NASEHAT DALAM MERAWAT PERSAHABATAN

20 Jul 2026 Admin Article
NASEHAT DALAM MERAWAT PERSAHABATAN

Oleh: KH. Ahmad Syahrin Thoriq

            Persaudaraan karena Allah dan persahabatan yang saleh merupakan salah satu nikmat terbesar yang Allah ta’ala anugerahkan kepada hamba-Nya. Dengannya hati menjadi tenteram, iman semakin kuat, dan seseorang memiliki penolong dalam meniti jalan menuju ridha Allah. Oleh karena itu, nikmat ini harus dijaga dan dirawat agar tetap langgeng, sebab tidak sedikit hubungan persaudaraan yang akhirnya retak hanya karena perkara-perkara sepele yang sebenarnya dapat dihindari.

Di antara sebab yang dapat menjaga kokohnya persaudaraan adalah berpegang teguh kepada adab-adab yang diajarkan oleh Islam. Adab-adab tersebut pada dasarnya tidaklah sulit untuk diamalkan. Namun, setelah taufik dan pertolongan Allah, diperlukan keikhlasan, kesungguhan dalam melawan hawa nafsu, serta latihan yang terus-menerus hingga akhlak tersebut menjadi kebiasaan dalam diri seseorang.

Para ulama salaf memberikan perhatian besar terhadap adab persaudaraan dan persahabatan. Mereka mewariskan banyak nasihat yang sarat hikmah tentang bagaimana menjaga ukhuwah, memelihara kasih sayang, menyikapi kesalahan saudara dengan bijaksana, serta merawat hubungan agar tetap harmonis dan tidak mudah rusak oleh perselisihan.

            Di antara nasihat yang sangat indah dalam masalah ini adalah apa yang disampaikan oleh al Imam Abu Abdurrahman as Sulami dan al imam Ghazali rahimahumallah. Keduanya menyebutkan sejumlah adab yang semestinya dijaga dalam persahabatan agar langgeng dan membawa kebaikan. Berkata al imam Abdurrahman as Sulami rahimahullah:

الصفح عن عثرات الإخوان وترك تأنيبهم عليها. عن الأصمعي قال: قال أعرابي: تناسَ مساوئ الإخوان يدُمْ لك ودهم.

"Memaafkan kesalahan-kesalahan saudara/ sahabat dan tidak terus-menerus mencela atau menyalahkannya karena kesalahan tersebut. Al Ashma'i berkata, seorang Arab Badui pernah berkata: ‘Lupakanlah keburukan-keburukan saudaramu, niscaya kasih sayang mereka kepadamu akan tetap langgeng.’

ألَّا يحسد إخوانه على ما يرى عليهم من آثار نعم الله، بل يفرح بذلك، ويحمد الله على ما يرى من النعمة عليهم، كما يحمده بنعمته على نفسه.

Tidak mendengki saudara-saudaranya atas nikmat Allah yang tampak pada diri mereka.  Sebaliknya, ia ikut bergembira melihatnya dan memuji Allah atas nikmat yang dianugerahkan kepada mereka, sebagaimana ia memuji-Nya atas nikmat yang diberikan kepada dirinya sendiri.

سلامة الصدر للإخوان والأصحاب، والنصيحة لهم، وقبول النصيحة منهم.

Memiliki hati yang bersih terhadap saudara dan sahabat, tulus memberikan nasihat kepada mereka, serta lapang dada menerima nasihat dari mereka.

أن يحفظ في عشرته صلاح إخوانه، ويدلهم على رشدهم لا على ما يحبونه.

Berusaha menjaga kebaikan saudara-saudaranya selama bergaul dengan mereka, serta membimbing mereka kepada jalan yang benar, bukan sekadar mengikuti apa yang mereka sukai.

ملازمة الحياء في كل حال.

Selalu menghiasi diri dengan sifat malu dalam setiap keadaan.

أن تضع كلام أخيك وأبرزه على أحسن الوجوه، ما وجدت لها وجهًا حسنًا. قال سعيد بن المسيب تب إليَّ بعض إخواني من أصحاب رسول الله ﷺ أن ضع أمر أخيك على أحسنه، ما لم يظهر منه ما يغلبك

Hendaknya engkau memahami ucapan dan perbuatan saudaramu dengan penafsiran yang paling baik selama masih mungkin ditafsirkan dengan cara yang baik. Sa'id bin al Musayyib berkata: ‘Salah seorang sahabat Rasulullah pernah menulis kepadaku: 'Tempatkanlah ucapan dan perbuatan saudaramu pada makna yang paling baik, selama belum tampak darinya sesuatu yang mengalahkan prasangka baikmu.'

وقال حمدون القصار:  إذا زل أخ من إخوانكم فاطلبوا له سبعين بابًا عذرًا.

 

Hamdun al Qashshar berkata: ‘Apabila salah seorang saudaramu melakukan kesalahan, carikanlah baginya tujuh puluh alasan untuk memaafkannya.’

ألَّا تعد أخاك وعدًا ثم تخلفه؛ فإنه من النفاق. قال الثوري لا تعد أخاك موعدًا فتخلفه، فتستبدل المودة بغضًا.

Janganlah engkau berjanji kepada saudaramu kemudian mengingkari janji tersebut, karena hal itu termasuk sifat kemunafikan. Sufyan ats Tsauri berkata: ‘Janganlah engkau membuat janji kepada saudaramu lalu mengingkarinya, karena dengan itu engkau menukar kasih sayang menjadi kebencian.’

إن وقعت بينهم وحشة أو نفرة، فلا يفش الأسرار التي يعلمها في أيام إخوته منه.

Apabila terjadi kerenggangan atau perselisihan di antara mereka, janganlah ia membocorkan rahasia-rahasia yang diketahuinya ketika hubungan persaudaraan masih terjalin baik.

التواضع للإخوان، وترك التكبر عليهم. قال المبرد: النعمة التي لا يحسد عليها صاحبها التواضع، والبلاء الذي لا يرحم صاحبه عليه العجب.

Bersikap rendah hati kepada saudara-saudara dan tidak berlaku sombong terhadap mereka. Al Mubarrad berkata: ‘Nikmat yang tidak membuat pemiliknya didengki adalah tawadhu', sedangkan musibah yang tidak mengundang belas kasihan adalah sifat ujub.’[1]

            Nasihat-nasihat imam as Sulami di atas menunjukkan bahwa persahabatan tidak akan langgeng hanya dengan rasa cinta, tetapi harus dibangun di atas akhlak yang mulia, kelapangan dada, serta kesediaan untuk memaafkan dan berkorban demi saudara. Senada dengan itu, al Imam Abu Hamid al Ghazali rahimahullah juga menjelaskan hak-hak yang wajib dipenuhi dalam persaudaraan dan persahabatan. Beliau berkata:

من حقوق الأخوة والصحبة: المواساة بالمال.

"Di antara hak-hak persaudaraan dan persahabatan adalah saling membantu dengan harta.

الإعانة بالنفس في قضاء الحاجات، ولها درجات، فأدناها القيام بالحاجة عند السؤال والقدرة، لكن مع البشاشة والاستبشار، وإظهار الفرح، وقبول المنة.

Di antaranya pula ialah membantu dengan tenaga dalam memenuhi kebutuhan saudaranya. Bantuan ini memiliki beberapa tingkatan. Tingkatan yang paling rendah ialah memenuhi kebutuhannya ketika ia meminta dan kita mampu melakukannya, namun dilakukan dengan wajah yang ceria, penuh kegembiraan, menampakkan rasa senang, serta menerima kesempatan untuk berbuat baik kepadanya.

السكوت عن ذكر عيوبه في غيبته وحضرته، إلا إذا وجب عليه النطق في أمر بمعروف، أو نهي عن منكر، ولم يجد رخصة في السكوت، فإذ ذلك لا يبالي بكراهته، فإن ذلك إحسان إليه في التحقيق، وإن كان يظن أنها إساءة في الظاهر.

Di antaranya ialah tidak menyebut-nyebut aib saudaranya, baik ketika ia tidak hadir maupun ketika berada di hadapannya. Kecuali apabila wajib baginya menyampaikan amar makruf atau nahi mungkar dan tidak ada alasan baginya untuk berdiam diri. Dalam keadaan seperti itu, janganlah ia peduli sekalipun saudaranya tidak menyukainya, karena pada hakikatnya hal itu merupakan kebaikan baginya, meskipun secara lahir ia menganggapnya sebagai keburukan.

ترك إساءة الظن به، وحده ألا تحمل فعله على وجه فاسد، ما أمكن أن تحمله على وجه حسن، فأما ما انكشف بيقين ومشاهدة، فعليك أن تحمل ما تشاهد على سهو ونسيان ما أمكن.

Di antaranya ialah meninggalkan prasangka buruk terhadap saudaranya. Batasannya ialah janganlah engkau menafsirkan perbuatannya dengan makna yang buruk selama masih mungkin ditafsirkan dengan makna yang baik. Adapun apabila sesuatu telah nyata terlihat dengan yakin, maka sedapat mungkin tafsirkanlah apa yang engkau lihat sebagai kekhilafan atau kelupaan."

ستر العيوب، والتجاهل والتغافل عنها شيمة أهل الدين.

Menutupi aib, berpura-pura tidak mengetahui, dan memaklumi kekurangan merupakan perangai orang-orang yang berpegang teguh kepada agama.

النطق بالمحاب؛ قال عليه الصلاة والسلام: ((إذا أحب أحدكم أخاه فليخبره))، وإنما أمر بالإخبار؛ لأن ذلك يوجب زيادة حب، فإنه إذا عرف أنك تحبه أحبك بالطبع لا محالة، فإذا عرفت أنه أيضًا يحبك، زاد حبك لا محالة، فلا يزال الحب يتزايد من الجانبين ويتضاعف.

Di antaranya ialah mengungkapkan rasa cinta kepada saudaranya. Rasulullah bersabda, 'Apabila salah seorang di antara kalian mencintai saudaranya, hendaklah ia memberitahukan kepadanya.' Beliau memerintahkan hal itu karena akan menambah rasa cinta. Sebab apabila saudaramu mengetahui bahwa engkau mencintainya, niscaya secara fitrah ia pun akan mencintaimu.

Dan apabila engkau mengetahui bahwa ia juga mencintaimu, niscaya cintamu kepadanya akan semakin bertambah. Dengan demikian, rasa cinta akan terus bertambah dari kedua belah pihak dan semakin berlipat ganda.

العفو عن الزلات والهفوات، وهفوة الصديق لا تخلو إما أن تكون في دينه بارتكاب معصية، أو في حقك بتقصيره في الأخوة، أما ما يكون في الدين من ارتكاب معصية والإصرار عليها، فعليك بالتلطف في نصحه بما يقوم أوده، ويجمع شمله، ويعيد إلى الصلاح والورع حاله، أما زلته في حقك بما يوجب إيحاشه، فلا خلاف أن الأولى العفو والاحتمال، ومهما اعتذر إليك أخوك كاذبًا كان أو صادقًا، فاقبل عذره.

Di antaranya ialah memaafkan kesalahan dan kekhilafan. Kekhilafan seorang sahabat tidak lepas dari dua kemungkinan: adakalanya berkaitan dengan agamanya karena melakukan suatu maksiat, dan adakalanya berkaitan dengan hakmu karena kurang menunaikan kewajiban persaudaraan.

Jika kekhilafannya berkaitan dengan agamanya berupa melakukan maksiat dan terus-meneruskannya, maka hendaklah engkau menasihatinya dengan lemah lembut agar keadaannya kembali lurus, urusannya menjadi baik, dan ia kembali kepada kesalehan serta sifat wara'. Adapun apabila kekhilafannya berkaitan dengan hakmu sehingga menimbulkan kerenggangan hubungan, maka tidak ada perselisihan bahwa yang lebih utama ialah memaafkan dan bersabar. Dan kapan pun saudaramu meminta maaf kepadamu, baik ia jujur maupun berdusta, maka terimalah permintaan maafnya.

التعليم والنصيحة؛ فإن علمته وأرشدته ولم يعمل بمقتضى العلم، فعليك النصيحة، ولكن ينبغي أن يكون ذلك في سر لا يطلع عليهأحد.

Di antaranya ialah memberikan pengajaran dan nasihat. Apabila engkau telah mengajarinya dan membimbingnya, tetapi ia belum mengamalkan ilmu tersebut, maka tetaplah menasihatinya. Akan tetapi, hendaknya nasihat itu dilakukan secara rahasia sehingga tidak diketahui oleh siapa pun.

الدعاء للأخ في حياته وبعد مماته بكل ما يحبه لنفسه؛ كان أبو الدرداء يقول: "إني أدعو لسبعين من إخواني في سجودي"، وكان محمد بن يوسف الأصفهاني يقول: "وأين مثل الأخ الصالح؟ يدعو لك في ظلمة الليل، وأنت تحت أطباق الثرى".

Di antaranya ialah mendoakan saudaranya, baik ketika masih hidup maupun setelah wafat, dengan segala sesuatu yang ia sukai untuk dirinya sendiri. Abu ad Darda' berkata, 'Sesungguhnya aku mendoakan tujuh puluh orang saudaraku ketika aku bersujud.' Muhammad bin Yusuf al Ashfahani berkata, 'Adakah yang dapat menyamai saudara yang saleh? Ia mendoakanmu di kegelapan malam, sementara engkau telah berada di bawah lapisan-lapisan tanah.'

الوفاء، ومن الوفاء ألا يتغير حاله في التواضع مع أخيه وإن ارتفع شأنه، واتسعت ولايته، وعظم جاهه؛ فالترفع على الإخوان بما يتجدد من الأحوال لؤم.

Di antaranya ialah menjaga kesetiaan. Dan termasuk bentuk kesetiaan ialah tidak berubah sikap tawadhu' kepada saudaranya meskipun kedudukannya semakin tinggi, kekuasaannya semakin luas, dan kemuliaannya semakin besar. Bersikap tinggi kepada saudara karena perubahan keadaan merupakan akhlak yang rendah.

وأوصى بعض السلف ابنه فقال: "يا بني، لا تصحب من الناس إلا من إذا افتقرت إليه قرب منك، وإن استغنيت عنه لم يطمع فيك، وإن علت مرتبته لم يرتفع عليك".

Sebagian ulama salaf pernah berwasiat kepada anaknya, 'Wahai anakku, janganlah engkau bersahabat dengan seseorang kecuali orang yang apabila engkau membutuhkan dirinya, ia mendekat kepadamu; apabila engkau tidak membutuhkan dirinya, ia tidak tamak terhadapmu; dan apabila kedudukannya menjadi tinggi, ia tidak bersikap tinggi kepadamu.'

التخفيف وترك التكلف والتكليف؛ وذلك بألا يكلف أخاه ما يشق عليه، فلا يستمد منه جاهًا ولا مالًا، ولا يكلفه التواضع له، والتفقد لأحواله، والقيام بحقوقه، بل لا يقصد بمحبته إلا الله تعالى؛ قال الفضيل: "إنما تقاطع الناس بالتكلف، يزور أحدهم أخاه فيتكلف له، فيقطعه ذلك عنه".".

Di antaranya ialah meringankan beban saudara dan meninggalkan sikap dibuat-buat serta saling membebani. Maksudnya, jangan membebani saudara dengan sesuatu yang memberatkannya; jangan memanfaatkan kedudukan atau hartanya; jangan menuntut agar ia selalu merendahkan diri kepadamu, memperhatikan keadaanmu, ataupun menunaikan hak-hakmu. Bahkan hendaklah tujuan mencintainya semata-mata karena Allah Ta'ala.

Al Fudhail berkata, 'Sesungguhnya hubungan manusia terputus karena sikap saling memberatkan. Seseorang mengunjungi saudaranya, lalu tuan rumah merasa harus bersusah payah melayaninya. Akhirnya hal itu justru membuatnya enggan lagi berkunjung.'

قيل لبعضهم: من تصحب؟ قال: "من يرفع عنك ثقل التكلف، وتسقط بينك وبينه مؤنة التحفظ". وكان جعفر بن محمد الصادق رضي الله عنهما يقول: "أثقل إخواني علي من يتكلف لي، وأتحفظ منه، وأخفهم علي من أكون معه كما أكون وحدي". وقد قيل: "من سقطت كلفته دامت ألفته، ومن خفت مؤنته دامت مودته

Pernah ditanyakan kepada salah seorang ulama, 'Dengan siapa engkau bersahabat?' Ia menjawab, 'Dengan orang yang menghilangkan darimu beban sikap dibuat-buat, sehingga hilang pula keharusan untuk selalu menjaga diri di hadapannya.'

Ja'far bin Muhammad ash Shadiq berkata, 'Saudara yang paling berat bagiku ialah orang yang membuatku harus bersikap dibuat-buat dan selalu menjaga diri di hadapannya. Adapun yang paling ringan bagiku ialah orang yang membuatku dapat bersikap sebagaimana ketika aku sedang sendirian.'

Dikatakan pula, 'Barang siapa tidak memberatkan saudaranya, maka keakraban dengannya akan tetap langgeng. Dan barang siapa ringan bebannya terhadap saudaranya, maka kasih sayangnya akan tetap terpelihara.'"[2]

Semoga bermanfaat

 

[1]Adab ash Shahabi li Abi Abdirrahman as Sulami hlm. 45 -47

[2] Ihya Ulumiddin (2/175-178)