Bagaimana tentang melatih anak-anak untuk berpuasa kiyai? Mohon arahan tuntunan dan caranya.
Oleh : KH. Ahmad Syahrin Thoriq
Melatih anak-anak untuk berpuasa adalah hal yang dituntunkan dalam Islam, ini adalah pendapat mayoritas ulama.[1] Hukumnya sah dan pahalanya akan diberikan kepada orang tua juga kepada orang yang mendidiknya.. Dalam sebuah hadits disebutkan:
وَنُصَوِّمُ صِبْيَانَنَا ، وَنَجْعَلُ لَهُمُ اللُّعْبَةَ مِنَ الْعِهْنِ ، فَإِذَا بَكَى أَحَدُهُمْ عَلَى الطَّعَامِ أَعْطَيْنَاهُ ذَاكَ ، حَتَّى يَكُونَ عِنْدَ الإِفْطَارِ
“Lalu anak-anak kami pun turut berpuasa. Kami sengaja membuatkan mereka mainan dari bulu. Jika salah seorang dari mereka menangis, merengek-rengek minta makan, kami memberi mainan padanya. Akhirnya pun mereka bisa turut berpuasa hingga waktu berbuka.”(HR. Bukhari Muslim)
Ketika menjelaskan hadits di atas, al imam Ibnu Hajar al Asqalanni rahimahullah berkata:
وفي الحديث حجة على مشروعية تمرين الصبيان على الصيام كما تقدم لأن من كان في مثل السن الذي ذكر في هذا الحديث فهو غير مكلف وإنما صنع لهم ذلك للتمرين
“Dalam hadits ini terdapat dalil tentang disyariatkannya melatih anak-anak untuk berpuasa, sebagaimana telah disebutkan sebelumnya. Sebab, anak-anak yang berusia seperti yang disebutkan dalam hadits ini belum memiliki kewajiban menjalankan perintah agama, mereka hanya dibiasakan berpuasa sebagai latihan.“[2]
Al imam Ibnu Bathal rahimahullah berkata:
أجمع العلماء أنه لا تلزم العبادات والفرائض إلا عند البلوغ ، إلا أن كثيرًا من العلماء استحبوا أن يدرب الصبيان على الصيام والعبادات رجاء بركتها لهم ، وليعتادوها ، وتسهل عليهم إذا لزمتهم
“Para ulama sepakat bahwa ibadah dan kewajiban lainnya, hukumnya tidak wajib kecuali jika seseorang sudah baligh. Namun mayoritas ulama menganjurkan agar anak dilatih berpuasa dan melakukan ibadah supaya mereka mendapatkan keberkahan ibadah itu, dan agar mereka terbiasa, serta mudah melakukannya ketika sudah wajib baginya.”[3]
Yang dimaksud anak -anak di sini adalah usia anak sebelum masa baligh tapi sesudah tamyiz. Yakni usia di mana anak sudah mampu membedakan hal baik dan buruk. Bahkan ulama menambahkan ia sudah memiliki kekuatan untuk menahan lapar dan haus, berkata al imam Ibnu Sirin rahimahullah:
يؤمر الصبي بالصلاة إذا عرف يمينه من شماله، وبالصوم إذا أطاقه
“Anak diperintahkan shalat apabila sudah dapat membedakan tangan kanan dan kirinya, dan diperintahkan berpuasa apabila telah mampu melakukannya.”[4]
Jika secara usia ulama berbeda pendapat tentang ukuran umur anak dikatakan sudah kuat untuk berpuasa. Jumhur ulama Syafi’iyyah dan Hanabilah berpendapat itu sekitar usia tujuh tahun, ada juga yang mengatakan 10 tahun bahkan 12 tahun sebagaimana yang dinyatakan oleh al imam Ishaq dan lainnya.[5] Al imam Ibnu Qudamah rahimahullah berkata:
واعتباره بالعشر الأولى؛ لأن النب ﷺ أمر بالضرب على الصلاة عندها، واعتبار الصوم بالصلاة أحسن؛ لقرب إحدى العبادتين من الأخرى، واجتماعهما في أنهما عبادتان بدنيتان من أركان الإسلام، إلا أن الصوم أشق فاعتبرت له الطاقة.
“Penetapan usia sepuluh tahun dipertimbangkan karena Nabi ﷺ memerintahkan memukul (mendisiplinkan) dalam shalat pada usia tersebut. Menyamakan puasa dengan shalat adalah lebih tepat, karena keduanya sama-sama ibadah badan dari rukun Islam. Hanya saja puasa lebih berat, maka dipertimbangkan adanya kemampuan.”[6]
Adapun cara melatih berpuasa anak-anak hendaknya lewat proses yang bertahap. Sebgian ulama membolehkan mengajari anak berpuasa hanya setengah hari, bahkan beberapa jam diawal-awal, sebagai bagian dari proses tersebut.
Jika anak- anak merengek meminta untuk berbuka, orang tua dianjurkan untuk mengalihkan dengan membuatkannya permainan dan hal lainnya. Namun jika itu tidak bermanfaat menghilangkan kelemahan mereka, sebaiknya diberikan makanan untuk membatalkan puasanya. Jangan sampai orang tua membebani anak berlebihan. Ingat, mereka masih dalam batas usia belum wajib untuk menjalankan syariat agama, termasuk berpuasa. Sehingga tidak mengapa membiarkan mereka berbuka jika nampak adanya kepayahan.
Yang juga harus diperhatikan saat melatih anak-anak berpuasa adalah memperhatikan aktivitas mereka di siang hari. Demi tercapainya pelatihan dan hasil yang baik. Mulai dari mengakhirkan sahur, mengawalkan berbuka, membatasi program yang berat atau banyak bermain, asupan gizinya, dll. Berikan kepada mereka motivasi dengan menyampaikan fadhilah dan keagungan berpuasa. Dan tentu yang paling utama adalah dalam bentuk keteladanan orang tuanya.
Demikian juga harus diawasi pergaulan mereka. Upayakan sebisa mungkin teman-teman yang bersamanya adalah yang juga dididik orang tuanya berpuasa. Dengan demikian mereka akan lebih mudah bertahan dalam menjaga puasa karena melihat temannya melakukan hal yang sama.
Semoga bermanfaat.