Oleh : KH. Ahmad Syahrin Thoriq
Derap langkah kaki itu bukan sekadar pijakan di tanah asing, ia adalah awal dari babak baru dalam sejarah Islam bahkan dunia. Di hadapan lautan yang baru saja mereka seberangi, dan di depan pasukan musuh yang jauh lebih besar dan lengkap persenjataannya, berdirilah Thoriq bin Ziyad rahimahullah bersama pasukannya yang tidak ada sepertiga jumlah musuh yang harus dihadapinya. Tidak ada pilihan untuk mundur, yang tersisa hanya pilihan maju dengan penuh keberanian, atau hancur karena dilanda rasa gentar ketakutan.
Dalam suasana yang menegangkan itulah, ia bangkit menyampaikan orasi yang terkenal guna membakar semangat pasukannya untuk berjihad meraih kemenangan. Kalimat-kalimat sang panglima perang Islam ini tercatat sebagai salah satu khutbah terbaik yang pernah ada, beliau rahimahullah berkata:
أيّها الناس، أين المفر؟ البحر من ورائكم، والعدوّ أمامكم، وليس لكم والله إلا الصدق والصبر، واعلموا أنّكم في هذه الجزيرة أضيع
“Wahai manusia sekalian, ke manakah kalian akan lari? Laut membentang berada di belakang kalian dan musuh di hadapan kalian. Demi Allah, tidak ada pilihan bagi kalian selain kejujuran dan kesabaran. Ketahuilah bahwa kalian di pulau ini lebih terlantar daripada anak-anak yatim di jamuan orang-orang yang kikir. Kalian menghadapi musuh dengan pasukan, persenjataan, dan kekuatan yang lengkap, sementara kalian tidak memiliki perlindungan selain pedang-pedang kalian, dan tidak memiliki bekal kecuali apa yang kalian rampas dari tangan musuh…”[1]
Kata-kata yang meluncur dari lisan sang legenda ini bukan hanya sekadar rangkaian kalimat nasehat atau penyemangat, tapi ia seperti api yang menyulut lalu membakar keberanian para pasukannya. Rasa takut yang sempat menyusup berubah menjadi tekad. Keraguan berubah menjadi keberanian. Mereka tidak lagi melihat diri mereka sebagai pasukan kecil yang terjepit, tetapi sebagai pembawa misi besar yang tidak boleh gagal.
Setelah itu terjadilah pertempuran dahsyat antara pasukan Thoriq bin Ziyad yang hanya berjumlah 12.000 pasukan melawan pasukan musuh yang berjumlah lebih dari 100.000 pasukan. Meski sempat mengalami kewalahan di babak pertama karena jumlah yang sangat timpang, kemenangan akhirnya bisa diraih dengan susah payah setelah kaum muslimin berhasil menjalankan taktik serangan balik yang sangat brilian.
Sangking dahsyatnya peperangan ini, sampai Musa bin Nushair ketika memberikan laporan resminya kepada Khalifah di Damaskus tentang gambaran peperangan tersebut ia menyebut : “Peperangan ini tidak pernah sama dengan perang manapun. Peristiwa seperti sedang kiamat."[2]
Dan benar saja pertempuran besar terjadi dan lahirlah darinya kemenangan besar, yang membuka jalan bagi tersebarnya peradaban dan cahaya Islam di bumi Eropa. Selama masa itu, kaum muslimin membangun peradaban besar yang menjadikannya sebagai satu-satunya wilayah yang paling bersinar di benua Eropa di tengah kemunduran wilayah-wilayah lainnya…[3]
Semoga bermanfaat.