SHALAT JAHR DIBACA SIRR

09 Jan 2026 Admin Article

 

Ustadz ana mau tanya, bolehkah shalat Shubuh, Maghrib dan Isya dikerjakan dengan tidak mengeraskan suara baik itu ketika shalat sendiri maupun berjama’ah?

Jawaban

Oleh : KH. Ahmad Syahrin Thoriq

Masalah mengeraskan dan memelankan bacaan dalam shalat pada asalnya bukan termasuk rukun dan bukan pula syarat sah shalat, melainkan bagian dari sunnah yang diajarkan oleh Rasulullah . Dalam praktik shalat Nabi yang diriwayatkan secara mutawatir maknanya, beliau mengeraskan bacaan pada shalat Shubuh, dua rakaat pertama Maghrib, dan dua rakaat pertama Isya, serta memelankan bacaan pada shalat Zhuhur dan Ashar, dan pada rakaat terakhir Maghrib serta dua rakaat terakhir Isya. Pola ini terus-menerus dilakukan oleh Nabi dan diikuti oleh para sahabat, sehingga menjadi sunnah yang mapan dalam tata cara shalat. Di antara dalilnya adalah :

Shalat Jahriyah

Dalil untuk shalat Maghrib di antaranya adalah hadits dari Jubair bin Muth’im radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:


سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْرَأُ بِالطُّورِ فِي الْمَغْرِبِ

 “Aku mendengar Rasulullah membaca surat at Thur pada shalat Maghrib.” (HR. Muslim)

Dalil untuk shalat Isya di antaranya adalah hadits dari al Barra’ bin Adzib radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:

سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْرَأُ:  وَالتِّينِ وَالزَّيْتُونِ  فِي الْعِشَاءِ، وَمَا سَمِعْتُ أَحَدًا أَحْسَنَ صَوْتًا مِنْهُ

 “Aku pernah mendengar Nabi membaca “Wat tiini waz zaitun” dalam shalat Isya. Tidak pernah aku mendengar orang yang lebih bagus suaranya melebihi beliau.” (Mutafaqqun ‘alaih)

Dalil untuk shalat Shubuh di antaranya adalah hadits dari Quthbah bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,

أَنَّهُ صَلَّى مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الصُّبْحَ، فَقَرَأَ فِي أَوَّلِ رَكْعَةٍ: ﴿وَالنَّخْلُ بَاسِقَاتٍ لَهَا طَلْعٌ نَضِيدٌ﴾. وَرُبَّمَا قَالَ: ق

“Ia pernah shalat subuh bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau pada rakaat pertama membaca ayat “baasiqaatin lahaa thal’un nadhiid” (surat Qaaf ayat 10).” (HR. Muslim)

Shalat Sirriyah

Dalam hadits dari Khabbab bin al Arat radhiyallahu ‘anhu, ada yang bertanya kepada beliau :

أَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ يَقْرَأُ فِي الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ؟ قَالَ: نَعَمْ. قُلْنَا: بِمَ كُنْتُمْ تَعْرِفُونَ ذَلِكَ؟ قَالَ: بِاضْطِرَابِ لِحْيَتِهِ

 “Apakah pada shalat Zhuhur dan Ashar Nabi Rasulullah membaca ayat al Qur’an? Khabbab menjawab: Iya. Orang tadi bertanya lagi: Bagaimana kalian mengetahuinya? Khabbab menjawab: Dari gerakan jenggot beliau.” (HR. Bukhari)

Al imam Nawawi rahimahullah berkata:

فالسنة الجهر في ركعتي الصبح والمغرب والعشاء وفي صلاة الجمعة، والإسرار في الظهر والعصر، وثالثة المغرب، والثالثة والرابعة من العشاء، وهذا كله بإجماع المسلمين مع الأحاديث الصحيحة المتظاهرة على ذلك

“Maka sunnahnya adalah mengeraskan bacaan pada dua rakaat shalat Subuh, (dua rakaat pertama) shalat Maghrib dan Isya, serta pada shalat Jumat. Dan disirrkan (dipelankan) pada shalat Zhuhur dan Ashar, serta pada rakaat ketiga Maghrib, dan rakaat ketiga dan keempat Isya. Dan semua ini berdasarkan kesepakatan kaum muslimin, dengan didukung oleh hadits-hadits shahih yang saling menguatkan tentang hal tersebut.”[1]

Jumhur ulama menyatakan bahwa mengeraskan dan memelankan bacaan pada tempatnya masing-masing hukumnya sunnah. Jika seseorang memelankan bacaan pada shalat yang disunnahkan dikeraskan, atau mengeraskan bacaan pada shalat yang disunnahkan dipelankan, maka shalatnya tetap sah dan tidak wajib mengulanginya.

            Hukum ini berlaku baik bagi orang yang shalat sendirian maupun bagi imam. Adapun makmum, maka pada asalnya ia tidak mengeraskan bacaan di belakang imam dalam shalat yang dikeraskan. [2]

Al imam  al Kharsyi al Maliki rahimahullah berkata:

من سنن الصلاة: الجهر فيما يجهر فيه كأولتي المغرب والعشاء والصبح والسر فيما يسر فيه كالظهر والعصر وأخيرتي العشاء

 “Di antara sunnah-sunnah shalat adalah mengeraskan bacaan pada shalat yang dibaca keras, seperti dua rakaat pertama Maghrib dan Isya serta Shubuh, dan memelankan bacaan pada shalat yang dibaca pelan, seperti Zhuhur dan Ashar serta dua rakaat terakhir Isya.”[3]

Al imam al Khatib asy Syarbini asy Syafi‘i rahimahullah berkata :

وهيئاتُ الصلاةِ.. والمرادُ بها هنا ما عدا الأبعاض من السننِ التي لا تُجبر بالسجودِ، وهي كثيرةٌ، والمذكورةُ منها هنا: (خمسة عشر خصلة).. الخامسةُ: (الجهرُ) بالقراءةِ (في مَوْضِعِهِ)؛ فيُسَنُّ لِغَيرِ المأمومِ أنْ يَجْهَرَ بالقراءةِ في الصبحِ، وَأُولتَيِ العشاءين، والجمعةِ، والعيدين، وخسوفِ القمرِ، والاستسقاءِ، والتراويح، ووتر رمضان، وركعتي الطوافِ ليلًا أو وقتَ الصبحِ، (والإسرارُ) بها (في موضعهِ)

 “Hai’ah shalat .. yang dimaksud di sini adalah selain sunnah-sunnah ab‘adh yang tidak ditutup dengan sujud sahwi. Jumlahnya banyak, dan yang disebutkan di sini ada lima belas perkara. Yang kelima adalah mengeraskan bacaan pada tempatnya. Maka disunnahkan bagi selain makmum untuk mengeraskan bacaan dalam shalat Shubuh, dua rakaat pertama Maghrib dan Isya, shalat Jum’at, dua shalat Id, shalat gerhana bulan, shalat istisqa, shalat tarawih, witir Ramadhan, dan dua rakaat thawaf pada malam hari atau waktu Shubuh, dan memelankan bacaan pada tempatnya.”[4]

Al Imam Ibnu Qudamah al Hanbali rahimahullah berkata

 وجملة ذلك أن الجهر والإخفات في موضعهما من سنن الصلاة، لا تبطل الصلاة بتركه عمدا

 “Kesimpulannya, mengeraskan dan memelankan bacaan pada tempatnya masing-masing termasuk sunnah shalat. Shalat tidak batal karena meninggalkannya, meskipun dengan sengaja.”[5]


            Sedangkan menurut ulama Hanafiyah untuk shalat sendiri boleh saja seseorang memelankan shalat Jahriyah atau menjaharkan shalat sirriyah, tapi bagi imam shalat wajib memperhatikan bacaan yang dikeraskan pada shalat-shalat yang memang disunnahkan dikeraskan, yaitu shalat Shubuh, Maghrib, dan Isya pada dua rakaat pertama, demikian pula setiap shalat yang disyaratkan berjama’ah, seperti shalat Jumat, dua shalat Id, dan shalat tarawih. Ia juga wajib memelankan bacaan pada shalat-shalat yang memang dibaca pelan. Hal itu karena Nabi senantiasa mengeraskan bacaan pada shalat yang dibaca keras dan memelankan bacaan pada shalat yang dibaca pelan. Dan perbuatan beliau yang terus-menerus demikian itu menunjukkan adanya kewajiban. Inilah yang diamalkan oleh umat Islam.

Al imam As Sarkhasi al Hanafi rahimahullah berkata :

مراعاة صفة القراءة في كل صلاة بالجهر والمخافتة واجب على الإمام

“Memperhatikan cara bacaan dalam setiap shalat, apakah dengan mengeraskan atau memelankan (pada tempatnya masing-masing), adalah wajib bagi imam.”[6]

Kesimpulan

            Menurut Jumhur ulama tetap sah shalat yang dikerjakan dengan memelankan bacaan shalat Jahr, demikian juga sebaliknya. Wallahu a’lam.

 

[1] Al Majmu’ Syarah al Muhadzdzab (3/384)

[2] Al Mausu’ah al Fiqhiyyah al Kuwaitiyyah (16/183)

[3] Syarah Mukhtashar Khalil (1/275)

[4] Al Iqna‘ (1/142)

[5] Al Mughni (2/25)

[6] Al Mabsuth (1/222)