Ustad ana mau bertanya, beredar adanya info Rasul dahulu membaca al Qur’an sambil rebahan. Apakah dibolehkan membaca Mushaf sambil rebahan? Atau malah masuk ke dalam kesunnahan
Jawaban
Oleh : KH. Ahmad Syahrin Thoriq
Ulama sepakat bahwa aktivitas berdzikir boleh dilakukan dalam keadaan duduk, berdiri ataupun berbaring, berdasarkan firman Allah ta’ala:
الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ
“(Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah dalam keadaan berdiri, duduk, dan berbaring di atas lambung mereka, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi ..” (QS. Ali Imran : 191)
Dan membaca al Qur’an termasuk dari salah satu bentuk dzikir atau mengingat Allah. Sehingga berdasarkan dalil ayat tersebut tidak mengapa seseorang membaca al Qur’an dalam keadaan sambil berdiri, duduk, bersandar, berbaring miring, ataupun terlentang di atas punggungnya, dan keadaan-keadaan semisal lainnya.
Dan bahkan ada dalil khusus dalam masalah ini, yaitu yang menunjukkan bahwa Nabi ﷺ pernah membaca al Qur’an sambil berbaring, yakni sebuah riwayat dari ummul mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata:
كَانَ النَّبِيُّ ﷺ يَتَّكِئُ فِي حِجْرِي وَأَنَا حَائِضٌ، ثُمَّ يَقْرَأُ الْقُرْآنَ
“Dahulu Nabi ﷺ bersandar di pangkuanku sementara aku sedang haidh, kemudian beliau membaca al Quran.” (Muttafaqun ‘alaih)
Fatwa ulama
Dan berikut ini adalah beberapa penjelasan dan fatwa dari para ulama tentang kebolehan membaca al Qur’an dalam keadaan sedang berbaring, bersandar atau rebahan.
Al imam Nawawi rahimahullah ketika menjelaskan hadits di atas berkata:
فيه جواز قراءة القرآن مضطجعا ومتكئا على الحائض وبقرب موضع النجاسة
“Dalam hadits ini terdapat dalil bolehnya membaca al Quran dalam keadaan berbaring atau bersandar pada wanita yang sedang haid, serta di dekat tempat yang ada najisnya.”[1]
Beliau juga berkata:
لا تكره القراءة في الطريق مارا إذا لم يلته وروي نحو هذا عن أبي الدرداء وعمر بن عبد العزيز.. ولو قرأ قائما أو مضطجعا أو ماشيا أو على فراشه جاز ودلائله في الكتاب والسنة مشهورة
“Tidak makruh membaca al Quran di jalan ketika berjalan, selama tidak lalai. Riwayat yang semakna juga datang dari Abu Darda’ dan Umar bin Abdul Aziz…Jika seseorang membaca al Qur’an dalam keadaan berdiri, berbaring, berjalan, atau di atas tempat tidurnya, maka hal itu boleh. Dalil-dalilnya dalam al Quran dan sunnah sangat masyhur.”
Demikian juga al imam Ibnu Rajab rahimahullah berkata:
وفي الحديث دلالة على جواز قراءة القرآن متكئاًومضطجعاً، وعلى جنبه.
“Dalam hadits ini terdapat dalil bolehnya membaca al Quran dalam keadaan sedang bersandar, berbaring, maupun miring di atas lambungnya.”[2]
Posisi apa yang afdhal saat membaca al Qur’an?
Meski membaca al Qur’an sambil rebahan hukumnya dibolehkan, namun secara umum membaca al Qur’an dalam keadaan duduk lebih utama daripada ketika sedang berbaring atau berdiri. Karena dengan duduk akan bisa lebih terjaga adab-adab saat membaca al Qur’an. Disebutkan dalam al Mausu’ah:
ويستحب للقارئ في غير الصلاة أن يستقبل القبلة، ويجلس متخشعا بسكينة ووقار مطرقا رأسه، ويكون جلوسه وحده في تحسين أدبه وخضوعه كجلوسه بين يدي معلمه، فهذا هو الأكمل، ولو قرأ قائما أو مضطجعا أو في فراشه أو على غير ذلك من الأحوال جاز وله أجر، ولكن دون الأول
“Disunnahkan bagi orang yang membaca al Quran di luar shalat untuk menghadap kiblat, duduk dengan khusyuk, tenang, penuh wibawa, sambil menundukkan kepala. Hendaknya duduknya sendirian dalam keadaan memperindah adab dan kerendahan dirinya, seperti duduknya seseorang di hadapan gurunya. Inilah keadaan yang paling sempurna.
Jika ia membaca dalam keadaan berdiri, berbaring, di atas tempat tidurnya, atau dalam keadaan lainnya, maka hal itu boleh dan ia tetap mendapatkan pahala, namun nilainya lebih rendah daripada keadaan yang pertama.”[3]
Demikian, wallahu a’lam.