KETIKA PENGEMBAN DAKWAH JUSTRU MENJADI PERUSAKNYA

24 Jun 2026 Admin Article

Oleh : KH. Ahmad Syahrin Thoriq

            Salah satu sebab utama yang menghambat keberhasilan dakwah, merusak  atau minimalnya melemahkan pengaruhnya di tengah masyarakat adalah terletak pada kesalahan yang masuk ke dalam perilaku kita yang mendaku sebagai pengembannya, baik itu sebagai individu maupun sebagai kelompok. Kesalahan ini bukan sekadar kesalahan teknis atau organisasi, tetapi menyentuh sisi yang lebih dalam, yaitu cara kita hadir di tengah manusia, cara kita berinteraksi, dan bagaimana wajah dakwah itu tampak dalam kehidupan sehari-hari.

            Dalam banyak keadaan, dakwah menjadi jauh dari realitas manusia bukan karena inti ajarannya keliru, tetapi karena cara ia dibawa dan direpresentasikan oleh para pembawanya. Sikap yang keras dalam berinteraksi, cara yang kaku dalam berkomunikasi, kecenderungan mudah menghakimi, serta lemahnya keteladanan dalam akhlaq dan hubungan sosial, sering kali membentuk jarak antara dakwah dan masyarakat. Akibatnya, pesan yang sebenarnya mengandung kebaikan dan rahmat justru tidak sampai dengan baik kepada hati manusia.

            Dan hal ini diperparah oleh keadaan di mana kesalahan tersebut tidak hanya terjadi dalam bentuk praktik, tetapi kemudian “dilegalkan” secara pemahaman, seolah-olah ia merupakan bagian dari agama itu sendiri. Kesalahan, kekakuan, atau pola interaksi yang sebenarnya lahir dari kebiasaan, budaya, atau keterbatasan manusia, justru diklaim sebagai representasi dari Islam. Seolah-olah “inilah Islam”, padahal ia bukan berasal dari inti ajaran agama ini, melainkan dari cara kita memahami dan mempraktikkannya yang belum tentu benar.

            Benar bahwa siapapun kita termasuk para pengemban dakwah tentu bukan manusia yang ma’shum yang bisa sempurna dan selamat dari kesalahan. Ia bisa keliru, bisa kurang tepat, dan bisa tergelincir dalam sikap maupun metode. Namun yang menjadi masalah adalah ketika perilaku-perilaku yang menjauhkan manusia dari dakwah—yang pada hakikatnya bukan bagian dari agama, tetapi hanya dibungkus dengan label agama—kemudian diterima tanpa kritik, bahkan dianggap sebagai bagian dari ajaran itu sendiri. Dan ketika diingatkan, bukannya segera rujuk tapi menghadirkan berbagai alibi bahkan pembenaran.

Sebagian pihak saat ditolak karena faktor-faktor yang telah disebutkan, melakukan pembelaan dengan menyamakan kondisi tersebut dengan apa yang dialami para nabi.  Padahal, konteksnya sangat berbeda. Para nabi dihadapkan dengan kaum kuffar yang secara jelas menolak kebenaran. Sementara dalam realitas hari ini, penolakan yang terjadi sering kali bukan pada substansi ajaran, tetapi pada cara penyampaian, sikap, dan perilaku para pembawanya.

            Selain itu, para nabi sendiri telah menunjukkan puncak kelembutan, kesabaran, dan akhlak yang agung dalam menghadapi penolakan. Bahkan dalam banyak keadaan, justru ketegasan mereka tetap dibalut dengan kasih sayang, bukan dengan sikap yang menjauhkan manusia dari kebenaran itu sendiri.

            Sedangkan kita sering kali masih dibayangi ego, merasa paling benar, sulit menerima koreksi, dan kurang mampu menahan diri dalam menyikapi perbedaan. Dalam kondisi seperti ini, yang seharusnya menjadi ruang dakwah yang lembut justru kadang berubah menjadi ruang ketegangan, di mana perbedaan sikap lebih menonjol daripada pesan yang ingin disampaikan.

            Di sinilah letak bahaya yang sangat besar: bukan hanya pada kesalahannya, tetapi pada legitimasi terhadap kesalahan tersebut atas nama agama. Karena itu, sangat penting bagi kita untuk menelaah secara jernih setiap perilaku yang dinisbatkan kepada agama, mengujinya dengan prinsip-prinsip syariat yang benar, lalu menyaringnya secara ketat, baik pada tingkat individu maupun kelompok, hingga yang tersisa hanyalah bentuk-bentuk yang benar-benar murni, selaras dengan ajaran Islam yang asli, dan tidak tercampur dengan distorsi pemahaman manusia.

Masyarakat awam secara fitrah menilai sebuah seruan bukan hanya dari isi ucapannya, tetapi dari perilaku orang yang menyampaikannya. Seorang dai tidak hanya dilihat sebagai penyampai ide, tetapi sebagai representasi dari apa yang ia serukan. Karena itu, mereka mengharapkan seorang pembawa dakwah menjadi contoh yang hidup, sehingga setiap kesalahan kecil dalam sikap dan akhlak akan tampak besar di mata mereka, dan dapat menjadi penghalang yang serius bagi diterimanya dakwah.

            Dampak dari kesalahan jenis ini sangat nyata: dakwah menjadi kurang diterima bahkan cenderung ditolak, hubungan dengan masyarakat menjadi renggang, bahkan dalam sebagian kasus justru menimbulkan jarak dan resistensi. Bukan karena masyarakat menolak kebenaran, tetapi karena cara kebenaran itu ditampilkan tidak sesuai dengan harapan fitrah manusia yang cenderung kepada kelembutan, keteladanan, dan rahmat.

            Oleh karena itu, perbaikan dalam dakwah tidak cukup hanya terfokus pada aspek pemikiran, materi, atau metode penyampaian. Yang lebih mendasar adalah pembenahan pada sisi akhlak, perilaku sosial, dan kualitas interaksi dengan manusia. Dakwah harus kembali menjadi cermin dari nilai-nilai yang ia bawa, bukan sekadar slogan yang diucapkan, tetapi realitas yang hidup dalam diri para pembawanya. Dan pada titik inilah para ulama menasehatkan agar para du’at memperhatikan berbagai faktor untuk bisa menghadirkan keseimbangan dalam metode dakwah. Tidak hanya menekankan pada kebenaran isi, tetapi juga bagaimana kebenaran itu disampaikan, bahkan hingga bagaimana sikap seorang pengemban dalam merespon sikap umat baik penerimaan maupun penolakan. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata:

لابد من هذه الثلاث: العلم والرفق والصبر، العلم قبل الأمر بالمعروف والرفق معه والصبر بعده

“Orang yang berdakwah harus memiliki tiga hal : Ilmu, kelembutan dan kesabaran. Ilmu digunakan sebelum menyampaikan, kelembutan digunakan saat menyampaikan dan kesabaran digunakan setelah menyampaikan.”[1]

Semoga bermanfaat.

 

[1] Al Amru bil Ma’ruf hal. 30