YANG MENGALAHKAN SANG LEGENDA KEDERMAWANAN

21 Jun 2026 Admin Article

Oleh : KH. Ahmad Syahrin Thoriq

            Sesungguhnya kedermawanan merupakan salah satu sifat paling menonjol yang dikenal dan diagung-agungkan di kalangan bangsa Arab sejak masa Jahiliyah. Sifat ini bukan sekadar kebiasaan, tetapi telah menjadi suatu kebanggaan yang mereka wariskan dan dijadikan ukuran kehormatan sebuah keluarga bahkan satu suku.  Bangsa Arab saling berlomba dalam kemurahan hati, memuji para pemimpin mereka dengan sifat dermawan, bahkan menjadikannya sebagai perumpamaan yang akan terus diingat lintas generasi.

            Di antara tokoh yang paling masyhur dalam hal ini adalah orang yang bernama Hatim ath Tha’i. Namanya begitu melekat kuat dalam sejarah Arab sebagai simbol kedermawanan yang hampir tak tertandingi. Berbagai kisah tentang dirinya terus diceritakan, menggambarkan betapa luasnya hati dan tangannya dalam memberi, bahkan dalam keadaan yang paling sulit sekalipun.

            Diriwayatkan bahwa suatu ketika ada seorang laki-laki yang penasaran bertanya kepada Hatim: “Wahai Hatim, apakah pernah ada seseorang yang mengalahkanmu dalam kedermawanan?”

Hatim pun menjawab: “Ya, ada seorang pemuda yatim dari kabilah Tayy’ yang memiliki 10 ekor kambing. Aku sebelumnya belum pernah singgah di rumahnya. Suatu hari aku mampir dan dijamu olehnya, tanpa ragu ia menyembelih satu ekor kambing, memasaknya, lalu menyuguhkannya kepadaku. Di antara hidangan itu ada masakan otak kambing, dan aku pun mencicipinya lalu memuji betapa lezatnya masakannya.”

Hatim meneruskan ceritanya: “Pemuda tersebut lalu bertanya kepadaku, “Bagian yang mana yang paling enak itu wahai Hatim?’ aku menjawab, ‘otaknya, sangat lezat.”

 Hatim kembali bercerita: “Mendengar ucapanku itu, ia segera beranjak dari hadapanku tanpa banyak bicara. Aku mengira ia hanya pergi untuk suatu keperluan biasa. Tak lama kemudian, ia kembali membawa hidangan yang sama, otak kambing yang telah dimasak dan menyuguhkannya kepadaku. Dan itu terjadi beberapa kali. Setiap kali aku menyebutkan sesuatu yang aku sukai, ia pergi lalu kembali dengan hidangan serupa, seakan tidak ingin ada satu pun bagian dari kambingnya yang tidak ia persembahkan untuk memuliakan tamunya.

Aku pun menikmati jamuan itu tanpa mengetahui apa yang sedang terjadi di baliknya. Baru ketika aku hendak pergi dan mataku menangkap jejak darah yang banyak di sekitar rumahnya, barulah tersingkap kenyataan yang mengejutkan: ia tidak sekadar menyembelih satu kambing, tetapi terus menyembelih satu demi satu dari kambing-kambingnya hingga semuanya habis, hanya untuk menyuguhkan apa yang aku sebutkan tadi.”

Akupun bertanya kepadanya : “Mengapa engkau melakukan itu?”

Pemuda itu menjawab: “Mahasuci Allah! Apakah aku akan bakhil terhadap sesuatu yang engkau nikmati dari milikku? Itu adalah aib besar bagi orang Arab jika ia menahan kebaikan dari tamunya.”

Mendengar kisah tersebut orang yang bertanya kepada Hatim melanjutkan pertanyaannya: “Lalu apa yang engkau berikan sebagai gantinya?” ia bertanya demikian karena tahu tidak mungkin orang seperti Hatim tidak membalas kedermawanan orang lain apalagi dari seorang anak yatim.

Hatim menjawab : “Tiga ratus unta merah dan lima ratus ekor kambing.”

Maka orang itu pun berkata: “Berarti dia tidak mengalahkan anda, karena yang anda berikan kepadanya jauh lebih banyak.”

Namun Hatim menjawab ucapan laki-laki tersebut:

بل هو أكرم؛ لأنه جاد بكل ما يملِكُه، وإنما جدت بقليل من كثير

“Tidak, justru dialah yang lebih dermawan dariku. Karena ia memberikan seluruh yang ia miliki, sedangkan aku hanya memberi sebagian kecil dari hartaku yang begitu banyak.”[1]

Semoga bermanfaat.

 

[1] Al Mustajad min fi Alaat al Ajwad li al Tanukhi hlm.  111