LALU BAGAIMANA LAGI BILA KEPADA SESAMA MUSLIM?

26 May 2026 Admin Article

Oleh : KH. Ahmad Syahrin Thoriq

            Dalam al Qur’an, telah dinukil perkatan dari ratu Bilqis yang saat itu berstatus sebagai orang kafir :

قَالَتْ إِنَّ الْمُلُوكَ إِذَا دَخَلُوا قَرْيَةً أَفْسَدُوهَا وَجَعَلُوا أَعِزَّةَ أَهْلِهَا أَذِلَّةً ۖ وَكَذَٰلِكَ يَفْعَلُونَ

Dia berkata: "Sesungguhnya raja-raja apabila memasuki suatu negeri, niscaya mereka membinasakannya, dan menjadikan penduduknya yang mulia jadi hina.’ Dan (memang) demikianlah yang mereka lakukan. “ (QS. An Naml: 34)

Sebagian ahli qira’at ketika membaca ayat ini berhenti pada lafadz “ahliha adzillah”.  Al imam Ibnu al Anbari rahimahullah berkata : “Adapun sampai di lafadz:

وَجَعَلُوا أَعِزَّةَ أَهْلِهَا أَذِلَّةً

Ini adalah tempat berhenti yang sempurna. Kemudian Allah Ta‘ala berfirman sebagai bentuk pembenaran terhadap ucapan ratu Balqis:

وَكَذَٰلِكَ يَفْعَلُونَ

“Dan demikianlah mereka melakukannya.”[1]

            Ketika menjelaskan ayat tersebut para ulama tafsir di antaranya adalah al imam al Qurthubi rahimahullah mengatakan bahwa Allah ta’ala membenarkan ucapan dari ratu Bilqis meskipun si pengucapnya adalah orang kafir. Dan ini adalah puncak keteladanan dalam perkara sifat inshaf (objektif). Di mana kebenaran tetaplah dipandang benar meski pengucapnya adalah orang kafir.[2]

                         Dan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah ketika menjelaskan firman Allah ta’ala:

وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَى أَلَّا تَعْدِلُوا ۚ اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى

“ “Dan janganlah kebencian kalian terhadap suatu kaum mendorong kalian untuk tidak berlaku adil. Berlaku adillah, karena itu lebih dekat kepada ketakwaan.” (QS. Al Ma’idah: 8)

Beliau berkata:

فنهى أن يحمل المؤمنين بغضهم للكفّار على ألّا يعدلوا، فكيف إذا كان البغض لفاسق أو مبتدع أو متأوّل من أهل الإيمان؟ فهو أولى أن يجب عليه ألّا يحمله ذلك على ألّا يعدل على مؤمن وإن كان ظالما له

“Allah telah melarang kaum mukminin agar kebencian mereka kepada orang-orang kafir tidak mendorong mereka untuk tidak berlaku adil. Maka bagaimana lagi jika kebencian itu ditujukan kepada seorang fasik, pelaku bid‘ah, atau orang yang keliru dalam takwil dari kalangan kaum beriman?

Tentu lebih utama lagi bahwa seseorang wajib untuk tidak membiarkan kebencian itu menyeretnya kepada ketidakadilan terhadap seorang mukmin, meskipun orang tersebut telah berbuat zalim kepadanya.”[3]

Semoga bermanfaat.

 

[1] Tafsir al Qurthubi (13/174)

[2] Tafsir al Qurthubi (13/174), al Inshaf hlm. 18

[3] Al Istiqamah (1/38)