Berkaitan dengan pembelajaran pagi ini pak kiyai, tentang niat puasa Ramadhan. Kami mendapatkan ilmu dari kiyai kampung kami bahwa niat puasa Ramadhan wajib dihadirkan di dalam hati ketika sahur atau malam harinya agar puasa kita sah. Tetapi ada beberapa ustadz dari kalangan tertentu yang menganggap niat puasa Ramadhan cukup 1 kali di awal Ramadhan untuk 1 bulan penuh, alias tidak harus berniat setiap malam. Apakah ini salah satu pendapat dari imam madzhab yang empat kiyai?
Jawaban
Oleh : KH. Ahmad Syahrin Thoriq
Ulama berbeda pendapat tentang permasalahan ini, apakah niat seseorang untuk berpuasa di hari-hari Ramadhan sudah tercukupi dengan niat sebulan penuh di awal bulan, ataukah ia harus berniat untuk setiap hari dari puasanya tersebut. Berikut adalah rincian dari masing-masing pendapat.
- Niat puasa harus setiap hari
Pendapat ini dipegang oleh kalangan Syafi’iyyah, Hanabilah dan juga ulama-ulama dari madzhab Hanafiyah.[1] Jumhur ulama berpendapat bahwa niat harus diperbarui setiap hari di bulan Ramadhan, dilakukan pada malam hari atau sebelum zawal (ini menurut Hanafi).[2] Hal ini agar menahan diri saat puasa itu jelas sebagai ibadah, bukan sekadar menahan diri karena kebiasaan atau diet.
Juga karena setiap hari merupakan ibadah yang berdiri sendiri, tidak saling terkait satu sama lain, dan tidak rusak sebagian karena rusaknya sebagian yang lain. Di antara hari-hari puasa itu juga terdapat sesuatu yang bertentangan dengannya, yaitu malam-malam yang di dalamnya halal apa yang haram di siang hari. Maka puasa Ramadhan menyerupai qadha, berbeda dengan haji dan rakaat-rakaat shalat.[3]
Asy Syaikh al Jamal dari madzhab Syafi’i berkata :
فلو نوى ليلة أول رمضان صوم جميعه لم يكف لغير اليوم الأول لكن ينبغي له ذلك ليحصل له صوم اليوم الذي نسي النية فيه
“Seandainya seseorang berniat pada malam pertama Ramadhan untuk berpuasa seluruh bulan Ramadhan, maka niat itu tidak mencukupi untuk selain hari pertama. Akan tetapi disunnahkan baginya melakukan hal itu, supaya ia mendapatkan sahnya puasa pada hari yang ia lupa.”[4]
Al imam Qulyubi asy Syafi’i rahimahullah berkata :
التبييت أي كل ليلة عندنا كالحنابلة والحنفية
“Berniat di malam hari, yaitu setiap malam menurut kami (syafi’iyyah), sebagaimana pendapat Hanabilah dan Hanafiyah.”[5]
Al imam Badruddin al A’ini al Hanafi rahimahullah berkata :
وعندنا لا بد من النية لكل يوم؛ لأنها ش: أي لأن صيام الشهر م: (عبادات متفرقة) ش: أي صوم كل يوم عبادة وحدها، ألا ترى أن الفساد في الأصل لا يمنع صحة الباقي، فكانت كصلاة مختلفة فيستدعي لكل نية واحدة.
“Menurut kami, wajib ada niat untuk setiap hari, karena puasa sebulan itu adalah ibadah-ibadah yang terpisah. Maksudnya, puasa setiap hari adalah satu ibadah tersendiri. Tidakkah engkau melihat bahwa rusaknya sebagian tidak menghalangi sahnya yang lain? Maka ia seperti shalat-shalat yang berbeda, sehingga setiap satu membutuhkan satu niat.”[6]
Al imam Abu Ya’la al Hanbali rahimahullah berkata :
لا بد من نية لكل يوم من الليل، وهو أصح، لأنه صوم يوم واجب فكانت النية من شرطه وفي ليلته دليله اليوم الأول.
“Wajib ada niat untuk setiap hari yang dilakukan pada malam harinya, dan inilah pendapat yang paling sahih. Karena puasa itu adalah puasa satu hari yang wajib, maka niat menjadi salah satu syaratnya, dan waktunya adalah pada malam hari. Dalilnya adalah puasa hari pertama.”[7]
B. Niat di awal Ramadhan mencukupi
Sedangkan sebagian ulama yang lain yakni dari kalangan Malikiyah berpendapat bahwa niat di awal Ramadhan sudah mencukupi untuk semua niat dari hari-hari di dalamnya. Terkecuali jika di dalam harinya ada yang terputus, maka wajib untuk berniat kembali. Di antara dalil yang digunakan oleh pendapat ini adalah bahwa niat untuk puasa sebulan penuh sejak awalnya adalah bahwa ibadah puasa itu dikhususkan dengan bolehnya mendahulukan niat sebelum masuk waktu pelaksanaannya dengan suatu jarak waktu, yaitu seseorang berniat sejak awal malam bahwa besok ia akan berpuasa.
Yang mana hal ini tidak boleh pada ibadah-ibadah lainnya kecuali niatnya harus berbarengan dengan mulai masuk ke dalam ibadah tersebut. Maka ketika hal itu dibolehkan dalam puasa, dan puasa itu berbeda dengan ibadah-ibadah lainnya, maka tentu boleh saja mengawalkan niat sejak awal Ramadhan.[8]
Syaikh Ahmad bin Muhammad al Miyarah al Maliki berkata :
كرمضان بالنسبة للحاضر الصحيح، وشهري كفارة الظهار وكفارة تعمد فطر رمضان ونحوها تكفيه نية واحدة في أوله لجميعه، إلا إن نفي وجوب التتابع مانع لذلك الوجوب من مرض أو سفر أو حيض
“Seperti Ramadhan bagi orang yang mukim dan sehat, dan seperti dua bulan puasa pada kafarat zhihar serta kafarat karena sengaja membatalkan puasa Ramadhan, dan yang semisalnya, maka cukup baginya satu niat saja di awalnya untuk seluruhnya. Kecuali jika ada penghalang yang meniadakan kewajiban berurutan itu, seperti sakit, safar, atau haid..”[9]
Demikian, Wallahu a’lam.
[1] Al Mausu’ah al Fiqhiyyah al Kuwaitiyyah (28/26)
[2] Ad Dar al Mukhtar (2/87)
[3] Al Majmu’ Syarah al Muhadzdzab (6/302)
[4] Hasyiah al Jamal (2/311)
[5] Hasyiah al Qulyubi (2/66)
[6] AL Banayah Syarah al Hidayah (4/95)
[7] Ar riwayatain wal Wajhain (1/253)
[8] Syarah Mukhtashar al Kubra lil Abhari (1/220)
[9] Ad Dur ats Tsamin hlm. 470