Oleh: KH. Ahmad Syahrin Thoriq
Bagi kebanyakan orang, malam adalah waktu untuk beristirahat setelah lelah beraktivitas sepanjang hari. Namun bagi orang-orang yang mengenal Allah, malam justru merupakan saat yang paling mereka nantikan. Ketika manusia terlelap dalam tidurnya, mereka bangkit meninggalkan tempat tidur, berdiri menghadap Rabbnya, mengalunkan ayat-ayat-Nya, bermunajat, menangis, memohon ampunan, serta menikmati kelezatan beribadah yang tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata.
Karena itulah Rasulullah ﷺ menjadikan qiyamul lail sebagai shalat sunnah yang paling utama setelah shalat fardhu. Bahkan beliau sendiri merupakan teladan terbaik dalam ibadah yang agung ini. Meskipun Allah telah mengampuni dosa-dosa beliau yang telah lalu maupun yang akan datang, beliau tetap menghidupkan malam hingga kedua telapak kaki beliau pecah-pecah. Aisyah radhiyallahu 'anha meriwayatkan:
أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ كَانَ يَقُومُ مِنَ اللَّيْلِ حَتَّى تَتَفَطَّرَ قَدَمَاهُ، فَقَالَتْ عَائِشَةُ: لِمَ تَصْنَعُ هَذَا يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَقَدْ غَفَرَ اللَّهُ لَكَ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ؟ فَقَالَ: أَفَلَا أُحِبُّ أَنْ أَكُونَ عَبْدًا شَكُورًا
"Nabi ﷺ biasa mengerjakan shalat malam hingga kedua telapak kaki beliau pecah-pecah. Aku bertanya, 'Wahai Rasulullah, mengapa engkau melakukan semua ini, padahal Allah telah mengampuni dosa-dosamu yang telah lalu maupun yang akan datang?' Beliau menjawab, 'Tidakkah aku ingin menjadi seorang hamba yang pandai bersyukur?'" (Muttafaq 'alaih).
Keindahan qiyamul lail bukan hanya dirasakan oleh Rasulullah ﷺ. Para ulama yang mewarisi dan meniti jejak beliau juga merasakan manisnya bermunajat kepada Allah pada sepertiga malam terakhir. Mereka menggambarkan qiyamul lail bukan sebagai beban, melainkan sebagai kenikmatan yang mengalahkan seluruh kenikmatan dunia. Bagi mereka, malam terasa terlalu singkat, sedangkan terbitnya fajar justru menjadi saat yang paling menyedihkan karena mengakhiri waktu berkhalwat atau berdua-duaan dengan Sang Kekasih. Bahkan sebagian mereka mengatakan bahwa tidak ada kenikmatan di dunia yang lebih menyerupai kenikmatan penghuni surga selain manisnya bermunajat kepada Allah pada malam hari.
Oleh sebab itu, tidak mengherankan apabila kitab-kitab para ulama dipenuhi dengan ungkapan-ungkapan yang menggambarkan kelezatan qiyamul lail. Di bawah ini adalah sebagian mutiara nasihat mereka yang menunjukkan betapa indahnya ibadah yang agung ini.
Al imam Muslim bin Yasar rahimahullah berkata:
ما تلذذ المتلذذون بمثل الخلوة بمناجاة الله عز وجل
"Tidak ada kenikmatan yang dirasakan oleh para pencari kenikmatan yang dapat menandingi nikmatnya menyendiri untuk bermunajat kepada Allah ta’ala.[1]
Al imam Fudhail bin Iyadh rahimahullah berkata:
إذا غربت الشمس فرحت بدخول الظلام لخلوتي فيه بربي، فإذا طلع الفجر حزنت لدخول الناس علي
"Apabila matahari terbenam aku bergembira, karena malam memberiku kesempatan untuk berduaan dengan Rabbku. Namun apabila fajar terbit aku bersedih, karena manusia mulai datang dan mengganggu khalwatku bersama-Nya."[2]
Al imam Tsabit al Binani rahimahullah berkata:
كابدت قيام الليل عشرين سنة، وتنعمت به عشرين سنة أخرى
"Aku bersusah payah membiasakan qiyamul lail selama dua puluh tahun, kemudian aku menikmati kelezatannya selama dua puluh tahun berikutnya."[3]
Al imam Ali bin Bakar rahimahullah berkata:
منذ أربعين سنة ما أحزنني شيء إلا طلوع الفجر
"Selama empat puluh tahun tidak ada sesuatu yang membuatku bersedih selain terbitnya fajar."[4]
Al imam Abu Sulaiman ad Darani rahimahullah berkata:
أهل الليل في ليلهم ألذُّ من أهل اللهو في لهوهم
"Kenikmatan yang dirasakan oleh ahli qiyamul lail pada malam hari mereka jauh lebih besar daripada kenikmatan yang dirasakan oleh para pencinta hiburan dalam hiburan mereka."[5]
Beliau juga pernah berkata: "Seandainya Allah tidak memberikan pahala apa pun kepada ahli qiyamul lail selain kenikmatan yang mereka rasakan di dalam hati ketika beribadah pada malam hari, niscaya kenikmatan itu sendiri sudah lebih besar daripada seluruh amal mereka."[6]
Ketika ajal al imam Amir bin Abdullah rahimahullah telah dekat, beliau menangis. Lalu ada yang bertanya, "Mengapa engkau menangis wahai imam?"
Beliau menjawab:
والله ما أبكي حباً للبقاء ولكن ذكرت ظمأ الهواجر في الصيف وقيام الليل في الشتاء
"Demi Allah, aku bukan menangis karena ingin tetap hidup. Akan tetapi aku teringat nikmatnya dahaga ketika berpuasa pada siang hari yang terik, dan qiyamul lail pada malam-malam musim dingin."[7]
Al imam Ghazali rahimahullah berkata:
وأما النقل فيشهد له أحوال قوام الليل في تلذذهم بقيام الليل واستقصارهم له كما يستقصر المحب ليلة وصال الحبيب.
"Hal ini juga dibuktikan oleh keadaan para ahli qiyamul lail. Mereka benar-benar merasakan kenikmatan dalam shalat malam, sehingga malam terasa begitu singkat bagi mereka. Sebagaimana seorang pecinta merasa malam perjumpaan dengan kekasihnya berlalu sangat cepat."[8]
Beliau juga berkata: "Seandainya orang yang dicintai berada di balik tabir, atau berada di dalam sebuah rumah yang gelap, niscaya seorang pecinta tetap akan merasakan kenikmatan hanya dengan berada di dekatnya, meskipun tidak dapat melihatnya dan tanpa mengharapkan sesuatu selain kebersamaan dengannya. Ia juga akan merasa bahagia dengan mengungkapkan rasa cintanya dan menyebut namanya, meskipun orang yang dicintainya telah mengetahui semua itu.”[9]
Al imam Ibnu Rajab al Hanbali rahimahullah berkata:
ما عند المحبين ألذ من أوقات الخلوة بمناجاة محبوبهم، هو شفاء قلوبهم، ونهاية مطلوبهم... من لم يشاركهم في هواهم وذوق حلاوة نجواهم، لم يدرِ ما الذي أبكاهم
"Bagi orang-orang yang mencintai Allah, tidak ada waktu yang lebih nikmat daripada saat mereka menyendiri untuk bermunajat kepada Kekasih mereka. Itulah penawar hati mereka dan puncak dari segala cita-cita mereka. Siapa yang tidak pernah merasakan apa yang mereka rasakan dan tidak pernah mengecap manisnya bermunajat kepada Allah, niscaya ia tidak akan pernah memahami mengapa mereka menangis."[10]
Al imam Ibnu al Munkadir rahimahullah berkata:
ما بقي من لذات الدنيا إلا ثلاث: قيام الليل ولقاء الإخوان، والصلاة في جماعة
"Tidak ada lagi kenikmatan dunia yang tersisa bagiku selain tiga perkara: qiyamul lail, bertemu dengan saudara-saudara seiman, dan melaksanakan shalat berjamaah."[11]
Sebagian ulama klasik berkata:
ليس في الدنيا وقت يشبه نعيم أهل الجنة إلا ما يجده أهل التملّق في قلوبهم بالليل من حلاوة المناجاة
"Di dunia ini tidak ada kenikmatan yang lebih menyerupai kenikmatan penghuni surga selain manisnya bermunajat kepada Allah yang dirasakan oleh orang-orang yang menghidupkan malam."[12]
Apa yang mereka kisahkan jangan sampai hanya menjadi sesuatu yang kita kagumi, apalagi sekadar menjadi bacaan yang menyentuh hati sesaat. Lebih dari itu, hendaknya ia menjadi inspirasi sekaligus motivasi yang mendorong kita untuk mulai menghidupkan malam-malam kita dengan ibadah, meskipun sedikit demi sedikit. Sebab, kelezatan qiyamul lail tidak akan pernah dapat dipahami hanya dengan membaca kisah-kisah mereka, tetapi harus dirasakan sendiri melalui kesungguhan dalam mengamalkannya.
Mungkin hari ini kita belum mampu merasakan manisnya qiyamul lail sebagaimana yang mereka rasakan. Namun, bukankah setiap perjalanan panjang selalu diawali dengan satu langkah? Bukankah setiap kenikmatan besar bermula dari kesabaran untuk membiasakan diri? Maka jangan pernah berputus asa. Bisa jadi satu sujud yang kita lakukan dengan penuh keikhlasan di keheningan malam menjadi sebab Allah membukakan bagi hati kita manisnya bermunajat kepada-Nya, sebagaimana yang telah dirasakan oleh para kekasih-Nya.
اللهم اجعلنا من أهل قيام الليل، وأذق قلوبنا حلاوة مناجاتك، ولذة القرب منك، واجعل خير أوقاتنا ما خلونا فيه بك، ولا تحرمنا من شرف الوقوف بين يديك، وارزقنا الإخلاص والقبول والثبات حتى نلقاك وأنت راض عنا.
"Ya Allah, jadikanlah kami termasuk hamba-hamba-Mu yang gemar menghidupkan malam dengan ibadah. Anugerahkanlah kepada hati kami manisnya bermunajat kepada-Mu dan nikmatnya kedekatan dengan-Mu. Jadikanlah saat-saat terbaik dalam hidup kami adalah ketika kami berduaan dengan-Mu. Jangan Engkau haramkan kami kemuliaan berdiri di hadapan-Mu pada keheningan malam. Karuniakanlah kepada kami keikhlasan, penerimaan amal, dan istiqamah hingga kami berjumpa dengan-Mu dalam keadaan Engkau ridha kepada kami."
آمين يا رب العالمين.
[1] Al Fawaid wa Zuhd hlm. 31
[2] Qut al Qulub (1/71)
[3] Lathaif al Ma’arif hlm. 84
[4] Qut al Qulub (1/71)
[5] Uyun al Akhbar (2/322)
[6] Qut al Qulub (1/71)
[7] Qut al Qulub (1/71)
[8] Ihya aUlumiddin (1/358)
[9] Ihya aUlumiddin (1/358)
[10] Lathaif al Ma’arif hlm. 86
[11] Dzam al Tsaqala’ hlm. 56
[12] Ihya Ulumiddin (1/358)