Oleh: Ust. Ahmad Syahrin Thoriq
Di antara akhlaq yang paling dicintai oleh Allah ﷻ adalah sifat dermawan. Kedermawanan bukan hanya tentang harta yang disedekahkan, tetapi juga bentuk kelapangan hati, kemudahan berbagi, dan kegembiraan yang hadir di dalam dada saat membantu sesama. Sebaliknya, kekikiran sering kali menjadi pintu bagi berbagai keburukan, karena ia lahir dari kecintaan yang berlebihan terhadap dunia dan lemahnya keyakinan kepada janji Allah akan balasan atas apapun yang telah dikeluarkan dijalanNya.
Kedermawanan memiliki begitu banyak sisi keutamaan, diantaranya adalah ia bisa mengangkat derajat dan memuliakan orang-orang yang senantiasa mengamalkannya. Banyak sekali nasihat dari para ulama tentang hal ini, diantaranya adalah apa yang dinyatakan oleh sayidina Abu Bakar Shidiq radhiyallahu’anhu, beliau berkata:
الجود حارس الأعراض
"Kedermawanan adalah penjaga kehormatan seseorang."[1]
Al imam Bisyr bin al Harits berikut ini:
ليس شيء من أعمال البر أحب إلي من السخاء، ولا أبغض إلي من الضيق وسوء الخلق
"Tidak ada satu pun amal kebajikan yang lebih aku cintai daripada sifat dermawan, dan tidak ada sifat yang lebih aku benci daripada kekikiran serta buruknya akhlak."[2]
Demikian pula al imam al Junaid al Baghdadi rahimahullah ketika menyebutkan beberapa kiat untuk bisa meraih kedudukan yang mulia di dunia hingga akhirat beliau berkata:
أربع ترفع العبد إلى أعلى الدرجات وإن قل علمه، الحلم والتواضع والسخاء وحسن الخلق.
"Ada empat perkara yang dapat mengangkat seorang hamba kepada derajat yang paling tinggi meskipun ilmunya sedikit, yaitu sifat penyantun, tawadhu', dermawan, dan akhlak yang mulia."[3]
Al imam Abdullah bin Ja'afar dikenal sebagai pribadi yang sangat gemar berbagi. Suatu ketika beliau ditegur karena terlalu banyak sedekah yang ia keluarkan kepada seseorang. Beliau pun menjawab:
إن الله عودني أن يفضل علي، وعودته أن أفضل على عباده، فأكره أن أقطع العادة عنهم، فتقطع العادة عني
"Sesungguhnya Allah telah membiasakan-Nya melimpahkan karunia kepadaku, dan aku pun membiasakan diriku melimpahkan karunia kepada hamba-hamba-Nya. Aku tidak suka memutus kebiasaan itu terhadap mereka, karena aku khawatir Allah juga memutus kebiasaan-Nya melimpahkan karunia kepadaku."[4]
Siapakah kiranya yang tidak menginginkan kemuliaan dan kedudukan yang tinggi? Setiap orang mendambakan kehormatan, dicintai manusia, dan—yang lebih utama tentunya—mendapatkan kemuliaan kelak di akhirat. Namun, kemuliaan yang hakiki tidak diraih dengan banyaknya harta, tingginya jabatan, ataupun luasnya pengaruh, melainkan dengan ketakwaan dan akhlak yang mulia. Di antara akhlak yang paling besar pengaruhnya dalam mengangkat derajat seseorang adalah sifat dermawan. Semakin lapang hati seseorang dalam memberi, semakin besar pula kemuliaan yang Allah tanamkan di dalam hatinya dan di tengah manusia.
Dalam sebuah hadits disebutkan:
السَّخِيُّ قَرِيبٌ مِنَ اللهِ، قَرِيبٌ مِنَ النَّاسِ، قَرِيبٌ مِنَ الجَنَّةِ، بَعِيدٌ مِنَ النَّار؛ وَالْبَخِيلُ بَعِيدٌ مِنَ اللهِ، بَعِيدٌ مِنَ النَّاسِ، بَعِيدٌ مِنَ الْجَنَّةِ، قَرِيبٌ مِنَ النَّارِ. وَلَسَخِيٌّ جَاهِلٌ أَحَبُّ إِلَى اللهِ مِنْ عَابِدٍ بَخِيلٍ، وَأَكْبَرُ الدَّاءِ الْبُخْلُ
"Orang yang dermawan itu dekat dengan Allah, dekat dengan manusia, dekat dengan surga, dan jauh dari neraka. Adapun orang yang bakhil jauh dari Allah, jauh dari manusia, jauh dari surga, dan dekat dengan neraka. Sungguh, seorang yang dermawan meskipun kurang berilmu lebih dicintai oleh Allah daripada seorang ahli ibadah yang bakhil. Dan penyakit yang paling besar adalah sifat bakhil." (HR. Tirmidzi)