Oleh : KH. Ahmad Syahrin Thoriq
Tidak ada satu bulan pun yang begitu lekat disifati dengan sebutan keberkahan sebagaimana bulan Ramadhan. Jika hakikat barakah adalah bertambah dan berkembangnya nilai kebaikan, maka Ramadhan—berdasarkan makna itu—adalah keberkahan dalam waktu, keberkahan dalam amal, dan keberkahan dalam pahala. Dan salah satu bentuk keberkahan tersebut adalah karunia yang Allah Subhanahu wa Ta‘ala berikan berupa nikmat makan sahur ketika kita berpuasa.
Berikut ini adalah bahasan tentang salah satu aktivitas yang biasa dilakukan oleh kaum muslimin saat berpuasa, yakni makan sahur.
Pengertian sahur
Sahur adalah makanan atau minuman yang dimakan seseorang pada akhir malam di hari ia akan berpuasa. Disebut sahur karena dimakan pada waktu sahar, yaitu bagian akhir dari malam.[1]
Hukumnya
Hukum makan sahur saat akan berpuasa adalah sunnah, disebutkan dalam al Mausu’ah:
السحور سنة للصائم، وقد نقل ابن المنذر الاجماع على كونه مندوبا
“Sahur adalah sunnah bagi orang yang berpuasa. Ibn al Mundzir telah menukil adanya ijma’ bahwa sahur hukumnya dianjurkan.”[2]
Al imam Nawawi rahimahullah berkata:
اجمع العلماء على استحبابه وانه ليس بواجب
“Para ulama telah bersepakat bahwa sahur itu dianjurkan dan tidak wajib.”[3]
Keutamaannya
Meski ia tidak sampai derajat wajib, sahur memiliki beberapa keutamaan sebagaimana yang disebutkan dalam beberapa hadits berikut ini.
Sabda Nabi ﷺ :
تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِي السَّحُورِ بَرَكَةً
“Bersahurlah kalian, karena dalam sahur terdapat keberkahan.” (Mutafaqqun ‘alaih)
Dan sabda beliau ﷺ:
السُّحُورُ أَكْلُهُ بَرَكَةٌ فَلاَ تَدَعُوهُ وَلَوْ أَنْ يَجْرَعَ أَحَدُكُمْ جَرْعَةً مِنْ مَاءٍ فَإِنَّ اللَّهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى الْمُتَسَحِّرِينَ
“Makan sahur adalah makan penuh berkah. Janganlah kalian meninggalkannya walau dengan seteguk air karena Allah dan malaikat-Nya bershalawat kepada orang-orang yang makan sahur.” (HR. Ahmad)
Dan sabda beliau ﷺ:
الْبَرَكَةُ فِي ثَلَاثَةٍ: فِي الْجَمَاعَةِ، وَالثَّرِيدِ، وَالسَّحُورِ
“Keberkahan terdapat pada tiga perkara: pada jamaah, pada jenis makanan tsarid (roti yang dicampur kuah), dan pada sahur.” (HR. Thabrani)
Seorang shahabat yang bernama al ‘Irbadh bin Sariyah radhiyallahu ‘anhu berkata:
دَعَانِي رَسُولُ اللَّهِ ﷺ إِلَى السُّحُورِ فِي رَمَضَانَ، فَقَالَ: هَلُمَّ إِلَى الْغَدَاءِ الْمُبَارَكِ
Rasulullah ﷺ mengajakku untuk sahur pada bulan Ramadhan, lalu beliau bersabda:
“Kemarilah menuju makanan pagi yang penuh berkah.” (HR. Abu Dawud dan an Nasa’i).
Dan sabda beliau ﷺ:
فَصْلُ مَا بَيْنَ صِيَامِنَا وَصِيَامِ أَهْلِ الْكِتَابِ ، أَكْلَةُ السَّحَرِ
“Perbedaan antara puasa kita dan puasa Ahli Kitab adalah makan sahur.” (HR. Muslim)
Ketika menjelaskan hadits di atas, al imam Nawawi rahimahullah berkata:
واما البركة التي فيه فظاهرة؛ لانه يقوي على الصيام وينشط له وتحصل بسببه الرغبة في الازدياد من الصيام لخفة المشقة فيه على المتسحر. فهذا هو الصواب المعتمد في معناه
Adapun keberkahan yang terdapat di dalamnya jelas, karena ia menguatkan untuk berpuasa, menimbulkan semangat untuk melaksanakannya, dan dengan sebab sahur seseorang terdorong untuk menambah puasa karena terasa lebih ringan bagi orang yang bersahur. Inilah pendapat yang benar dan menjadi pegangan dalam maknanya.”[4]
Al imam Ibnu Hajar al Asqalani rahimahullah berkata:
البركة في السحور تحصل بجهات متعددة، وهي: اتباع السنة، ومخالفة اهل الكتاب، والتقوي به على العبادة، والزيادة في النشاط، ومدافعة سوء الخلق الذي يثيره الجوع، والتسبب بالصدقة على من يسأل اذ ذاك، او يجتمع معه على الاكل، والتسبب للذكر والدعاء وقت مظنة الاجابة، وتدارك نية الصوم لمن اغفلها قبل ان ينام.
“Keberkahan dalam sahur dapat diperoleh dari berbagai sisi, yaitu: mengikuti sunnah, menyelisihi Ahli Kitab, menguatkan diri untuk beribadah, menambah semangat, menolak akhlak buruk yang timbul karena lapar, menjadi sebab bersedekah kepada orang yang meminta saat itu atau makan bersama mereka, juga menjadi sebab untuk berdzikir dan berdoa pada waktu yang diharapkan terkabulnya doa, serta mengingatkan niat puasa bagi orang yang lupa berniat sebelum tidur.”[5]
Sedangkan al imam Munawi rahimahullah ketika menjelaskan maksud sabda Nabi ﷺ “Sesungguhnya Allah subhanahu wata’ala dan para malaikat-Nya bershalawat kepada orang-orang yang bersahur” berkata:
أي : الذين يتناولون السحور بقصد التقوي به على الصوم ؛ لما فيه من كسر شهوة البطن والفرج الموجبة لتصفية القلب وغلبة الروحانية على الجسمانية الموجبة للقرب من جانب الرب تعالى فلذلك كان السحور متأكد الندب جدا
“Yaitu orang-orang yang makan sahur dengan niat untuk menguatkan diri dalam berpuasa. Hal itu karena sahur dapat meredam syahwat perut dan kemaluan yang menjadi sebab bersihnya hati serta dominannya sisi ruhani atas sisi jasmani, yang menyebabkan kedekatan kepada Allah Ta‘ala. Oleh karena itu, sahur sangat dianjurkan.”[6]
Makanan sahur
Makanan apapun bisa masuk dalam kesunnahan makan sahur, bahkan meski ketika seseorang bersahur hanya dengan seteguk air. Berkata Syaikh Wahbah Zuhaili rahimahullah:
السحور على شيء وإن قل ولو جرعة ماء، وتأخيره لآخر الليل
“Sahur dianjurkan dengan sesuatu meskipun sedikit, walaupun hanya seteguk air, dan dianjurkan mengakhirkannya hingga akhir malam.”[7]
Namun yang paling afdhal adalah bersahur dengan memakan beberapa biji kurma, sebagaimana hal ini disebutkan dalam hadits :
نِعْمَ سَحُورُ الْمُؤْمِنِ التَّمْرُ
“Sebaik-baik sahur bagi seorang mukmin adalah kurma.” (HR. Ibnu Hibban)
Waktunya
Mayoritas ulama madzhab berpendapat bahwa waktu sahur adalah antara setengah malam terakhir hingga terbit fajar. Sebagian ulama Hanafiyah dan Syafi‘iyah mengatakan bahwa waktunya adalah antara seperenam malam terakhir hingga terbit fajar. Dan menurut mayoritas ulama disunnahkan untuk mengakhirkan sahur selama tidak dikhawatirkan terbitnya fajar kedua. [8] Hal ini berdasarkan firman Allah Ta‘ala:
وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الأَْبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الأَْسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ
“Dan makanlah serta minumlah hingga jelas bagi kalian benang putih dari benang hitam, yaitu fajar.” (QS. Al Baqarah: 187)
Yang dimaksud dengan fajar dalam ayat tersebut adalah fajar kedua, yakni fajar shadiq yang menandakan telah masuknya waktu Shubuh, berdasarkan sabda Nabi ﷺ:
لَا يَمْنَعَنَّكُمْ مِنْ سَحُورِكُمْ أَذَانُ بِلَالٍ، وَلَا الْفَجْرُ الْمُسْتَطِيل وَلَكِنَّ الْفَجْرَ الْمُسْتَطِيرَ فِي الأُْفُقِ
“Janganlah azan Bilal atau fajar yang memanjang menghalangi kalian dari sahur, tetapi yang dimaksud adalah fajar yang menyebar di ufuk.” (Hr. Tirmidzi)
Dan juga sabda beliau ﷺ:
لَا تَزَال أُمَّتِي بِخَيْرٍ مَا أَخَّرُوا السَّحُورَ وَعَجَّلُوا الْفِطْرَ
“Umatku akan senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka mengakhirkan sahur dan menyegerakan berbuka.” (HR. Ahmad)
Bolehkah sahur di waktu yang meragukan?
Para ulama Syafi‘iyah, Hanabilah, dan sebagian Hanafiyah berpendapat bahwa tidak makruh makan dan minum ketika masih ragu tentang terbitnya fajar yang kedua.[9] Al imam Ahmad berkata:
إذا شك في طلوع الفجر يأكل حتى يستيقن طلوعه، لأن الأصل بقاء الليل،
“Apabila seseorang ragu tentang terbitnya fajar, maka ia boleh makan sampai yakin bahwa fajar telah terbit, karena hukum asalnya adalah masih berlangsungnya malam.”[10]
Al imam al Ajurri dari kalangan Hanabilah juga berkata: “Seandainya seseorang berkata kepada dua orang yang mengetahui keadaan fajar, “Perhatikanlah fajar.” Lalu salah satu dari mereka berkata, ‘Fajar telah terbit,’ sementara yang lain berkata, ‘Belum terbit,’ maka ia boleh tetap makan hingga keduanya sepakat bahwa fajar telah terbit.”[11]
Al imam Nawawi rahimahullah berkata:
يجوز له الأكل والشرب والجماع إلى طلوع الفجر بلا خلاف لما ذكره المصنف ولو شك في طلوع الفجر جاز له الأكل والشرب والجماع وغيرها بلا خلاف حتى يتحقق الفجر للآية الكريمة (حتى يتبين لكم الخيط الابيض)
“Seseorang boleh makan, minum, dan berhubungan suami-istri hingga terbit fajar tanpa ada perselisihan, sebagaimana telah disebutkan oleh penulis. Jika seseorang ragu tentang terbitnya fajar, maka ia boleh makan, minum, dan melakukan hal-hal lain hingga benar-benar yakin bahwa fajar telah terbit. Hal ini berdasarkan firman Allah Ta‘ala: “hingga jelas bagi kalian benang putih dari benang hitam.”[12]
Adapun kalangan Hanafiyah lainnya berpendapat bahwa jika seseorang ragu tentang terbitnya fajar, maka yang dianjurkan baginya adalah tidak makan. Hal ini karena ada kemungkinan fajar telah terbit sehingga makan pada saat itu dapat merusak puasa, maka lebih baik berhati-hati dan meninggalkannya. Berkata al imam Badruddin al ‘Aini rahimahullah:
لو شك في طلوع الفجر فالأفضل له أن لا يتسحر فإن تسحر مع الشك لم يفسد صومه ولا قضاء عليه، لأنه في يقين من الليل وشك في النهار، والأصل أن اليقين لا يزول بالشك إلا إذا تسحر وأكبر رأيه أن الفجر طالع وقت السحر وأحب إلينا أن يقضي، ثم قال: كذا ذكر في كتاب الصوم.
“Jika seseorang ragu tentang terbitnya fajar, maka yang lebih utama baginya adalah tidak bersahur. Namun jika ia tetap bersahur dalam keadaan ragu, maka puasanya tidak rusak dan tidak wajib mengqadha, karena ia yakin bahwa waktu itu masih malam sementara yang diragukan adalah masuknya siang. Kaidahnya adalah bahwa keyakinan tidak hilang karena keraguan.”[13]
Sedangkan sebagian ulama lainnya yakni dari kalangan Malikiyyah menyatakan bahwa sahurnya seseorang di waktu yang meragukan hukumnya haram dan wajib hukumnya bagi orang tersebut untuk mengqadha puasanya. Al imam Abu Muhammad Abd al Wahhab al Baghdadi rahimahullah berkata:
من شك في طلوع الفجر فلا يأكل، فإن أكل فعليه القضاء وإن لم يتحقق، هكذا يجيء على أصولنا
“Barang siapa ragu apakah fajar telah terbit, maka ia tidak boleh makan. Jika ia makan, maka ia wajib mengqadha, walaupun belum yakin terbitnya fajar. Demikianlah menurut kaidah dalam madzhab kami.”[14]
Wallahu a’lam.
[1] Lisan al ‘Arab (4/351)
[2] Al Mausu’ah al Fiqhiyyah al Kuwaitiyyah (24/270)
[3] Syarh an Nawawi ‘ala Shahih Muslim (7/206)
[4] Syarh an Nawawi ‘ala Shahih Muslim (7/206)
[5] Fath al Bari (4/140)
[6] Faidh al Qadir (2/270)
[7] Fiqh al Islami wa Adillatuhu (3/1684)
[8] Bada’i al Shana’i (2/105), Mawahib al Jalil (2/397), Mughni al- Muhtaj (1/435), Nihayah al Muhtaj (3/177), al Mughni (3/169), Kasyaf al Qina’ (2/331), Syarh Muntaha al Iradat (1/455)
[9] Bada’i al Shana’i (2/105), al Majmu’ (6/360), Kasyfa al Qina’ (2/331), al Insaf (3/330), al Mughni (3/169).
[10] Kasyful al Qina (5/290)
[11] Kasyful al Qina (5/290)
[12] Majmu’ Syarah al Muhadzdzab (6/306)
[13] Al Binayah Syarhul Hidayah (4/101)
[14] Uyun al Masail li Qadhi Abdul Wahab al Maliki hlm. 215