Oleh : KH. Ahmad Syahrin Thoriq
Di antara perkara yang mulai jarang diperhatikan pada zaman belakangan ini adalah ilmu yang mengantarkan kepada melembutkan hati dan memperbaiki akhlaq budi pekerti. Banyak orang sibuk dengan pembahasan, perdebatan, dan keluasan wawasan; namun sedikit yang benar-benar mau mempelajari ilmu yang mampu menghadirkan rasa takut kepada Allah, kelembutan jiwa, dan semangat untuk memperbaiki diri. Padahal para ulama terdahulu tidak hanya mendidik manusia dengan hukum dan fatwa, tetapi juga dengan nasehat, raqa’iq, dan sejarah orang-orang shalih. Karena hati manusia bukan hanya membutuhkan ilmu yang benar, tetapi juga teladan yang bisa menghidupkan jiwa. Al imam Ibnu Jauzi rahimahullah berkata:
رأيت الاشتغال بالفقه وسماع الحديث، لا يكاد يكفي في صلاح القلب؛ إلا أن يمزج بالرقائق، والنظر في سير السلف الصالحين، فأما مجرد العلم بالحلال والحرام، فليس له كبير عمل في رقة القلب؛ وإنما ترق القلوب بذكر رقائق الأحاديث، وأخبار السلف الصالحين
“Aku melihat bahwa menyibukkan diri dengan fiqih dan mendengar hadits saja hampir tidak cukup untuk memperbaiki hati, kecuali bila dicampur dengan kelembutan-kelembutan nasihat dan menelaah perjalanan hidup salafus shalih. Adapun sekadar mengetahui halal dan haram, maka pengaruhnya terhadap kelembutan hati tidaklah besar. Sesungguhnya hati menjadi lembut dengan menyimak hadits-hadits yang menyentuh hati dan kisah-kisah dari orang-orang shalih terdahulu.”[1]
Beliau rahimahullah juga berkata:
ومن ذلك أنهم جعلوا النظر جل اشتغالهم، ولم يمزجوه بما يرقق القلوب من قراءة القرآن، وسماع الحديث، وسيرة الرسول ﷺ وأصحابه، ومعلوم أن القلوب لا تخشع بتكرار إزالة النجاسة، والماء المتغير، وهي محتاجة إلى التذكار والمواعظ لتنهض لطلب الآخرة. . . ومن لم يطلع على أسرار سير السلف وحال الذي تمذهب له لم يمكنه سلوك طريق
“Di antara tipu daya iblis terhadap para ulama adalah bahwa mereka menjadikan pembahasan ilmiah sebagai mayoritas kesibukan mereka, namun tidak mencampurnya dengan hal-hal yang dapat melembutkan hati, seperti membaca al Qur`an, mendengar hadits, mempelajari sirah Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya. Sudah diketahui bahwa hati tidak akan khusyuk hanya dengan berulang-ulang membahas cara menghilangkan najis atau hukum air yang berubah sifatnya. Hati memerlukan peringatan dan nasihat agar bangkit mencari akhirat…
Dan barang siapa tidak mengetahui rahasia perjalanan hidup para salaf serta keadaan imam yang ia bermadzhab kepadanya, maka ia tidak akan mampu menempuh jalannya.”[2]
Al imam Abu Hanifah rahimahullah berkata:
الحكايات عن العلماء ومحاسنهم أحب إليّ من كثير من الفقه؛ لأنها آداب القوم وأخلاقهم
“Penuturan sejarah tentang para ulama dan kebaikan yang ada pada mereka (seperti nasehat, hikmah) lebih aku sukai daripada banyak pembahasan fiqih, karena pada itu semua ada adab dan akhlaq yang bisa diteladani.”[3]
Al imam Qadhi Iyadh rahimahullah berkata:
وقال بعضُ المشايخ: الحكايات جُندٌ من جُنود الله يثبت بها قلوبَ أوليائه
“Sebagian masyayikh berkata: ‘Kisah-kisah itu adalah bala tentara dari bala tentara Allah, yang dengannya Allah meneguhkan hati para wali-Nya.”[4]
Al imam Sufyan bin Uyainah rahimahullah berkata:
عند ذكر الصالحين تنزَّل الرحمة
“Ketika dikisahkan orang-orang saleh, maka rahmat akan turun.”[5]
Al imam Abu al Hasan Ali bin al Hasan bin Abi Bakr al Khazraji rahimahullah berkata:
رأيت من إهمال الناس لفن التاريخ، مع شدة احتياجهم إليه، وتعويلهم في كثير من الأمور عليه، ولما يندرج في ضمنه من المواعظ والآداب
“Aku melihat berupa kelalaian manusia terhadap ilmu sejarah, padahal kebutuhan mereka terhadapnya sangat besar, dan dalam banyak urusan mereka bersandar kepadanya. Selain itu, di dalamnya terkandung berbagai nasihat dan adab.”[6]
Al imam Dan asy Syams Muhammad bin ‘Ammar al Mishri al Maliki berkata:
لو لم يكن من فوائده إلا رؤية الحكايات السالفة، والروايات المترادفة؛ فإن فيها ما يسلي الوجد من سوء هذا الزمن الأليم، ويعلم منها أن مصراع الهم قديم
“Seandainya tidak ada manfaat dari sejarah selain mengetahui kisah-kisah masa lalu dan riwayat-riwayat yang silih berganti (itu sudah cukup). Sungguh di dalamnya terdapat sesuatu yang dapat menghibur hati dari buruknya zaman yang menyakitkan ini, serta mengajarkan bahwa pintu kesedihan itu sudah ada sejak dahulu.”[7]
Dan tentu puncak nasehat dan sejarah terbaik orang shalih yang harus pertama kita simak dengan baik adalah perjalanan kehidupan Nabi ﷺ , karena tentu sirah beliau adalah sejarah terbaik yang penuh dengan hikmah, pelajaran dan puncak dari segala hal yang bisa diteladani. Itu mengapa, generasi Islam dahulu di antara hal yang tidak pernah alpa dari pendidikan mereka adalah mengkaji sejarah Nabinya ﷺ, sebagaimana yang dikatakan oleh al imam Ali bin Husain bin Ali rahimahullah berkata:
كنا نعلم مغازي النبي ﷺ وسراياه كما نعلم السورة من القرآن
“Kami dahulu diajari tentang sejarah dan perjuangan Nabi ﷺ sebagaimana kami diajari tentang surat dalam Al Quran.”[8]
Dan orang-orang ketika mensifati majelis dari Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma mengatakan:
ولقد كنا نحضر عنده ، فيحدثنا العشية كلها في المغازي
“Dan sungguh kami dahulu menghadiri majelis beliau, lalu beliau menceritakan kepada kami sepanjang sore tentang sejarah perjuangan Nabi ﷺ.”[9]
Khatimah
Jangan sampai kajian ilmu yang kita geluti hanya menambah pengetahuan, namun tidak memiliki pengaruh yang kuat terhadap hati dan juga mendorong amal. Karena inti ilmu para salaf terdahulu bukan sekadar hafalan dan wawasan, tapi ilmu yang melahirkan rasa takut kepada Allah dan akhlaq yang mulia.
Menyimak nasehat, membaca sirah Nabi ﷺ, mengkaji riwayat para sahabat, ulama dan orang-orang shalih adalah bagian penting dari tarbiyah iman yang sering dilupakan banyak orang. Kalau toh dipelajari hanya sepintas sekilas yang seakan hanya dijadikan materi pelengkap. Dan ini jelas kesalahan yang harus diperbaiki khususnya lagi dalam kaitannya ilmu yang digunakan untuk mendidik generasi umat ini.
Semoga bermanfaat
[1] Shaid al Khatir hlm. 228
[2] Talbis Iblis hlm. 119
[3] Al I‘lan bit Taubikh liman Dzamma Ahlat Taurikh hlm. 147
[4] Tartib al Madarik wa Taqrib al Masalik (1/23)
[5] Zuhud li imam Ahmad hlm. 264
[6] Turatsu a’lam az Zaman hlm. 11
[7] Al I‘lan bit Taubikh liman Dzamma Ahlat Taurikh hlm. 147
[8] Al Jami’ li Akhlaq ar Rawi (2/195)
[9] Siyar A’lam an Nubala (3/350)