Oleh : KH. Ahmad Syahrin Thoriq
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ بَيْنَمَا هُوَ جَالِسٌ فِي المَسْجِدِ وَالنَّاسُ مَعَهُ إِذْ أَقْبَلَ ثَلَاثَةُ نَفَرٍ، فَأَقْبَلَ اثْنَانِ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ ﷺ وَذَهَبَ وَاحِدٌ، قَالَ: فَوَقَفَا عَلَى رَسُولِ ﷺ فَأَمَّا أَحَدُهُمَا: فَرَأَى فُرْجَةً فِي الحَلْقَةِ فَجَلَسَ فِيهَا، وَأَمَّا الآخَرُ: فَجَلَسَ خَلْفَهُمْ، وَأَمَّا الثَّالِثُ: فَأَدْبَرَ ذَاهِبًا، فَلَمَّا فَرَغَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ قَالَ : أَلَا أُخْبِرُكُمْ عَنِ النَّفَرِ الثَّلَاثَةِ؟ أَمَّا أَحَدُهُمْ فَأَوَى إِلَى اللَّهِ فَآوَاهُ اللَّهُ، وَأَمَّا الآخَرُ فَاسْتَحْيَا فَاسْتَحْيَا اللَّهُ مِنْهُ، وَأَمَّا الآخَرُ فَأَعْرَضَ فَأَعْرَضَ اللَّهُ عَنْهُ
“Pada suatu hari Rasulullah ﷺ sedang bermajelis di masjid bersama para shahabat. Lalu datanglah tiga orang. Yang dua orang menghadap Rasulullah ﷺ dan yang seorang lagi pergi. Yang menghadap kepada beliau berdiri sejenak di hadapan Rasulullah ﷺ, kemudian satu diantaranya melihat tempat kosong dalam majelis maka ia duduk di tempat itu. Sedangkan yang kedua duduk di belakang mereka, sedangkan yang ketiga sudah berbalik pergi.
Setelah Rasulullah ﷺ selesai dari bermajelis, Beliau bersabda: “Maukah kalian aku beritahu tentang ketiga orang tadi ? Adapun seorang diantara mereka, dia meminta perlindungan kepada Allah, maka Allah lindungi dia. Yang kedua, dia malu kepada Allah, maka Allah pun malu kepadanya. Sedangkan yang ketiga berpaling dari Allah, maka Allah pun berpaling darinya.” (HR. Bukhari)
Faedah hadits:
Hadits ini menggambarkan tiga sikap manusia terhadap ilmu agama: ada yang bersungguh-sungguh, ada yang hadir namun kurang maksimal, dan ada yang berpaling karena meremehkan atau melalaikannya.
Orang yang paling beruntung adalah yang bersegera memanfaatkan kesempatan untuk mendapatkan ilmu. Ia tidak menyia-nyiakan peluang yang ada di hadapannya.
Adapun orang yang tetap hadir namun memilih di belakang, ia masih mendapatkan kebaikan. Rasa malunya tidak menghalanginya untuk tetap berada di majelis, meskipun belum maksimal dalam mengambil manfaat.
Sedangkan yang paling merugi adalah orang yang berpaling dari majelis ilmu. Ia meninggalkan kesempatan yang sangat berharga tanpa alasan yang benar. Al imam Ibnu Batthal rahimahullah berkata:
وفيه أيضا أن من قصد العلم ومجالسه ثم أعرض عنها، فإن الله يعرض عنه، ومن أعرض الله عنه فقد تعرض لسخطه
“Di dalam hadits ini terdapat pelajaran bahwa siapa yang telah mendatangi majelis ilmu lalu berpaling darinya, maka Allah akan berpaling darinya. Dan siapa yang Allah berpaling darinya, sungguh ia telah terancam dengan murka-Nya.”[1]
Alangkah ruginya seseorang ketika memiliki peluang untuk belajar agama—bertemu dengan orang berilmu atau berada di lingkungan yang baik—namun ia abaikan dan lebih memilih kesibukan dunia yang tidak ada habisnya.
Untuk ilmu ia selalu menghindar. Angannya tertipu dengan alasan yang fikir itu bisa menjadi udzur : “Nggak papa nggak belajar agama, Allah kan maha pengampun.” Tapi anehnya jika urusannya mengejar dunia, dia selalu siap mati-matian dan tidak mau ketinggalan.
Seandainya dia mau merenungi akan hal ini dan mau memuhasabahi dengan baik, rasanya tidak perlu harus menunggu sidang di akhirat untuk membuatnya menyadari, bahwa udzur yang dibuatnya itu adalah tipuan setan yang akan mencelakannya.
Barangsiapa meninggalkan ilmu—yang merupakan warisan para nabi—dan lebih memilih mencari warisan fir’aun dan Qarun, maka wajar jika ia terhalang dari kebaikan. Dan tidak ada kerugian yang lebih besar bagi seorang hamba selain ketika Allah berpaling darinya.
Wallahu a‘lam.
[1] Syarah Shahih Bukhari (1/149)