BENARKAH NABI KHIDIR MASIH HIDUP?

13 Jul 2026 Admin Article

Izin bertanya kiyai tentang nabi Khidir yang konon katanya masih hidup hingga hari ini, apakah keyakinan ini dilandasi dalil?

Jawaban

Oleh: KH. Ahmad Syahrin Thoriq

            Masalah apakah nabi Khidir masih hidup sampai hari ini termasuk perkara yang diperselisihkan sejak lama. Sebagian ulama memang ada yang berpendapat bahwa Khidir ‘alaihissalam masih hidup, sementara ulama lainnya berpendapat bahwa beliau telah wafat. Al imam Ibnu Hajar al Asqalani rahimahullah berkata:

الخضر صاحب موسى عليه السلام اختُلف في نسبه وفي كونه نبيا وفي طول عمره وبقاء حياته

 “Khidir, sahabat Nabi Musa ‘alahissalam telah diperselisihkan tentang nasabnya, tentang apakah ia seorang nabi, tentang panjang umurnya, dan tentang apakah ia masih hidup.”[1]

            Dan berikut ini adalah dalil dan argumentasi yang menjadi pijakan dari dua kubu pendapat tersebut.

Nabi Khidir masih hidup

            Sebagian ulama berpendapat bahwa nabi Khidir ‘alaihissalam masih hidup hingga sekarang. Di antara dalil yang sering digunakan adalah kisah Nabi Khidir yang disebutkan dalam al Qur'an:

فَوَجَدَا عَبْدًا مِنْ عِبَادِنَا آتَيْنَاهُ رَحْمَةً مِنْ عِنْدِنَا وَعَلَّمْنَاهُ مِنْ لَدُنَّا عِلْمًا

"Lalu mereka berdua bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan rahmat kepadanya dari sisi Kami dan telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami." (QS. Al Kahfi: 65)

            Kalangan ini menyatakan bahwa ayat ini bisa dipahami bahwa nabi Khidir mendapatkan keistimewaan khusus dari Allah berupa umur yang panjang. Mereka juga berdalil dengan beberapa riwayat yang menyebutkan pertemuan nabi Khidir dengan para nabi, sahabat, dan orang-orang saleh setelah masa Nabi Musa ‘alaihissalam. Seperti yang disebutkan dalam sebuah riwayat dalam kitab Bidayah wa Nihayah dari Riyah bin ‘Ubaidah, ia berkata: “Umar bin Abdul Aziz keluar menuju shalat, sementara ada seorang tua yang bertumpu pada tangannya. Aku berkata dalam hatiku: ‘Sesungguhnya orang tua ini tampak kasar.’

Setelah Umar selesai salat dan masuk kembali, aku mengikutinya lalu berkata: ‘Semoga Allah memperbaiki keadaan Amirul Mukminin, siapakah orang tua yang engkau jadikan tempat bersandar tanganmu itu?’

Ia menjawab: ‘Wahai Riyah, apakah engkau melihatnya?’

Aku menjawab: ‘Ya.’

Ia berkata:‘Aku tidak mengira engkau wahai Riyah kecuali seorang lelaki yang saleh. Dia adalah saudaraku Khidir. Ia datang kepadaku dan memberitahuku bahwa aku akan memegang urusan umat ini dan bahwa aku akan berlaku adil dalam kepemimpinanku.’”[2]

Selanjutnya, kalangan ini biasanya juga membawakan adanya hadits-hadits yang jumlahnya ada banyak sebagai dalil penguat seperti riwayat bertemunya Rasulullah dengan Khidir, seperti:

أن رسول الله ﷺ كان في المسجد، فسمع كلامًا من ورائه، فذهبوا ينظرون فإذا هو الخضر

"Bahwa Rasulullah sedang berada di masjid, lalu beliau mendengar suatu suara dari belakangnya. Kemudian mereka pergi melihat, ternyata yang ada di sana adalah Khidir."[3]

يجتمع بعرفة جبريل وميكائيل والخضر

Di Arafah berkumpul Jibril, Mikail, dan Khidir."[4]

Juga disebutkan: “Nabi Khidhir di samudra dan Nabi Ilyas di daratan, mereka bertemu tiap malam di samping tembok yang dibuat Dzul Qarnain.”[5]

            Pendapat pertama ini disebut oleh beberapa pihak sebagai pendapat yang dipegang oleh mayoritas ulama. Di antara ulama yang cenderung kepada pendapat ini adalah al imam Nawawi rahimahullah, beliau berkata:

جمهور العلماء على أنه حي موجود بين أظهرنا وذلك متفق عليه عند الصوفية وأهل الصلاح والمعرفة وحكاياتهم في رؤيته والاجتماع به والأخذ عنه وسؤاله وجوابه ووجوده في المواضع الشريفة ومواطن الخير أكثر من أن يحصر

“Mayoritas ulama berpendapat bahwa Khidir masih hidup dan berada di tengah-tengah kita. Pendapat ini juga disepakati oleh kalangan sufi, orang-orang saleh, dan para ahli ma’rifat. Kisah-kisah mereka tentang melihatnya, bertemu dengannya, mengambil ilmu darinya, bertanya kepadanya dan mendapatkan jawabannya, serta keberadaannya di tempat-tempat yang mulia dan berbagai tempat kebaikan, sangat banyak hingga tidak mungkin untuk dihitung.”[6]

Al imam Mula Ali Qari’ rahimahullah berkata:

اختلفوا فى حياة الخضر فالجمهور على أنه باق إلى يوم القيامة.

“Para ulama berbeda pendapat tentang kehidupan Khidir. Mayoritas ulama berpendapat bahwa ia tetap hidup hingga hari kiamat.”[7]

Al imam Qulyubi rahimahullah berkata:

الخضر نبي حي إلى آخر الدهر عند جماهير العلماء

“Menurut mayoritas Ulama’, Khidir As adalah Nabi yang hidup hingga akhir zaman.”[8]

Al imam Murtadha az Zabidi rahimahullah, beliau berkata:

والصحيح من هذه الاقوال كلها انه نبي معمر، محجوب عن الابصار، وانه باق الى يوم القيامة

“Yang shahih dari pendapat-pendapat ini semuanya, sesungguhnya beliau (Al Khidhir) adalah nabi yang dipanjangkan umurnya. beliau mahjub dari penglihatan. Dan beliau hidup sampai tibanya hari kiamat.”[9]

            Juga disebutkan dalam sebuah riwayat, bahwa sekelompok ulama ahli fiqih pernah bertanya kepada Sultanul Ulama al imam Izzuddin bin Abdissalam: “Apa pendapat Anda tentang Khidir, apakah ia masih hidup?”

Beliau menjawab: “Bagaimana pendapat kalian jika Ibnu Daqiq Aal ‘Id memberitahu kalian bahwa ia melihat Khidir dengan matanya sendiri? Apakah kalian akan membenarkannya atau mendustakannya?”

Mereka menjawab: “Kami akan membenarkannya.”

Beliau berkata:

والله قد أخبر سبعون صديقاً أنهم رأوه بأعينهم كل واحد منهم أفضل من ابن دقيق العيد

“Demi Allah, telah mengabarkan tujuh puluh orang yang terpercaya bahwa mereka melihat Khidir dengan mata mereka sendiri. Setiap orang dari mereka lebih utama daripada Ibnu Daqiq al ‘Id.”

Pendapat kedua: Nabi Khidir telah wafat

            Sedangkan sebagian  ulama lainnya berpendapat bahwa nabi Khidir telah wafat dan tidak ada manusia yang hidup sampai hari ini di permukaan bumi dari kalangan umat terdahulu. Berikut adalah beberapa pernyataan ulama yang memegang pendapat ini.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata:

لو كان الخضر حيًا لوجب عليه أن يأتي النبي ـ صلى الله عليه وسلم ـ ويجاهد بين يديه ويتعلم منه، وقد كان النبي ـ صلى الله عليه وسلم ـ يوم بدر: اللهم إن تهلك هذه العصابة لا تعبد في الأرض وكانوا ثلاثمائة وثلاثة عشر رجلا معروفين بأسمائهم وأسماء آبائهم وقبائلهم، فأين كان الخضر حينئذ؟ فالقرآن، والسنة، وكلام المحققين من علماء الأمة ينفي حياة الخضر كما يقولون

“Seandainya Khidir masih hidup, tentu wajib baginya untuk datang menemui Nabi , berjihad bersama beliau, dan belajar dari beliau. Ketika Nabi berada dalam Perang Badar, beliau berdoa: 'Ya Allah, jika Engkau membinasakan kelompok ini, maka Engkau tidak akan disembah lagi di bumi.' Padahal jumlah mereka hanya 313 orang, dan mereka dikenal nama-nama mereka, nama bapak-bapak mereka, serta kabilah-kabilah mereka. Lalu di manakah Khidir ketika itu?”[10]

Al imam Ibnu Jauzi rahimahullah berkata:

والدليل على أن الخَضر ليس بباقٍ في الدنيا أربعة أشياء: القرآن، والسنة، وإجماع المحققين من العلماء، والمعقول.

“Dalil bahwa Khidir tidak tetap hidup di dunia ada empat perkara: al Qur’an, sunnah, ijma’ para ulama yang mendalam ilmunya, dan pertimbangan akal.”[11]

Diantara dalil pendapat ini adalah keumuman firman Allah ta’ala:

وَمَا جَعَلْنَا لِبَشَرٍ مِّنْ قَبْلِكَ الْخُلْدَ أَفَإِنْ مِتَّ فَهُمُ الْخَالِدُونَ

"Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusia pun sebelum engkau (Muhammad). Maka jika engkau wafat, apakah mereka akan kekal?" (QS. Al Anbiya: 34)

Juga sabda Nabi :

أَرَأَيْتَكُمْ لَيْلَتَكُمْ هَذِهِ، فَإِنَّهُ عَلَى رَأْسِ مِائَةِ سَنَةٍ مِنْهَا لَا يَبْقَى مِمَّنْ هُوَ عَلَى ظَهْرِ الْأَرْضِ أَحَدٌ

"Bagaimana pendapat kalian tentang malam kalian ini? Sesungguhnya seratus tahun setelah malam ini tidak akan tersisa seorang pun dari orang-orang yang berada di muka bumi ini." (HR. Bukhari dan Muslim)

            Mereka memahami bahwa hadits ini bersifat umum, mencakup seluruh manusia yang hidup pada masa Nabi , sehingga tidak ada seorang pun yang hidup melewati batas tersebut. Karenanya ketika imam Bukhari pernah ditanya tentang Khidir dan Ilyas, apakah keduanya masih hidup? Beliau menjawab: “Bagaimana mungkin hal itu terjadi? Padahal Nabi telah bersabda: ‘Tidak akan tersisa seorang pun dari orang-orang yang ada di muka bumi ini setelah seratus tahun dari sekarang.’”[12]

Al imam Ibnu Hajar al Asqalani rahimahullah berkata:

وأقوى الأدلة على عدم بقائه عدم مجيئه إلى رسول الله

“Dalil terkuat yang digunakan untuk mengatakan bahwa Khidir tidak tetap hidup adalah tidak datangnya Khidir kepada Rasulullah .”[13]

            Selain itu kalangan yang memegang pendapat telah wafatnya Khidir membantah pendalilan pihak pertama dengan mengatakan:

Jawaban balik dari pihak pertama

            Namun pendalilan pendapat kedua ini juga dibantah oleh para ulama yang memegang pendapat pertama, yakni masih hidupnya nabi Khidir. Yang intinya ayat dan hadits yang dibawakan sebagai dalil kalangan kedua itu bersifat umum, sedangkan keadaan Khidir adalah yang dikecualikan sebagaimana dikecualikannya para malaikat, nabi Isa, Iblis dan mungkin mahkluk lainnya.[14]

            Al imam Alusi rahimahullah misalnya mengatakan: “Mereka menjawab terhadap hadits yang disebutkan oleh Imam al Bukhari, bahwa hadits tersebut tidak mengharuskan penafian kehidupan Khidir pada masa Nabi . Hadis itu hanya secara zahir menunjukkan bahwa tidak ada seorang pun yang hidup setelah seratus tahun dari masa ucapan tersebut, karena pada saat itu Khidir bukan berada di daratan, tetapi berada di atas air.

Mereka juga menjawab bahwa hadits tersebut bersifat umum terhadap makhluk yang dapat disaksikan oleh manusia. Hal ini berdasarkan adanya pengecualian terhadap para malaikat dan dikeluarkannya setan dari cakupan hadis tersebut. Kesimpulannya, maksud hadis itu adalah berakhirnya generasi pertama (yang hidup pada masa Nabi ).

Namun, hadits tersebut memang menjadi bantahan yang jelas terhadap orang yang mengklaim adanya seseorang yang berumur sangat panjang seperti Kirtan bin Abdullah al Hindi At Tabrizi, yang muncul pada abad ketujuh Hijriah, mengaku sebagai sahabat Nabi , dan meriwayatkan berbagai hadits.”[15]

 Dan Bahkan al imam Nawawi rahimahullah mengklaim bahwa mereka yang menyatakan nabi Khidir ‘alaissalam telah wafat sebagai pendapat yang menyelisihi pendapat mayoritas ulama, beliau berkata:

وقد احتج بهذه الأحاديث من شذ من المحدثين فقال الخضر عليه السلام ميت والجمهور على حياته كما سبق في باب فضائله ويتأولون هذه الأحاديث على أنه كان على البحر لا على الأرض أو أنها عام مخصوص

“Sebagian ahli hadits yang menyelisihi pendapat mayoritas ulama berdalil dengan hadits-hadits ini, lalu mereka mengatakan bahwa Khidir telah wafat. Namun jumhur ulama berpendapat bahwa beliau masih hidup, sebagaimana telah disebutkan sebelumnya dalam pembahasan tentang keutamaannya. Mereka menafsirkan hadits-hadits tersebut bahwa Khidir ketika itu berada di laut, bukan di daratan, atau mereka mengatakan bahwa hadits tersebut bersifat umum yang memiliki pengkhususan.”[16]

            Selanjutnya tentang kelemahan berbagai riwayat yang menjadi dalil masih hidupnya Khidir, itu… bahkan ini diakui oleh kalangan yang memegang pendapat sebaliknya seperti yang dinyatakan oleh al imam Ibnu Hajar rahimahullah berikut ini:

“Andaikan kita menganggap bahwa sanad-sanad hadits tersebut lemah, karena setiap jalurnya tidak terlepas dari faktor yang menyebabkan kelemahannya, lalu bagaimana sikap kita terhadap keseluruhannya? Sebab, apabila semua jalur tersebut dikumpulkan dalam keadaan seperti ini, maka bisa jadi ia mencapai derajat mutawatir secara maknawi, yaitu jenis mutawatir yang para ulama memberikan contoh dengannya seperti kisah tentang kedermawanan Hatim.”[17]

Jawaban balik dari pihak kedua

Kalangan kedua ini selain membantah pendalilan dari pihak pertama dengan menunjukkan kedha’ifan hadits-hadits dan riwayat yang digunakan, juga membantah klaim mereka yang menyatakan bahwa yang berpendapat Khidir masih hidup adalah mayoritas ulama, Syaikh ‘adzim al Abadi rahimahullah berkata:

ما قاله النووي من أن حياة الخضر قول الجمهور ليس بصحيح وقد رد عليه الحافظ بن حجر في الإصابة فقال اعتنى بعض المتأخرين بجمع الحكايات المأثورة عن الصالحين وغيرهم ممن بعد الثالث مائة فما بلغت العشرين مع ما في أسانيد بعضها من يضعف لكثرة أغلاطه أو إيهامه بالكذب كأبي عبد الرحمن السلمي وأبي الحسن بن جهضم

“Apa yang dikatakan oleh Imam an Nawawi bahwa kehidupan Khidir merupakan pendapat mayoritas ulama, bukanlah pendapat yang benar. Al Hafizh Ibnu Hajar telah membantah hal tersebut dalam kitab al Ishabah. Beliau berkata: ‘Sebagian ulama muta’akhkhirin (generasi belakangan) memberikan perhatian untuk mengumpulkan kisah-kisah yang diriwayatkan dari orang-orang saleh dan selain mereka, yaitu dari orang-orang yang hidup setelah tiga ratus tahun pertama. Namun jumlah kisah tersebut tidak mencapai dua puluh.

Selain itu, pada sebagian sanadnya terdapat perawi yang dilemahkan karena banyak melakukan kesalahan atau karena adanya tuduhan terhadapnya sebagai pendusta, seperti Abu Abdurrahman as Sulami dan Abu al Hasan bin Jahdham.”[18]

            Al imam Abu al Khaththab Ibnu Dihyah berkata: “Tidak ada riwayat yang sahih tentang pertemuan Khidir dengan seorang nabi pun kecuali dengan nabi Musa ‘alaihissalam sebagaimana yang Allah kisahkan tentangnya dalam al Qur’an. Adapun seluruh riwayat yang berkaitan dengan kehidupannya, tidak ada satu pun yang sahih berdasarkan kesepakatan para ahli periwayatan. Adapun kisah-kisah yang datang dari para syekh (guru-guru tasawuf), maka hal tersebut termasuk sesuatu yang mengherankan. Bagaimana mungkin seorang yang berakal dapat bertemu dengan seseorang yang tidak ia kenal, lalu orang itu berkata kepadanya: ‘Aku adalah fulan,’kemudian ia langsung membenarkannya?”[19]

Kesimpulan

Masalah apakah Nabi Khidir ‘alaihissalam masih hidup atau telah wafat merupakan perkara khilafiyah di kalangan ulama. Sebagian ulama berpendapat bahwa beliau masih hidup hingga hari ini, sementara sebagian ulama lainnya berpendapat bahwa beliau telah wafat, dengan masing-masing memiliki dalil dan argumentasi yang dibahas dalam kitab-kitab para ulama.

Karena masalah ini termasuk perkara yang diperselisihkan, maka tidak selayaknya seseorang mengingkari secara keras salah satu pendapat yang diakui dalam khazanah keilmuan Islam. Yang pasti, Khidir ‘alaihissalam adalah hamba Allah yang mulia sebagaimana disebutkan dalam al Qur’an.

Dan yang juga harus diperhatikan jangan sampai  bagi yang mempercayai akan masih hidupnya  Khidir dijadikan jalan untuk menyebarkan khurafat, kisah-kisah tanpa dasar, atau keyakinan yang berlebihan. Setiap berita tentang beliau tetap harus ditimbang dengan kaidah ilmu dan dalil yang benar.

Wallahu a’lam.

 

 

 

[1] Al Ishabah (1/114)

[2] Al Bidayah wa an Nihayah (9/221), juga disebutkan dalam Hilyatul Auliya (5/254) dan imam Dzahabi berkata dalam Tadzkiratul Huffazh (1/120): “Sanadnya baik.”

[3] Tidak tercantum dalam kitab hadits, hanya populer di beberapa kitab dan tulisan

[4] Hadits ini tidak kami ketahui sumber riwayatnya.

[5] Hadits ini diriwayatkan secara marfu’ oleh Ibnu Abbas, dan sanadnya lemah sekali. Al imam Daruquthni berkata dalam kitabnya al Afrad: “Hadis ini termasuk hadis yang asing (gharib) dari riwayat Ibnu Juraij. Tidak ada yang meriwayatkannya dari Ibnu Juraij kecuali seorang syekh ini —yakni Al-Hasan bin Zuraiq—.”

[6] Syarah Shahih Muslim (15/136)

[7] Umdah al Qari (2/60)

[8] Hasyiah Qulyubi wa Umairah (1/401)

[9] Taj al Arus fi Jawahir al Qamus (11/184)

[10] Majmu’ Fatawa (27/100)

[11] Dinukil oleh al imam Ibnul Qayyim dalam al Manar al Munif hlm. 29

[12] Al Mughni ‘an Khifdzi wal Kitab (1/77)

[13] Az Zahr An Nadhir fi Naba’ Al-Khidhir HLM. 115

[14] Al Hadzhar fil Khidr hlm. 99

[15] Tafsir Alusi (11/321)

[16] Syarah Nawawi ‘ala Muslim (16/90)

[17] Az Zahr An-Nadhir fi Akhbar al Khidhir hlm. 162

[18] Aun al Ma’bud (11/338)

[19] Al Ishabah fi Tamyiz ash Shahabah (2/253)