HADITS KEUTAMAAN MEMBERI MAKAN BUKA PUASA

22 Feb 2026 Admin Article
 
 
Berikut adalah beberapa hadits yang menyebutkan tentnag keutamaan dari memberikan makan buka puasa, semoga kita smeua dimudahkan dalam mengamalkannya.
 
1. Akan mendapatkan pahala ibadah orang yang diberinya makan
مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لاَ يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا
“Siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun juga.” (HR. Tirmidzi )
 
2. Didoakan oleh para malaikat
Rasulullah shalallahu’alaihi wassalam berkata kepada seorang shahabat yang memberi makanan berbuka puasa :
ﺃﻓﻄﺮ ﻋﻨﺪﻛﻢ اﻟﺼﺎﺋﻤﻮﻥ، ﻭﺃﻛﻞ ﻃﻌﺎﻣﻜﻢ اﻷﺑﺮاﺭ، ﻭﺻﻠﺖ ﻋﻠﻴﻜﻢ اﻟﻤﻼﺋﻜﺔ
"Orang-orang berpuasa telah berbuka di rumahmu, makanan kalian dikonsumsi oleh orang-orang baik, dan malaikat akan mendoakan rahmat bagimu." (HR. Abu Daud)
 
3. Seperti memerdekakan budak dan menjadi sebab diampuni dosa-dosanya.
مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ عِتْقُ رَقَبَةٍ وَمَغْفِرَةٌ لِذُنُوبِهِ
“Siapa yang memberi makanan berbuka kepada orang yang berpuasa maka ia seperti memerdekakan budak dan dosa-dosanya akan diampuni.” (HR. Baihaqi)
 
4. Mendapatkan air telaga Rasulullah
وَمَنْ ‌أَشْبَعَ ‌صَائِمًا سَقَاهُ اللَّهُ مِنْ حَوْضِي شَرْبَةً لَا يَظْمَأُ حَتَّى يَدْخُلَ الْجَنَّةَ
“siapa yang memberi makan hingga kenyang orang yang berpuasa, maka kelak Allah akan memberikan ia minum dari telagaku satu tegukan yang membuatnya tidak akan pernah haus hingga ia masuk ke dalam syurga.” (HR. Ibnu Abi Dunya)
 
5. Fasilitas khusus di Syurga
إِنَّ فِى الْجَنَّةِ غُرَفًا تُرَى ظُهُورُهَا مِنْ بُطُونِهَا وَبُطُونُهَا مِنْ ظُهُورِهَا فَقَامَ أَعْرَابِىٌّ فَقَالَ لِمَنْ هِىَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ « لِمَنْ أَطَابَ الْكَلاَمَ وَأَطْعَمَ الطَّعَامَ وَأَدَامَ الصِّيَامَ وَصَلَّى لِلَّهِ بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ
 
“Sesungguhnya di dalam syurga terdapat kamar-kamar yang mana bagian luarnya terlihat dari bagian dalam dan bagian dalamnya terlihat dari bagian luarnya.' Lantas seorang arab baduwi berdiri sambil berkata, 'Untuk siapakah kamar-kamar itu wahai Rasulullah ?'
Beliau menjawab, 'Untuk orang yang berkata benar, yang memberi makan, dan yang senantiasa berpuasa dan shalat pada malam hari di waktu manusia sedang tidur.” (HR. Tirmidzi)

Salafus shalih dahulu sangat bersemangat dalam memberi makan dan mereka memandangnya sebagai salah satu ibadah yang paling utama. Sebagian dari mereka ada yang berkata:

لأن أدعو عشرة من أصحابي فأطعمهم طعاماً يشتهونه أحب إلي من أن أعتق عشرة من ولد إسماعيل


“Seandainya aku mengundang sepuluh sahabatku lalu memberinya makanan yang mereka sukai, itu lebih aku cintai daripada aku memerdekakan sepuluh budak dari keturunan Ismail.”[1]

Bahkan karena besarnya pahala ibadah ini, banyak dari kalangan salaf terdahulu yang lebih mengutamakan orang lain dengan makanan berbukanya padahal ia sendiri sedang berpuasa. Di antara mereka adalah Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, Dawud ath Tha’i, Malik bin Dinar, dan Ahmad bin Hanbal. Ibnu Umar tidak berbuka puasa kecuali bersama anak yatim dan orang miskin yang ikut makan bersamanya.

Sebagian salaf ada yang memberi makan saudara-saudaranya sementara ia sendiri tetap berpuasa, dan ia duduk melayani mereka. Sebagaimana hal ini diriwayatkan dari  al imam Hasan al Bashri dan al imam Ibnu al Mubarak.

Ibadah memberi makan melahirkan banyak ibadah lainnya, di antaranya: menumbuhkan rasa kasih dan cinta kepada orang yang diberi makan, yang itu menjadi sebab masuk surga. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

لَا تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ حَتَّىٰ تُؤْمِنُوا وَلَا تُؤْمِنُوا حَتَّىٰ تَحَابُّوا

“Kalian tidak akan masuk surga sampai kalian beriman, dan kalian tidak beriman sampai kalian saling mencintai.” (HR. Muslim no. 54)

Semoga bermanfaat.


[1] Tafsir Ibnu Rajab al hanbali (2/177)