Oleh : KH. Ahmad Syahrin Thoriq
Setiap kali kita ingin memperbaiki diri dan mendekat kepada Allah, yang pertama kali terlintas di pikiran biasanya adalah bagaimana memperbanyak amal. Kita ingin lebih rajin shalat, merutinkan dzikir, memperbanyak sedekah dan akan lebih bersungguh-sungguh dalam beribadah. Itu semua sebenarnya adalah niat yang mulia dan patut diapresiasi.
Namun ada satu hal mendasar yang sering luput dari perhatian kita, yaitu apakah amal yang ingin kita lakukan itu sudah kita pahami ilmunya atau belum. Cara beragama yang baik dan benar, ia tak cukup hanya bermodal semangat saja. Niat baik saja tidak memenuhi syarat untuk diterimanya amal di sisi Allah ta’ala, karena syarat di terimanya amal selain niatnya benar, caranya juga harus benar. Dan yang disebut cara, itu berkaitan dengan ilmu.
Para ulama sejak generasi awal sudah mengingatkan bahwa ilmu harus didahulukan sebelum berkata dan sebelum beramal. Sebab ilmu adalah penunjuk jalan, sedangkan amal adalah seumpama perjalanan itu sendiri. Kalau penunjuk jalannya keliru atau tidak ada, maka perjalanan sejauh apa pun bisa berakhir pada arah yang salah.
Berikut ini adalah diantara nasehat penting dari para ulama tentang masalah pentingnya mempersiapkan ilmu sebelum kita terjun ke dalam medan amal yang akan kita kerjakan.
Sayidina Umar bin Abdul Aziz rahimahullah berkata :
من عبد الله بغير علم كان ما يفسد أكثر مما يصلح
“Barangsiapa beribadah kepada Allah tanpa ilmu, maka kerusakan yang ia timbulkan lebih banyak daripada kebaikan yang ia hasilkan.”[1]
Imam Hasan al Bashri rahimahullah berkata :
العامل على غير علم كالسالك على غير طريق، والعامل على غير علم ما يفسد أكثر مما يصلح, فاطلبوا العلم طلبًا لا تضروا بالعبادة، واطلبوا العبادة طلبًا لا تضروا بالعلم
“Orang yang beramal tanpa ilmu seperti orang yang berjalan tanpa jalan. Dan orang yang beramal tanpa ilmu, kerusakan yang ia timbulkan lebih banyak daripada perbaikan yang ia hasilkan. Maka carilah ilmu dengan cara yang tidak merusak ibadah, dan carilah ibadah dengan cara yang tidak merusak ilmu.”[2]
Al imam Bukhari rahimahullah berkata :
باب: العلم قبل القول والعمل لقول الله تعالى {فاعلم أنه لا إله إلا الله} فبدأ بالعلم، وأن العلماء هم ورثة الأنبياء ورثوا العلم
“Bab: Ilmu sebelum berkata dan beramal. Berdasarkan firman Allah Ta‘ala: “Maka ketahuilah bahwa tidak ada sesembahan yang benar selain Allah.” Allah memulai dengan perintah berilmu. Dan bahwa para ulama adalah pewaris para nabi, mereka mewarisi ilmu.”[3]
Al imam Ibnu Jama’arh rahimahullah berkata :
الاشتغال بالعلم لله أفضل من نوافل العبادات البدنية؛ من صلاة وصيام وتسبيح ودعاء ونحو ذلك؛ لأن نفع العلم يعم صاحبه والناس، والنوافل البدنية مقصورة على صاحبها، ولأن العلم مصحح لغيره من العبادات، فهي تفتقر إليه وتتوقف عليه، ولا يتوقف هو عليها
“Menyibukkan diri dengan menuntut ilmu karena Allah lebih utama daripada amalan-amalan sunnah yang bersifat fisik, seperti shalat, puasa, tasbih, doa, dan semisalnya. Karena manfaat ilmu mencakup diri pemiliknya dan juga orang lain, sedangkan amalan-amalan sunnah yang bersifat fisik manfaatnya terbatas pada pelakunya sendiri. Dan karena ilmu meluruskan dan membenahi ibadah-ibadah yang lain, sementara ibadah-ibadah itu membutuhkan ilmu dan bergantung kepadanya, sedangkan ilmu tidak bergantung kepada ibadah-ibadah tersebut.”[4]
Al imam Ibnu Mundzir rahimahullah berkata :
أن العلم شرط في صحة القول والعمل، فلا يُعتبران إلا به، فهو متقدم عليهما؛ لأنه مصحح للنية المصححة للعمل، فنبه المصنف على ذلك حتى لا يسبق إلى الذهن من قولهم: (إن العلم لا ينفع إلا بالعمل) تهوين أمر العلم، والتساهل في طلبه
“Bahwa ilmu adalah syarat sahnya perkataan dan perbuatan, maka keduanya tidak dianggap (benar) kecuali dengannya. Karena itu ilmu didahulukan atas keduanya, sebab ia yang meluruskan niat yang dengannya amal menjadi benar. Maka penulis mengingatkan hal ini agar tidak terlintas dalam benak dari ucapan mereka “sesungguhnya ilmu tidak bermanfaat kecuali jika diamalkan” sikap meremehkan kedudukan ilmu dan bermudah-mudahan dalam menuntutnya.”[5]
Al imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata :
العامل بلا علم كالسائر بلا دليل، ومعلوم أن عطب مثل هذا أقرب من سلامته، وإن قدر من سلامته اتفاقًا نادرًا فهو غير محمود بل مذموم عند العقلاء
“Orang yang beramal tanpa ilmu seperti orang yang berjalan tanpa penunjuk jalan. Dan sudah maklum bahwa kebinasaan orang seperti ini lebih dekat daripada ia mendapatkan keselamatan. Kalaupun ia bisa selamat, itu hanyalah kebetulan yang jarang terjadi, dan itu pun tidak terpuji, bahkan tercela menurut orang-orang berakal.”[6]
Semoga bermanfaat.