Oleh: Ust Ahmad Syahrin Thoriq
Shalat berjamaah bukan sekadar ibadah yang memiliki nilai pahala berlipat ganda, tetapi ia juga merupakan salah satu syariat yang menjadi penopang tegaknya kehidupan umat Islam. Melalui shalat berjamaah, Allah ﷻ mengumpulkan hati kaum muslimin dalam satu tempat, satu tujuan, satu kiblat, dan satu imam. Dari pertemuan yang terus berulang inilah tumbuh saling mengenal, saling mencintai, dan saling membantu dalam menegakkan kebenaran serta mencegah kebatilan. Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah:
وفي إقامة الصلاة في الجماعة فوائد كثيرة منها التعارف والتعاون على البر والتقوى والتواصي بالحق والصبر عليه. وتعليم الجاهل، وإظهار شعائر الله. وإغاظة أهل النفاق، والبعد عن سبيلهم، ومعرفة المتخلف ونصحه وإرشاده إن كان ذلك تكاسلا منه وبدون عذر، أو عيادته إن كان مريضا، إلى غير ذلك من الفوائد
“Hikmah ditegakkannya shalat berjamaah begitu banyak diantaranya ialah terjalinnya saling mengenal di antara kaum muslimin, saling tolong-menolong dalam kebajikan dan ketakwaan, saling menasihati agar tetap berpegang kepada kebenaran serta bersabar di atasnya. Di dalamnya juga terdapat sarana untuk mengajarkan orang yang belum mengetahui, menampakkan syiar-syiar Allah, membuat marah dan jengkel orang-orang munafik, serta menjauhkan diri dari jalan hidup mereka. Selain itu, shalat berjamaah menjadi sarana untuk mengetahui siapa yang tidak hadir, sehingga ia dapat dinasihati dan dibimbing apabila ketidakhadirannya disebabkan oleh kemalasan tanpa uzur yang dibenarkan, atau dijenguk apabila ia sedang sakit. Masih banyak lagi manfaat lainnya yang terkandung dalam shalat berjamaah.”[1]
Karena itu, masjid menjadi tempat terbaik untuk membangun ukhuwah Islamiyah. Tidak ada forum yang lebih agung daripada pertemuan lima kali sehari dalam shalat berjamaah. Di sana, seorang kaya berdiri sejajar dengan seorang miskin, pemimpin berdampingan dengan rakyat, orang yang berpangkat bersisian dengan orang biasa. Semua melebur dalam satu barisan tanpa membedakan kedudukan, suku, maupun status sosial. Inilah gambaran nyata persaudaraan yang diajarkan Islam.
Bahkan, salah satu hikmah yang tampak jelas dalam shalat berjamaah adalah terwujudnya persamaan di hadapan Allah ﷻ. Syariat memerintahkan agar shaf diluruskan dan dirapatkan tanpa membedakan kedudukan seseorang. Seorang pejabat tidak berhak meminta tempat khusus, seorang hartawan tidak memperoleh keistimewaan, dan orang yang memiliki nasab mulia pun tidak didahulukan karena statusnya. Setiap muslim berhak menempati tempat yang kosong di dalam shaf, selama ia datang lebih dahulu. Ketika imam bertakbir seluruh makmum bertakbir, ketika imam rukuk seluruh jamaah rukuk, dan ketika imam mengucapkan salam semuanya mengakhiri shalat secara serempak. Tidak ada simbol yang lebih indah tentang persamaan manusia di hadapan Allah selain pemandangan yang disuguhkan oleh shalat berjamaah.
Keindahan syariat ini bahkan menarik perhatian sebagian pengamat dari kalangan non-Muslim. Dalam sebuah tulisan yang dinukil dari The Islamic Review disebutkan kesaksian seorang penulis Inggris yang menyaksikan pelaksanaan shalat Idul Fitri di Masjid Woking, London. Ia mengungkapkan kekagumannya terhadap suasana persamaan yang tampak di antara kaum muslimin. Menurut pengamatannya, di dalam masjid tidak ada tempat yang diistimewakan; seorang miskin dapat berdiri berdampingan dengan seorang pengusaha ataupun tokoh politik tanpa ada sekat maupun rasa canggung. Pemandangan seperti itu, menurutnya, belum pernah ia jumpai di tempat-tempat ibadah agama lain. Baginya, shalat berjamaah merupakan gambaran nyata tentang persamaan manusia di hadapan Allah, di mana kemuliaan seseorang tidak ditentukan oleh kedudukan ataupun kekayaannya.
Selanjutnya, syariat shalat berjamaah juga menjadi sarana yang paling efektif untuk meredam benih-benih permusuhan di tengah masyarakat. Tidak dapat dimungkiri bahwa kepentingan dunia sering kali memecah belah manusia, melahirkan perselisihan, bahkan menumbuhkan kebencian dan dendam di dalam hati. Namun selama kaum muslimin tetap menjaga kebiasaan bertemu dalam shalat berjamaah, sekat-sekat perpecahan itu perlahan akan runtuh. Pertemuan yang berulang, saling memberi salam, berdiri dalam satu saf, dan sama-sama menghadap Allah ﷻ menjadi sebab lunaknya hati serta pudarnya rasa benci di antara sesama.
Persaudaraan dan persatuan yang terbina dengan baik diantaranya lewat syariat shalat berjamaah inilah yang sejak dahulu menjadi sasaran makar musuh-musuh Islam. Mereka menyadari bahwa selama kaum muslimin tetap bersatu dalam rumah-rumah Allah, saling bertemu, saling mengenal, dan mengikat hati dalam ketaatan, upaya memecah belah mereka tidak akan mudah berhasil. Karena itulah Allah ta’ala mengabadikan kisah Masjid Dhirar, sebuah bangunan yang didirikan bukan untuk ibadah, melainkan sebagai sarana memecah belah barisan kaum mukminin.
وَتَفْرِيقًا بَيْنَ الْمُؤْمِنِينَ
"...dan untuk memecah belah orang-orang yang beriman." (QS. At Taubah: 107)
Dan ketika menjelaskan ayat tersebut, al Imam Ibnu al 'Arabi menerangkan hikmah agung disyariatkannya shalat berjamaah. Beliau berkata:
يعني أنهم كانوا جماعة واحدة في مسجد واحد، فأرادوا أن يفرقوا شملهم في الطاعة، وينفردوا عنهم للكفر والمعصية، وهذا يدلك على أن المقصد الأكثر والغرض الأظهر من وضع الجماعة تأليف القلوب والكلمة على الطاعة، وعقد الذمام والحرمة بفعل الديانة، حتى يقع الأنس بالمخالطة؛ وتصفو القلوب من وضر الأحقاد والحسادة
"Maksudnya, dahulu kaum mukminin merupakan satu kesatuan yang berkumpul di satu masjid. Lalu mereka (orang-orang munafik) ingin memecah persatuan mereka dalam ketaatan, serta memisahkan diri dari mereka menuju kekufuran dan kemaksiatan. Hal ini menunjukkan kepadamu bahwa tujuan yang paling utama dan hikmah yang paling nyata dari disyariatkannya berjamaah adalah menyatukan hati dan kalimat di atas ketaatan, mengikat hubungan persaudaraan dan kehormatan melalui pengamalan agama, sehingga tumbuh keakraban karena sering berinteraksi, dan hati menjadi bersih dari kotoran dendam serta kedengkian."[2]
Oleh sebab itu, shalat berjamaah tidak hanya membina hubungan seorang hamba dengan Rabbnya, tetapi juga memperbaiki hubungan antarsesama manusia. Ia menjadi sekolah persatuan yang mendidik umat agar hidup dalam kebersamaan, saling menghormati, saling mengasihi, saling memaklumi dan saling menolong dalam kebaikan. Selama syiar shalat berjamaah tetap ditegakkan di masjid-masjid, , selama itu pula persaudaraan kaum muslimin akan tetap terpelihara.
Inilah salah satu hikmah agung disyariatkannya shalat berjamaah. Tiang kehidupan umat tidak akan tegak hanya dengan banyaknya individu yang saleh, tetapi juga dengan kuatnya ikatan persaudaraan di antara mereka. Dan tidak ada sarana yang lebih agung untuk mewujudkan persaudaraan itu selain shalat berjamaah yang dilaksanakan secara istiqamah di rumah-rumah Allah.
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa paling tidak terdapat beberapa hikmah disyariatkannya shalat berjamaah, yaitu:
- Menumbuhkan rasa kasih sayang dan kecintaan di antara sesama kaum muslimin, sekaligus menjadi sarana untuk saling mengenal.
- Menampakkan salah satu syiar Islam yang paling agung.
- Membiasakan umat Islam untuk hidup dalam kebersamaan dan menjauhi perpecahan.
- Melatih seorang muslim agar mampu mengendalikan diri. Mengikuti imam dalam shalat mendidiknya untuk disiplin, tertib, dan mampu mengendalikan hawa nafsunya.
- Menumbuhkan rasa persamaan di antara kaum muslimin.
- Mengetahui keadaan sesama kaum muslimin, seperti orang-orang fakir dan mereka yang sakit untuk dibantu, orang-orang yang lalai dalam shalat untuk dinasihati, serta mereka yang belum memahami hukum-hukum shalat untuk diajari.
- Menambah semangat dan kesungguhan seorang muslim dalam beribadah ketika melihat saudara-saudaranya berlomba-lomba dalam ketaatan.
- Berkumpulnya kaum muslimin pada waktu-waktu tertentu mendidik mereka untuk menjaga dan menghargai waktu.
Wallahu a’lam.