Oleh : KH. Ahmad Syahrin Thoriq
Sedekah bukan hanya sekadar bukti adanya kasih sayang dan kepedulian terhadap sesama, bahkan ia menjadi salah satu tanda yang paling nyata atas keimanan seseorang. Itu mengapa ia disebut dengan sedekah yang berasal dari akar kata “membenarkan”, karena ketika seseorang mensedekahkan hartanya ia telah membenarkan janji Rabbnya atas balasan apa yang telah ia keluarkan.
Sedekah merupakan ibadah yang memiliki begitu banyak fadhilah, diantaranya adalah ia menjadi sebab dimudahkannya berbagai urusan, dilapangkannya berbagai kesulitan, dan diperolehnya pertolongan dari Allah Jalla wa 'Ala. Sebab Allah ta’ala akan senantiasa menolong seorang hamba selama hamba tersebut menolong saudaranya.
Sedekah juga menjadi sebab bertambahnya harta, turunnya berbagai kebaikan, dan datangnya keberkahan. Ia pun menjadi sebab seseorang mendapatkan naungan di bawah Arasy Ar-Rahman pada hari yang tidak ada naungan selain naungan-Nya. Di samping itu, sedekah memiliki pengaruh besar dalam menolak berbagai musibah dan bencana.
Dan termasuk sedekah juga memiliki fadhilah bisa menghadirkan kelapangan yang langsung dirasakan oleh pelakunya di dalam hati. Bahkan sering kali kebahagiaan yang lahir setelah memberi lebih besar daripada kebahagiaan ketika menerima. Karena itu, para ulama menyebutkan bahwa salah satu balasan paling cepat dari sedekah adalah kelapangan dada dan ketenteraman jiwa. Kita tentu pernah membuktikan bahwa selepas bersedekah, hati merasa tenang, lapang, bahagia, dan berbagai rasa indah yang sulit dilukiskan. Ternyata itu adalah sebagian fadhilah dari bersedekah, yang memang bisa mendatangkan kelapangan, sebagaimana menahannya adalah sebab kesempitan.
Dalam sebuah hadits Rasulullah ﷺ menggambarkan akan hal ini dalam sebuah permisalan yang indah, beliau bersabda:
مَثَلُ الْبَخِيلِ وَالْمُنْفِقِ، كَمَثَلِ رَجُلَيْنِ، عَلَيْهِمَا جُبَّتَانِ مِنْ حَدِيدٍ، مِنْ ثُدِيِّهِمَا إِلَى تَرَاقِيهِمَا، فَأَمَّا الْمُنْفِقُ: فَلَا يُنْفِقُ إِلَّا سَبَغَتْ، أَوْ وَفَرَتْ عَلَى جِلْدِهِ، حَتَّى تُخْفِيَ بَنَانَهُ، وَتَعْفُوَ أَثَرَهُ. وَأَمَّا الْبَخِيلُ: فَلَا يُرِيدُ أَنْ يُنْفِقَ شَيْئًا إِلَّا لَزِقَتْ كُلُّ حَلْقَةٍ مَكَانَهَا، فَهُوَ يُوَسِّعُهَا وَلَا تَتَّسِعُ
“Perumpamaan orang yang pelit dengan orang yang gemar bersedekah seperti dua orang yang memiliki baju besi, yang dipakai menutupi dada hingga selangkangannya.
Adapun orang yang bersedekah, sebab sedekahnya ia merasa bajunya lapang dan longgar di kulitnya. Sampai-sampai kelonggaran itu ada di ujung jarinya yang tidak terlihat dan tidak meninggalkan bekas pada kulitnya. Sedangkan orang yang pelit, dikarenakan pelitnya ia merasakan setiap lingkar baju besinya merekat erat di kulitnya. Ia berusaha melonggarkannya namun tidak bisa.” (HR. Bukhari)
Al imam Jalaluddin as Suyuthi ketika menjelaskan hadits di atas berkata:
«ضرب المثل بهما لأن المنفق يستره الله بنفقته ويستر عوراته في الدنيا والآخرة كستر هذه الجنة لابسها والبخل كمن لبس جنة إلى ثدييه فبقي مكشوفا بادي العورة مفتضحا في الدنيا والآخرة»
“ini dibuat karena orang yang berinfak akan ditutupi oleh Allah dengan sebab infaknya, dan Allah akan menutupi aib-aibnya di dunia dan akhirat, sebagaimana baju besi ini menutupi pemakainya. Sedangkan orang yang bakhil ibarat orang yang memakai baju besi hanya sampai di dadanya saja, sedangkan aurat tubuh yang lain masih terbuka yang memberikan kehinaan di dunia dan akhirat.”[1]
Al imam Ibnu Qayyim al Jauziyah rahimahullah juga berkata:
المتصدق كلما تصدق بصدقة انشرح لها قلبه، وانفسح لها صدره، وقوي فرحه، وعظم سروره. ولو لم يكن في الصدقة إلا هذه الفائدة لكان العبد حقيقًا بالاستكثار منها، والمبادرة إليها»
"Setiap kali seseorang bersedekah, hatinya akan menjadi lapang, dadanya terasa lega, kebahagiaannya bertambah, dan kegembiraannya semakin besar. Seandainya tidak ada manfaat lain dari sedekah selain hal ini saja, niscaya sudah sepantasnya seorang hamba memperbanyak sedekah dan bersegera melakukannya."
Beliau juga berkata:
وللصدقة تأثير عجيب في دفع أنواع البلاء، ولو كانت من فاجر، أو ظالم، بل من كافر، وهذا أمر معلوم عند الناس، وأهل الأرض مُقِرُّون بذلك
"Sedekah memiliki pengaruh yang sangat menakjubkan dalam menolak berbagai macam bala. Hal itu berlaku bahkan jika sedekah tersebut dilakukan oleh seorang fajir, orang zalim, bahkan orang kafir sekalipun. Ini adalah perkara yang telah diketahui secara luas oleh setiap orang dan diakui oleh penduduk bumi."[2]
Maka benarlah jika dikatakan bahwa orang yang dermawan adalah orang yang paling beruntung. Sebab saat orang lain mengira ia sedang mengurangi hartanya, sesungguhnya ia sedang memperluas kehidupannya. Ia melapangkan hati yang sempit, meringankan beban yang berat, menghapus kesedihan yang menyesakkan, dan karena itu Allah pun membalasnya dengan kelapangan yang serupa.Bukankah Allah Ta'ala telah berfirman:
وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
"Barangsiapa yang dijaga dari sifat kikir yang ada dalam dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung." (QS. Al Hasyr: 9)
Semoga bermanfaat.