generasi tempat Rasulullah diutus, kemudian generasi setelah mereka, lalu generasi berikutnya.”

[6] Tasfir al Qurthubi (4/171)

[7] Hadits ini juga diriwayatkan oleh imam Ahmad dalam al Musnad (4/447 dan 5/3Al Hakim berkata, "Hadits ini shahih sanadnya, meskipun tidak diriwayatkan oleh al Bukhari dan Muslim." Penilaian al Hakim ini disetujui oleh Imam adz Dzahabi. Al Haitsami berkata dalam Majma' az Zawa'id (10/400), "Hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad dan seluruh perawinya adalah tsiqah. Sebagian redaksi hadits ini juga diriwayatkan oleh at Tirmidzi dan selainnya."

[8] Al Haitsami dalam Majma' az Zawa'id (10/16).berkata, "Para perawi hadits ini adalah orang-orang yang tsiqah (terpercaya), meskipun mengenai sebagian dari mereka terdapat perbedaan pendapat."

[9] Asy Syifa’ li Qadhi Iyadh (2/212)

[10] Al Fushul fi al Ushul (3/272)

[11] Al Kifayah hlm. 49

[12] Muqadimah Ibnu Shalah hlm. 294

[13] Tadrib ar Rawi (2/674)

[14] Syarah Shahih Muslim (15/149)

[15] Tafsir Ibnu Katsir (4/339)

[16] Ash Sharim al Maslul ‘ala Syatim ar Rasul hlm. 572

[17] Idhar al Haq (3/935)

[18] Al Isti’ab (1/7)

[19] Al Aqidah at Thahawiyah (1/57)