DALIL DAN HAKIKAT TABARRUK

22 Jan 2026 Admin Article

 

Oleh : KH. Ahmad Syahrin Thoriq

           Pembahasan tabarruk pada bab ini dimaksudkan untuk menegaskan bahwa mencari keberkahan kepada pihak atau benda yang diberikan keberkahan oleh Allah secara hukum asal memiliki dasar yang jelas dalam sumber-sumber syariat. Ia tidak dibangun di atas tradisi atau kebiasaan semata apalagi dianggap bagian dari adat istiadat jahiliyah, tetapi berdiri di atas landasan pendalilan yang kokoh dari al Quran, as Sunnah dan sebagian dari perkara Tabarruk dinyatakan sebagai bagian dari perkara yang disepakati oleh para ulama.

            Karena itu, pembahasan dalil-dalil tabarruk akan ditata dengan menunjukkan bagaimana nash-nash al Quran dan as Sunnah menetapkan adanya keberkahan pada seseorang atau sesuatu, serta bagaimana tuntunan syariat dalam mencari keberkahan dari sesuatu yang mengandung berkah tersebut.

Dalil al Qur’an

Allah ta’ala berfirman :

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

 “Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kekuasaan) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Al Isra : 1)

Dan firmanNya,

إِنَّ أَوَّلَ بَيْتٍ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِي بِبَكَّةَ مُبَارَكًا وَهُدًى لِلْعَالَمِينَ

 “Sesungguhnya rumah (ibadah) yang pertama kali dibangun untuk manusia adalah Baitullah yang di Bakkah (Makkah), yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi seluruh alam.” (QS. Ali Imran : 96)

Dan firmanNya,

وَجَعَلَنِي مُبَارَكًا أَيْنَ مَا كُنْتُ وَأَوْصَانِي بِالصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ مَا دُمْتُ حَيًّا

 “Dan Dia menjadikanku seorang yang diberkahi di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkanku (menunaikan) shalat dan zakat selama aku hidup.” (QS. Maryam : 31)

Dan firmanNya,

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَٰكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

 “Sekiranya penduduk negeri-negeri itu beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka keberkahan dari langit dan bumi. Akan tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka karena apa yang selalu mereka kerjakan.” (QS. Al A’raf : 96)

Dan firmanNya,

ٱذْهَبُوا۟ بِقَمِيصِى هَٰذَا فَأَلْقُوهُ عَلَىٰ وَجْهِ أَبِى يَأْتِ بَصِيرًا وَأْتُونِى بِأَهْلِكُمْ أَجْمَعِينَ

“Pergilah kamu dengan membawa bajuku ini, lalu usapkan ke wajah ayahku, nanti dia akan melihat kembali; dan bawalah seluruh keluargamu kepadaku.” (QS. Yusuf: 93)
 

Dalil as Sunnah

Dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu beliau berkata :

وُلِدَ لِأَبِي مُوسَى غُلَامٌ، فَجَاءَ بِهِ إِلَى النَّبِيِّ ﷺ فَحَنَّكَهُ النَّبِيُّ ﷺ أَيْ: أَخَذَ تَمْرَةً فَلَاكَهَا فِي فَمِهِ، ثُمَّ وَضَعَهَا فِي فَمِ الطِّفْلِ لِيَنْزِلَ فِي بَطْنِهِ شَيْءٌ حُلْوٌ، ثُمَّ دَعَا لَهُ بِالْبَرَكَةِ، وَبَعْدَ ذَلِكَ سَمَّاهُ إِبْرَاهِيمَ

“Abu Musa dikaruniai seorang anak laki-laki, lalu ia membawanya kepada Nabi Nabi kemudian mentahniknya dengan mengunyah kurma dan memasukkannya ke mulut bayi itu, lalu mendoakan keberkahan untuknya dan menamainya Ibrahim.” (Mutafaqqun ‘alaih)

Ketika menjelaskan hadits di atas, al imam Nawawi rahimahullah berkata :

اما احكام الباب ففيه استحباب تحنيك المولود، وفيه التبرك باهل الصلاح والفضل

“Adapun hukum-hukum yang diambil dari bab ini, di dalamnya terdapat anjuran untuk mentahnik bayi yang baru lahir. Di dalamnya juga terdapat anjuran untuk bertabarruk dengan orang-orang yang shalih dan utama.”[1]

Dari Ibnu Umar radhiyallahu’anhuma beliau berkata :

يَا رَسُولَ اللَّهِ ، الْوُضُوءُ مِنْ جَرٍّ جَدِيدٍ مُخَمَّرٍ أَحَبُّ إِلَيْكَ أَمْ مِنَ الْمَطَاهِرِ ؟ فَقَالَ : ” لا ، بَلْ مِنَ الْمَطَاهِرِ ، إِنَّ دِينَ اللَّهِ الْحَنِيفِيَّةُ السَّمْحَةُ ” ، قَالَ: وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَبْعَثُ إِلَى الْمَطَاهِرِ ، فَيُؤْتَى بِالْمَاءِ ، فَيَشْرَبُهُ ، يَرْجُو بَرَكَةَ أَيْدِي الْمُسْلِمِينَ
 

“Wahai Rasulullah, apakah berwudhu dari bejana baru yang tertutup lebih engkau sukai, atau dari tempat-tempat air (umum)?” Maka beliau bersabda: ‘Tidak, tetapi dari tempat-tempat air (umum). Sesungguhnya agama Allah itu adalah agama yang lurus lagi mudah.’

Ibnu Umar berkata : Dan Rasulullah biasa menyuruh mengambil air dari tempat-tempat air (umum), lalu dibawakan air itu kepada beliau, kemudian beliau meminumnya, dengan harapan mendapatkan keberkahan dari tangan-tangan kaum muslimin.” (HR. Thabrani)

Dari Itban bin Malik radhiyallahu’anhu ia berkata :

أَتَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ فَقُلْتُ: إِنِّي قَدْ أَنْكَرْتُ بَصَرِي، وَإِنَّ السُّيُولَ تَحُولُ بَيْنِي وَبَيْنَ مَسْجِدِ قَوْمِي، وَلَوَدِدْتُ أَنَّكَ جِئْتَ فَصَلَّيْتَ فِي بَيْتِي مَكَانًا أَتَّخِذُهُ مَسْجِدًا. فَقَالَ النَّبِيُّ   أَفْعَلُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ. قَالَ: فَمَرَّ النَّبِيُّ عَلَى أَبِي بَكْرٍ فَاسْتَتْبَعَهُ، فَانْطَلَقَ بِهِ، فَاسْتَأْذَنَ فَدَخَلَ، فَقَالَ وَهُوَ قَائِمٌ: ‌أَيْنَ ‌تُرِيدُ ‌أَنْ ‌أُصَلِّيَ؟ فَأَشَرْتُ لَهُ حَيْثُ أُرِيدُ، قَالَ: ثُمَّ حَبَسْتُهُ عَلَى (خَزِيرٍ صَنَعْنَاهُ) لَهُ، فَسَمِعَ بِهِ أَهْلُ الْوَادِي -يَعْنِي أَهْلَ الدَّارِ- فَثَابُوا إِلَيْهِ حَتَّى امْتَلأَ الْبَيْتُ.

“Aku datang kepada Rasulullah lalu aku berkata: ‘Sesungguhnya penglihatanku telah berkurang, dan sungai sering meluap sehingga menghalangiku dan kaumku (untuk pergi ke masjid). Aku ingin sekali jika engkau datang lalu shalat di rumahku di suatu tempat yang akan aku jadikan sebagai masjid.’ Maka Nabi saw bersabda: ‘Aku akan melakukannya, insya Allah.’

Ia  berkata: Maka Nabi singgah ke rumah Abu Bakar lalu mengajaknya ikut, kemudian beliau berangkat bersamanya. Beliau meminta izin lalu masuk. Sambil berdiri beliau bersabda: ‘Di mana engkau ingin aku shalat?’ Maka aku menunjuk ke tempat yang aku kehendaki.

Ia berkata: Kemudian aku menahan beliau dengan (hidangan hazir yang kami siapkan) untuk beliau. Lalu penduduk lembah—maksudnya penghuni rumah—mendengarnya, maka mereka pun berdatangan hingga rumah itu penuh.” (HR. Ahmad)

Ketika mengomentari hadits ini al imam Ibnu Hajar al Asqalani rahimahullah berkata :

وفيه التبرك بالمواضع التي صلى فيها النبي ﷺ او وطئها

“Di dalamnya terdapat dalil tentang bolehnya bertabarruk dengan tempat-tempat yang pernah dipakai shalat oleh Nabi atau yang pernah beliau pijak.”[2]

Dan disebutkan dalam hadits :

وَإِذَا تَوَضَّأَ كَادُوا يَقْتَتِلُونَ عَلَىٰ وُضُوئِهِ

“Dan apabila beliau (Nabi ) berwudhu, mereka (para sahabat) hampir-hampir saling berkelahi karena memperebutkan air wudhunya.” (HR. Bukhari)

Dalil Ijma’

Tabarruk yang syar’i –sebagaimana yang nanti akan dijelaskan jenis-jenisnya- telah disepakati oleh para ulama akan pensyariatannya, diantaranya adalah bertabarruk dengan Nabi dan bekas peninggalan beliau yang mulia.  Dalam kitab al Mausu’ah disebutkan :

اتفق العلماء على مشروعية التبرك بآثار النبي ﷺ وأورد علماء السيرة والشمائل والحديث أخبارا كثيرة تمثل تبرك الصحابة الكرام رضي الله عنهم بأنواع متعددة من آثاره ﷺ

“Para ulama telah sepakat tentang disyariatkannya bertabarruk dengan peninggalan-peninggalan Nabi. Dan para ulama sirah, syama’il, dan hadits telah meriwayatkan banyak sekali berita yang menggambarkan tabarruk para sahabat yang mulia dengan berbagai macam peninggalan beliau.”[3]

BERKAH HANYA DARI ALLAH

Setiap orang beriman wajib meyakini dengan keyakinan yang kokoh bahwa segala bentuk kebaikan, kenikmatan, dan keberkahan yang ada di alam semesta ini, baik yang berkaitan dengan urusan agama maupun dunia, seluruhnya berasal dari Allah semata. Tidak ada satu pun makhluk yang mampu mendatangkan kebaikan secara mandiri, dan tidak pula memiliki kekuasaan hakiki untuk memberi manfaat atau menolak mudarat kecuali dengan izin dan kehendak Allah.

Keyakinan ini merupakan bagian dari asas tauhid. Allah adalah Pemilik kerajaan, Pengatur seluruh urusan, dan Sumber seluruh kebaikan dan karunia. Apa pun yang sampai kepada seorang hamba berupa nikmat, taufik, keselamatan, kelapangan, dan keberhasilan, semuanya adalah murni karunia dari Allah. Mari kita renungi ayat-ayat terkait masalah ini.

Allah Ta‘ala berfirman:

قُلِ اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاءُ وَتُعِزُّ مَنْ تَشَاءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاءُ بِيَدِكَ الْخَيْرُ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

“Katakanlah: Wahai Allah, Pemilik kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada siapa yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari siapa yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan siapa yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan siapa yang Engkau kehendaki. Di tangan-Mu-lah segala kebaikan. Sesungguhnya Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu.” (Ali Imran: 26)

Allah Ta‘ala berfirman:

وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ

“Dan apa saja nikmat yang ada pada kalian, maka itu berasal dari Allah.” (QS. An-Nahl: 53)

وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَتَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا

“Jika kalian menghitung nikmat Allah, niscaya kalian tidak akan mampu menghitungnya.” (QS.  An-Nahl: 18)

مَا عِنْدَكُمْ يَنْفَدُ وَمَا عِنْدَ اللَّهِ بَاقٍ


“Apa yang ada di sisi kalian pasti akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah kekal.” (QS. An-Nahl: 96)

إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ

“Sesungguhnya Allah, Dialah Maha Pemberi rezeki, Yang mempunyai kekuatan lagi Maha Kokoh.” (QS. Adz-Dzariyat: 58)

يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ


“Wahai manusia, kalianlah yang fakir kepada Allah, dan Allah Dialah Yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” (QS. Fathir: 15)

Ketika menjelaskan ayat-ayat di atas al imam Abu Manshur al maturidi rahimahullah berkata:

وحب اللَّه من المؤمنين .. إذ علموا ‌النعم ‌كلها ‌من ‌اللَّه تعالى، وعلموا أن السلطان والعزة لله ولا أحد ينال شيئًا من ذلك إلا باللَّه

“Adapun kecintaan orang-orang beriman kepada Allah .. sebab mereka mengetahui bahwa seluruh nikmat itu semuanya dari Allah Ta‘ala, dan mereka mengetahui bahwa kekuasaan dan kemuliaan itu milik Allah, dan tidak ada seorang pun yang memperoleh sedikit pun dari itu kecuali dengan Allah.”[4]

Lalu makna ini juga ditegaskan dalam begitu banyak hadits-hadits Nabawi, diantaranya adalah sabda Rasulullah di mana Allah ta’ala berfirman :

يقول الله تعالى: يا آدم. فيقول: لبيك وسعديك، والخير في يديك

“Allah berfirman: ‘Wahai Adam.’ Adam menjawab: ‘Aku penuhi panggilan-Mu dan aku taati-Mu, dan segala kebaikan ada di tangan-Mu…’” (HR. Bukhari)

Sebuah riwayat dari sayidina Ali bin Abi Thalib, bahwa Rasulullah apabila berdiri untuk shalat, beliau membaca:

وجهت وجهي للذي فطر السماوات والأرض … لبيك وسعديك، والخير كله في يديك

“Aku hadapkan wajahku kepada Zat yang menciptakan langit dan bumi… Aku penuhi panggilan-Mu dan aku taati-Mu, dan seluruh kebaikan berada di tangan-Mu.” (HR. Muslim)

Al imam Ghazali rahimahullah berkata:

فأما في حق الله تعالى فلا يتم إلا بأن يعرف ‌أن ‌النعم ‌كلها ‌من ‌الله وهو المنعم والوسائط مسخرون من جهته

“Adapun dalam hak Allah Ta‘ala, maka tidak akan sempurna kecuali dengan mengetahui bahwa seluruh nikmat itu semuanya dari Allah, Dialah Sang Pemberi Nikmat, sedangkan perantara-perantara hanyalah ditundukkan dan digerakkan dari sisi-Nya.”[5]

            Jika kebaikan dan nikmat di dunia dan akhirat seluruhnya merupakan karunia Allah, maka tetapnya nikmat itu, bertambahnya, dan berkembangnya kebaikan itu juga berasal dari Allah. Inilah yang disebut dengan berkah. Maka berkah itu seluruhnya dari Allah, dan hanya Allah yang memiliki keberkahan dan yang memberkahi. Karena itu Allah menyifati diri-Nya dengan firman-Nya:

تَبَارَكَ اللَّهُ


“Maha Berkah Allah…”

Dan dalam al Qur’an, lafaz “berkah”, “tabaraka”, “mubarak” tidak pernah disandarkan secara hakiki kecuali kepada Allah. Allah Ta‘ala berfirman:

قِيلَ يَا نُوحُ اهْبِطْ بِسَلَامٍ مِنَّا وَبَرَكَاتٍ عَلَيْكَ


“Dikatakan: Wahai Nuh, turunlah dengan keselamatan dari Kami dan dengan keberkahan-keberkahan dari Kami.” (QS. Hud: 48)

رَحْمَتُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الْبَيْتِ


“Rahmat Allah dan keberkahan-Nya atas kalian, wahai Ahlul Bait.” (QS. Hud: 73)

Dari sini menjadi jelas bahwa berkah pada hakikatnya adalah dari Allah, milik Allah, dan di tangan Allah. Seluruh makhluk bergantung kepada-Nya, meminta kepada-Nya, dan tidak bisa hidup, bergerak, atau bertahan kecuali dengan pemberian dan karunia-Nya.

Maka seluruh keberkahan, kebaikan, dan nikmat kembali kepada Allah ta’ala. Siapa yang menginginkan keberkahan, hendaknya ia memintanya kepada Allah, menggantungkan hatinya kepada Allah, dan hanya menempuh sebab-sebab untuk mencari keberkahan lewat jalan yang Allah syariatkan.

 

Wallahu a'lam

 


[1] Syarah an Nawawi ‘ala Shahih Muslim (14/44)

[2] Fath al Bari (3/144)

[3] Al Mausu’ah al Fiqhiyyah al Kuwaitiyyah (10/70)

[4] Tafsir al Maturidi (1/615)

[5] Ihya al Ulumiddin (4/82)