LAFADZ IJAB QABUL DALAM JUAL BELI

02 Feb 2026 Admin Article
LAFADZ IJAB QABUL DALAM JUAL BELI

Saya mau bertanya kiyai, apakah disyaratkan harus ada lafadz seperti saya jual dan saya beli dalam sebuah transaksi jual beli? Ataukah jual beli dengan saling serah-terima tanpa adanya ucapan terjadinya transaksi dibolehkan?

Kasusnya semisal kita membeli sesuatu di swalayan kita hanya meletakkan barang, lalu harga discan  oleh kasir dan kita langsung membayar sejumlah uang dan pergi.

Jawaban

Oleh : KH. Ahmad Syahrin Thoriq

Pertanyaan tentang apakah ijab dan kabul dalam jual beli harus diucapkan dengan lafadz tertentu, ataukah cukup dengan saling serah-terima tanpa ucapan, merupakan pembahasan fiqih klasik yang telah lama dikaji para ulama. Para ulama madzhab sepakat tanpa adanya perbedaan pendapat bahwa terjadinya akad jual beli dengan menggunakan bentuk lafadz lampau dalam ijab dan kabul adalah asal dari bentuk transaksi jual beli yang sah. Yaitu ijab dan kabul dengan lafadz lampau seperti “aku jual” dan “aku beli”.[1]

            Hal itu karena lafadz dalam bentuk lampau menunjukkan adanya keinginan antara pembeli dan penjual yang telah tetap untuk mengucapkannya serta adanya kehendak melakukan jual beli, sehingga rukun akad pun terpenuhi. Sebab, bentuk lafadz ini meskipun secara bahasa adalah bentuk lampau, namun dalam kebiasaan ahli bahasa dan dalam pandangan syariat ia dipahami sebagai ijab yang berlaku untuk keadaan saat ini, dan kebiasaan (‘urf) dalam hal ini menjadi penentu atas makna asal bahasa.

Para ulama kemudian berbeda pendapat bila transaksi jual beli itu dilakukan  tanpa adanya serah terima yang jelas dalam wujud ucapan dari penjual untuk menjualnya dan dari pembeli untuk membelinya, yang ini disitilahkan dengan jual beli mu’athah.

المعاطاة: أن يأخذ المشتري المبيع ويدفع للبائع الثمن، أو يدفع البائع المبيع فيدفع له الآخر الثمن، من غير تكلم ولا إشارة

“Adapun secara istilah mu’athah adalah pembeli mengambil barang yang dibeli dan menyerahkan harga kepada penjual, atau penjual menyerahkan barang lalu pihak lain menyerahkan harga, tanpa adanya ucapan dan tanpa isyarat.”[2]

Jual beli secara mu’athah ini diperselisihkan oleh para ulama, di mana sebagian ulama madzhab menyatakan ia tidak sah, sedangkan sebagian ulama yang lain menyatakan tetap sah. Berikut ini penjelasan dari masing-masing pendapat.

Tidak sah

Menurut pendapat yang mu’tamad dalam madzhab Syafi’iyyah dan sebagian ulama Hanabilah menyatakan bahwa bentuk jual beli tidak sah kecuali dengan adanya lafadz yang jelas dari penjual dan pembeli. Karena adanya lafadz serah terima, itulah jual beli dianggap terlaksana berdasarkan adat kebiasaan.

Dalil pendapat ini yang pertama adalah firman Allah ta’ala

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلَّا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian saling memakan harta sesama kalian dengan cara yang batil, kecuali dengan jalan perdagangan yang berlangsung atas dasar saling rela di antara kalian.” (QS. An Nisa: 29)

Dan juga ditegaskan dalam hadits Nabi yang berbunyi :

إنَّما البيعُ عَن تراضٍ

“Jual beli itu hanya dengan keridhaan.” (HR. Ibnu Majah)

Dipahami dari dua dalil di atas bahwa keridhaan adalah sesuatu yang tersembunyi di dalam hati, sehingga lafadz ijab qabul jual beli ini diperlukan untuk menunjukkan hal tersebut. Al imam Syairazi asy Syafi’i rahimahullah berkata:

ولا ينعقد ‌البيع إلا بالإيجاب والقبول فأما ‌المعاطاة فلا ينعقد فيها ‌البيع لأن اسم ‌البيع لا يقع عليه والإيجاب أن يقول بعتك أو ملكتك أو ما أشبههما والقبول أن يقول قبلت أو ابتعت أو ما أشبههما

“Jual beli tidak sah kecuali dengan ijab dan kabul. Adapun jual beli dengan cara saling serah-terima (mu‘aah), maka tidak sah jual belinya, karena istilah jual beli tidak berlaku padanya. Ijab adalah ucapan penjual seperti “aku jual kepadamu”, atau “aku jadikan milikmu”, atau ungkapan lain yang semakna. Sedangkan kabul adalah ucapan pembeli seperti “aku terima”, atau “aku beli”, atau ungkapan lain yang semakna.”[3]

Al imam Haramain rahimahullah berkata:

فظاهر المذهب والنص أن ‌المعاطاة لا تكون بيعاً، وإن اقترنت قرائن أحوال بها

“Menurut pendapat yang kuat dalam madzhab Syafi’i dan berdasarkan nash, jual beli mu’athah tidak dianggap sebagai jual beli, meskipun disertai dengan berbagai indikasi keadaan yang menunjukkan adanya maksud jual beli.”[4]

Tetap sah

Sedangkan sebagian ulama menyatakan bahwa ijab qabul atau serah terima dalam jual beli dalam bentuk ucapan bukanlah syarat sahnya sebuah jual beli. Jual beli itu sudah mencukupi dengan adanya kerelaan menyerahkan barang oleh penjual dan menerima barang oleh si pembeli selama tidak mengandung sesuatu yang diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Karena sebenarnya syariat tidak mensyaratkan dalam jual beli kecuali adanya kerelaan antara kedua belah pihak tersebut.  Sehingga firman Allah ta’ala:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلَّا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian saling memakan harta sesama kalian dengan cara yang batil, kecuali dengan jalan perdagangan yang berlangsung atas dasar saling rela di antara kalian.” (QS. An Nisa: 29)

Justru menjadi dalil tidak adanya penentuan bentuk lafadz tertentu dalam jual beli, tapi cukup dengan kerelaan masing-masing. Hal ini menunjukkan adanya kebebasan dalam bentuk pelaksanaannya. Kaum muslimin sejak dahulu melakukan jual beli di pasar-pasar mereka dengan cara demikian. Selain itu, jual beli telah ada di tengah mereka dan telah dikenal dengan baik, lalu syariat hanya mengaitkan hukum-hukum dengannya dan membiarkannya berjalan sebagaimana adanya. Maksudnya, tidak muncul bentuk lafadz baru yang secara khusus ditetapkan untuk menentukan cara bertransaksi.

Kedua, kalangan ini juga berdalil dengan pertimbangan rasional. Apabila telah terdapat sesuatu yang menunjukkan terjadinya jual beli, seperti adanya tawar-menawar dan saling serah-terima, maka hal itu telah menggantikan fungsi lafadz transaksi karena jual beli bukanlah ibadah yang bersifat ta‘abbudi. Sehingga ketika telah terjadi serah terima barang jual beli tersebut sudah dianggap sah karena terwujudnya kerelaan. Dikatakan:

أن لسان الحال انطق من لسان المقال  وأصدق منه  فأقيمت الدلالة الحالية مقام المقالية

“Sesungguhnya bahasa keadaan lebih fasih dan lebih jujur daripada bahasa ucapan, sehingga petunjuk yang ditangkap dari perbuatan ditempatkan pada posisi petunjuk dari lafadz.”[5]

Dalil ketiga dari pendapat ini  adalah adat kebiasaan. Keterikatan harus adanya akad menurut pendapat yang mensyaratkannya adalah disebabkan oleh kebiasaan yang berlaku dalam jual beli. Sebagaimana yang dinyatakan dalam kaidah:

المعروف ‌عرفًا ‌كالمشروط ‌شرطًا

“Sesuatu yang telah dikenal secara adat, kedudukannya seperti syarat yang disebutkan secara eksplisit.”[6]

Sehingga ketika adat kebiasaan di suatu masyarakat tidak menuntut adanya lafadz serah terima dalam sebuah transaksi jual beli karena sudah sama-sama maklum, maka ini dianggap telah sah dan mencukupi. Sebagaimana juga dinyatakan dalam kaidah lain:

كل ‌ما ‌ورد ‌به ‌الشرع ‌مطلقا، ‌ولا ‌ضابط ‌له ‌فيه، ‌ولا ‌في ‌اللغة، ‌يرجع ‌فيه ‌إلى ‌العرف

“Setiap perkara yang datang dalam syariat secara mutlak, tanpa batasan di dalam syariat maupun bahasa, maka rujukannya dikembalikan kepada adat.”[7]

Pendapat kedua ini dipegang oleh jumhur ulama madzhab yakni dari kalangan Hanafiyah,[8] Malikiyah,[9] sebagian ulama Hanabilah[10] dan juga beberapa ulama Syafi’iyyah.

Al imam Nawawi rahimahullah dari kalangan Syafi’iyyah yang turut memegang pendapat ini menyatakan:

وهذا هو المختار للفتوى وكذا قاله آخرون ‌وهذا ‌هو ‌المختار ‌لأن ‌الله تعالى أحل البيع ولم يثبت في الشرع لفظ له فوجب الرجوع إلى العرف فكلما عده الناس بيعا كان بيعا كما في القبض والحرز وإحياء الموات وغير ذلك من الألفاظ المطلقة فإنها كلها تحمل على العرف ولفظة البيع مشهورة وقد اشتهرت الأحاديث بالبيع من النبي صلى الله عليه وسلم وأصحابه رضي الله عنهم في زمنه وبعده ولم يثبت في شئ منها مع كثرتها اشتراط الإيجاب والقبول

“Pendapat inilah yang dipilih untuk dijadikan dasar fatwa, dan demikian pula dinyatakan oleh ulama-ulama lainnya. Pendapat ini dipilih karena Allah Ta‘ala telah menghalalkan jual beli, sementara tidak ada lafadz tertentu yang ditetapkan oleh syariat untuknya. Karena itu, wajib mengembalikannya kepada adat kebiasaan. Maka setiap hal yang oleh manusia dianggap sebagai jual beli, ia dihukumi sebagai jual beli, sebagaimana dalam masalah serah terima (qabdh), penguasaan (hirz), menghidupkan tanah mati, dan lafadz-lafadz lain yang datang secara mutlak; semuanya dikembalikan kepada adat kebiasaan.

Lafadz jual beli sendiri adalah lafadz yang sudah dikenal luas. Hadits-hadits tentang jual beli dari Nabi dan para sahabat beliau radhiyallahu ‘anhum pada masa beliau dan setelahnya pun telah banyak dan masyhur. Namun, tidak ditemukan dalam satu pun dari hadits-hadits tersebut—meskipun jumlahnya sangat banyak—adanya syarat keharusan ijab dan kabul secara lafadz.”[11]

Al imam al Mardawi al Hanbali rahimahullah berkata:

والمذهب صحة بيع المعاطاة وجزم بذلك في المستوعب والرعايتين والحاويين والفروع والفائق وغيرهم.

“Dan dalam pendapat madzhab adalah sahnya jual beli dengan cara mu’athah. Hal ini ditegaskan secara pasti dalam kitab al Mustaw‘ab, ar Ri‘ayatain, al Hawiyain, al Furu‘, al Fa’iq, dan kitab-kitab lainnya.”[12]

Al imam Ibnu Qudamah rahimahullah berkata:

البيع كان موجودا بينهم معلوما عندهم، وإنما علق الشرع عليه أحكاما، وأبقاه على ما كان، فلا يجوز تغييره بالرأي والتحكم، ولم ينقل عن النبي صلى الله عليه وسلم ولا عن أصحابه - مع كثرة وقوع البيع بينهم - استعمال الإيجاب والقبول، ولو استعملوا ذلك في بياعاتهم لنقل نقلا شائعا. ولو كان ذلك شرطا لوجب نقله، ولم يتصور منهم إهماله والغفلة عن نقله؛ ولأن البيع مما تعم به البلوى فلو اشترط له الإيجاب والقبول لبينه صلى الله عليه وسلم بيانا عاما، ولم يخف حكمه؛ لأنه يفضي إلى وقوع العقود الفاسدة كثيرا وأكلهم المال بالباطل، ولم ينقل ذلك عن النبي صلى الله عليه وسلم ولا عن أحد من أصحابه فيما علمناه. ولأن الناس يتبايعون في أسواقهم بالمعاطاة في كل عصر.

“Jual beli telah ada di tengah manusia dan dikenal dengan baik, lalu syariat hanya mengaitkan hukum-hukum dengannya dan membiarkannya tetap berjalan sebagaimana adanya. Maka tidak boleh mengubahnya dengan pendapat semata dan sikap sewenang-wenang. Tidak pula dinukil dari Nabi maupun dari para sahabat beliau—padahal jual beli sangat sering terjadi di antara mereka—bahwa mereka menggunakan ijab dan kabul secara lafadz. Seandainya mereka menggunakan ijab dan kabul dalam jual beli mereka, tentu hal itu akan dinukil secara luas dan masyhur.

Seandainya ijab dan kabul itu merupakan syarat sah jual beli, tentu wajib dinukil, dan tidak mungkin mereka mengabaikan atau lalai untuk menyampaikannya. Selain itu, jual beli termasuk perkara yang sangat dibutuhkan oleh semua orang dan terjadi secara umum. Maka seandainya ijab dan kabul disyaratkan, niscaya Nabi akan menjelaskannya dengan penjelasan yang bersifat umum dan tidak akan samar hukumnya. Sebab, jika tidak demikian, hal itu akan berakibat pada sering terjadinya akad-akad yang rusak dan saling memakan harta dengan cara yang batil.

Namun, hal tersebut tidak dinukil dari Nabi dan tidak pula dari seorang pun di antara para sahabat beliau sejauh yang kami ketahui. Di samping itu, manusia di setiap zaman melakukan jual beli di pasar-pasar mereka dengan cara saling serah-terima (ta‘ati), dan tidak dinukil adanya pengingkaran terhadap praktik tersebut sebelum munculnya pihak-pihak yang menyelisihi. Maka hal itu menjadi suatu bentuk kesepakatan (ijma).”[13]

Penutup

Dapat kita simpulkan bahwa keabsahan jual beli dalam fiqih Islam bertumpu pada terwujudnya kerelaan antara penjual dan pembeli. Namun, cara menampakkan kerelaan tersebut dapat dikatakan tidak selalu bersifat tunggal, melainkan mengikuti jenis transaksi, nilai harta, serta potensi sengketa yang mungkin timbul darinya.

Sehingga untuk jual beli yang bernilai tinggi, jarang terjadi, dan menyangkut harta besar seperti jual beli rumah, tanah, atau kendaraan, maka wajib adanya ijab dan kabul yang jelas sebagai bentuk penjagaan terhadap hak-hak para pihak dan penutupan pintu perselisihan. Kewajiban ini dapat terpenuhi baik melalui lafadz lisan ijab dan kabul maupun melalui akad tertulis dan dokumen resmi yang diakui, karena dokumen tersebut secara substansi telah merepresentasikan kehendak, kesepakatan, dan kerelaan kedua belah pihak secara tegas.

Adapun jual beli kebutuhan sehari-hari yang bersifat ringan dan telah menjadi kebiasaan umum di tengah masyarakat, maka jual beli dengan cara saling serah-terima tanpa ijab dan kabul lisan sudah mencukupi dan sah. Dalam transaksi semacam ini, kerelaan para pihak telah dipahami melalui perbuatan, penetapan harga, dan praktik yang berlaku secara umum, sehingga tidak menimbulkan ketidakjelasan atau potensi sengketa yang berarti.

Dengan demikian, perbedaan bentuk akad dalam fiqih bukanlah perbedaan hukum yang saling bertentangan, melainkan pengaturan yang proporsional berdasarkan nilai transaksi dan tingkat risiko. Transaksi yang bernilai besar dan rawan perselisihan wajib dijaga dengan ijab dan kabul yang jelas atau akad tertulis, sedangkan transaksi ringan yang telah menjadi ‘urf cukup dengan serah-terima yang dipahami bersama sebagai bentuk kemudahan dalam Islam.

Untuk jenis jual beli seperti ini tidak perlu dibuat ribet dan sulit dengan adanya syarat wajibnya ijab dan qabul di dalamnya. Generasi awal umat ini hingga berlangsung sekarang ini telah melakukan jual beli di pasar-pasar mereka dengan cara saling serah-terima tanpa diringi lafadz dan tidak pernah dinukil adanya pengingkaran terhadap praktik tersebut.[14]

Wallahu a‘lam.


[1] Badai ash Shana’i fi Tartib asy Syara’i (5/133), Bidayat al Mujtahid wa Nihayat al Muqtashid (2/141), al Majmu’ Syarah al Muhadzdzab (9/162), asy Syarh al Kabir (5/220)

[2] Al Mausu’ah al Fiqhiyyah al Kuwaitiyyah (12/198)

[3] Al Muhadzdzab (2/3)

[4] Nihayah al Mathlab (5/432)

[5] AL Binayah Syarah al Hidayah (7/130)

[6] Jami’ al Masail wal Qawaid fi Ulum al Ushul wal Maqashid (4/256)

[7] Al Asybah wa an Nadzair li Suyuthi hlm. 98

[8] Al Hidayah Syarah Bidayah al Mubtadi (3/23)

[9] Syarah al Kabir (5/221)

[10] Al Mughni (5/220)

[11] Majmu’ Syarah al Muhadzdzab (9/126)

[12] Al Inshaf (13/38)

[13] Al Mughni (12/199)

[14] Mausu’ah al Fiqhiyyah ala Madzhab al Arba’ah (6/27)