YANG BERHAK MENERIMA FIDYAH

14 Mar 2026 Admin Article

Izin bertanya kiyai apakah fidyah hanya boleh disalurkan kepada faqir miskin ataukah boleh kepada delapan asnaf yang berhak menerima zakat lainnya seperti orang yang terlilit hutang atau butuh biaya pengobatan

Jawaban

Oleh : KH. Ahmad Syahrin Thoriq

Pendapat yang mu’tamad dari empat madzhab menyatakan bahwa fidyah hanya diperuntukkan kepada faqir dan miskin, tidak untuk yang lain dari orang yang membutuhkan ataupun dari asnaf zakat yang delapan.  Hal ini berdasarkan firman Allah Ta‘ala:

وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ

“Dan bagi orang-orang yang berat menjalankannya wajib membayar fidyah, yaitu memberi makan seorang miskin.” (QS. al Baqarah: 184)

Berikut ini adalah fatwa-fatwa dari para ulama madzhab tentang ketentuan fidyah yang hanya boleh disalurkan kepada faqir dan miskin saja.

Madzhab Hanafi

Dari ulama Hanafiyah kita dapati fatwanya dari salah satu ulama besar madzhab ini, yakni  al imam Kasani rahimahullah, beliau berkata:

ومقدار الفدية مقدار صدقة الفطر، وهو أن يطعم عن كل يوم مسكينا مقدار ما يطعم في صدقة الفطر

“Ukuran fidyah adalah seperti ukuran sedekah fitrah, yaitu memberi makan seorang miskin untuk setiap hari yang ditinggalkan dengan kadar yang sama seperti yang diberikan dalam sedekah fitrah.”[1]


Madzhab Maliki

Meski dalam madzhab ini tidak kami temukan pernyataan yang tegas dari para ulamanya bahwa fidyah hanya boleh disalurkan kepada faqir atau miskin, namun dalam pemabahasannya mereka hanya menyebutkan penerima fidyah itu faqir atau miskin. Tidak disebutkannya larangan penyaluran untuk pihak lain bisa jadi karena masalah ini sudah sangat mafhum. Semisal apa yang dinyatakan oleh al imam Abu Walid ar Rusyd rahimahullah, di mana beliau berkata:

وإذا أرضعت وخافت على ولدها أفطرت وقضت الصيام وأطعمت عن كل يوم مسكيناً مداً من حنطة

 “Apabila seorang wanita menyusui dan ia khawatir terhadap anaknya, maka ia boleh berbuka, kemudian mengqadha puasanya, dan memberi makan seorang miskin untuk setiap hari yang ditinggalkan dengan satu mud gandum.”[2]

Demikian juga dinyatakan dalam madzhab ini:

الفدية فهي إطعام مسكين نصف صاع من بُرٍّ أو دقيق، أو صاعٍ من تمر أو زبيب أو شعير أو قيمته وهي أفضل

“Adapun bentuk fidyah adalah memberi makan seorang miskin setengah sha‘ dari gandum atau tepung, atau satu sha‘ dari kurma, kismis, atau jelai, atau nilainya dalam bentuk uang, dan ini lebih baik.”[3]

Madzhab Syafi’i

Dalam madzhab ini fatwa keharusan menyalurkan fidyah hanya boleh kepada faqir dan miskin dinyatakan oleh para imam di antaranya adalah Khatib asy Syarbini rahimahullah:

ومصرف الفدية الفقراء والمساكين فقط دون بقية الأصناف الثمانية الآتية في قسم الصدقات لقوله تعالى: {وعلى الذين يطيقونه فدية طعام مسكين} [البقرة] والفقير أسوأ حالا منه، فإذا جاز صرفها إلى المسكين فالفقير أولى، ولا يجب الجمع بينهما.
 

“Tempat penyaluran fidyah adalah kepada fakir dan miskin saja, tidak kepada golongan yang lain dari delapan golongan penerima zakat. Hal ini berdasarkan firman Allah Ta‘ala: ‘memberi makan seorang miskin’. Sementara fakir lebih buruk keadaannya daripada miskin. Maka jika boleh diberikan kepada miskin, kepada fakir tentu lebih utama. Dan tidak wajib menggabungkan keduanya.”[4]

Al imam ar Rafi’i rahimahullah berkata: “Yang keempat adalah fidyah, yaitu satu mud makanan, dan penyalurannya seperti penyaluran sedekah Maka yang dimaksud dengan sedekah di sini bukan zakat, sehingga fidyah tidak disalurkan kepada delapan golongan penerima zakat.”[5]

Al imam Suyuthi rahimahullah juga menyatakan:

وأن مصرفها طائفة ‌المساكين بخلاف غيرهم من أهل الزكاة

“Tempat penyaluran fidyah adalah kepada kelompok orang miskin, tidak kepada golongan lain dari penerima zakat.”[6]

Keterangan yang sama juga disebutkan dalam kitab Syafi’iyyah lainnya seperti Hasyiah Bujairami,[7] al Iqna’, [8] al Mahalli[9] dan lainnya.

Madzhab Hanbali

Sama dengan madzhab Maliki, kalangan Hanabilah hanya menyebutkan bila fidyah itu peruntukkannya kepada faqir miskin, tanpa ada penegasan tidak boleh untuk asnaf zakat lainnya. Al imam Ibnu Qudamah rahimahullah misalnya saat menyatakan tentang penyaluran fidyah beliau berkata:

واذا عجز عن الصوم لكبر افطر واطعم لكل يوم مسكينا، وجملة ذلك ان الشيخ الكبير والعجوز اذا كان يجهدهما الصوم ويشق عليهما مشقة شديدة فلهما ان يفطرا ويطعما لكل يوم مسكينا

“Dan apabila seseorang tidak mampu berpuasa karena usia tua, maka ia boleh berbuka dan memberi makan seorang miskin untuk setiap hari. Kesimpulannya, orang yang sangat tua, baik laki-laki maupun perempuan, apabila puasa sangat memberatkan dan menimbulkan kesulitan yang berat bagi mereka, maka keduanya boleh tidak berpuasa dan memberi makan seorang miskin untuk setiap hari yang ditinggalkan.”[10]

Kesimpulan

Fidyah hanya boleh disalurkan kepada orang yang berstatus faqir atau miskin, tidak untuk selainnya. Bila ada orang sakit atau terlilit hutang yang membutuhkan bantuan sedangkan ia berstatus miskin maka boleh saja kita membayarkan fidyah kepadanya. Disebutkan dalam Fatawa asy Syabakah al Islami dengan nomor fatwa 68596:

ولا مانع من دفع بعض تلك ‌الفدية أو الكفارة لأخيك إذا كان متصفا بصفة الفقراء لأنه من مصارفها، أما دفع ‌الفدية أو الكفارة لمريضة غير محتاجة على وجه الهدية أو غيرها فهذا لا يجوز لأنها ‌حق ‌للفقراء ‌والمساكين.

“Tidak mengapa memberikan sebagian fidyah atau kafarat tersebut kepada saudaramu jika ia termasuk orang fakir, karena ia termasuk pihak yang berhak menerimanya. Adapun memberikan fidyah atau kafarat kepada orang sakit yang tidak membutuhkan sebagai hadiah atau semacamnya, maka hal itu tidak diperbolehkan, karena fidyah tersebut merupakan hak bagi fakir dan miskin.”


Wallahu a’lam.

 


[1] Bada’i ash Shana’i (4/236)

[2] Al Bayan wa at Tahsil (5/254)

[3] Fiqh al Ibadah ‘ala Madzhab al Hanafi hlm. 120

[4] Mughni al Muhtaj (5/285)

[5] Fath al Aziz (6/456)

[6] Al Iklil fi al Istimbath at Tanzil hlm. 39

[7] Hasyiah Bujairami ‘ala al Khatib (2/401)

[8] Al Iqna’ 1/244)

[9] Al Mahalli (1/138)

[10] Al Mughni (6/136)