A. Dalil Ijma’
Ahlus Sunnah wal Jama‘ah telah bersepakat bahwa seluruh sahabat adalah orang-orang yang adil, tanpa pengecualian, baik yang terlibat dalam fitnah maupun yang tidak. Mereka tidak membedakan satu sama lain; semuanya dinilai adil berdasarkan dalil nyata dan kemuliaan yang Allah karuniakan kepada mereka berupa kehormatan bersahabat dengan Nabi-Nya, serta berbagai keutamaan besar yang mereka miliki, seperti menolong Rasul, berhijrah kepadanya, berjihad di hadapannya, menjaga urusan agama, dan menegakkan batasan-batasannya. Oleh karena itu, kesaksian dan riwayat mereka diterima tanpa perlu bersusah payah meneliti sebab-sebab keadilan mereka. Berikut ini adalah nukilan sebagian pernyataan ulama tentang hal ini:
Al imam Khatib al Baghdadi rahimahullah berkata:
إنه لو لم يرد من الله عز وجل ورسوله فيهم شئ مما ذكرناه، لأوجبت الحال التى كانوا عليها من الهجرة، والجهاد، والنصرة، وبذل المهج، والأموال، وقتل الآباء والأولاد، والمناصحة فى الدين، وقوة الإيمان واليقين: القطع على عدالتهم، والاعتقاد لنزاهتهم، وأنهم أفضل من جميع المعدلين والمزكين، الذين يجيئون من بعدهم أبد الآبدين. هذا مذهب كافة العلماء ومن يعتد بقوله من الفقهاء
“Seandainya tidak ada satu pun nash dari Allah dan Rasul-Nya mengenai mereka sebagaimana yang telah kami sebutkan, niscaya keadaan yang mereka jalani—berupa hijrah, jihad, pertolongan terhadap agama, pengorbanan jiwa dan harta, memerangi ayah dan anak, saling menasihati dalam agama, serta kuatnya iman dan keyakinan—sudah cukup untuk memastikan keadilan mereka, meyakini kebersihan dan integritas mereka, serta menetapkan bahwa mereka lebih utama daripada seluruh orang yang dinilai adil dan direkomendasikan kebaikannya yang datang setelah mereka hingga selama-lamanya. Inilah madzhab seluruh ulama dan orang-orang yang pendapatnya dianggap dari kalangan fuqaha.”[1]
Al imam al Iraqi rahimahullah berkata:
إن جميع الأمة مجمعة على تعديل من لم يلابس الفتن منهم وأما من لابس الفتن منهم وذلك حين مقتل عثمان رضي الله عنه فأجمع من يعتد به أيضاً فى الإجماع على تعديلهم إحساناً للظن بهم، وحملاً لهم فى ذلك على الاجتهاد
“Sesungguhnya seluruh umat telah bersepakat menetapkan keadilan orang-orang yang tidak terlibat fitnah di antara para sahabat. Adapun mereka yang terlibat dalam fitnah—yaitu pada masa terbunuhnya ‘Utsman radhiyallahu‘anhu—maka orang-orang yang pendapatnya dianggap dalam ijma‘ juga telah bersepakat menetapkan keadilan mereka, dengan berbaik sangka kepada mereka dan membawa perbuatan mereka dalam peristiwa tersebut kepada ijtihad.”[2]
Al imam al Ghazali rahimahullah berkata:
والذى عليه سلف الأمة، وجماهير الخلق، أن عدالتهم معلومة بتعديل الله عز وجل إياهم وثنائه عليهم فى كتابه، فهو معتقدنا فيهم، إلا أن يثبت بطريق قاطع ارتكاب واحد لفسق مع علمه به، وذلك مما لا يثبت فلا حاجة لهم إلى التعديل – ثم ذكر بعض ما دل على عدالتهم من كتاب الله عز وجل وسنة رسوله صلى الله عليه وسلم ثم قال: فأى تعديل أصح من تعديل علام الغيوب – سبحانه - وتعديل رسوله صلى الله عليه وسلم كيف ولو لم يرد الثناء لكان فيما اشتهر وتواتر من حالهم فى الهجرة، والجهاد، وبذل المهج، والأموال، وقتل الآباء والأهل، فى موالاة رسول الله صلى الله عليه وسلم، ونصرته، كفاية فى القطع بعدالتهم
“Pendapat yang dipegang oleh generasi awal umat ini dan mayoritas manusia adalah bahwa keadilan para sahabat telah diketahui dengan adanya penetapan keadilan dari Allah dan pujian-Nya kepada mereka dalam Kitab-Nya. Itulah keyakinan kami terhadap mereka. Kecuali jika terbukti dengan cara yang pasti bahwa salah seorang dari mereka melakukan kefasikan dengan pengetahuan penuh akan hal itu—dan hal semacam ini tidak pernah terbukti—maka tidak ada kebutuhan lagi untuk menetapkan keadilan mereka. Kemudian beliau menyebutkan sebagian dalil dari Kitab Allah dan sunnah Rasul-Nya yang menunjukkan keadilan mereka, lalu berkata: Maka penetapan keadilan manakah yang lebih sahih daripada penetapan keadilan oleh Yang Maha Mengetahui segala yang gaib, dan penetapan keadilan oleh Rasul-Nya? Bahkan seandainya tidak ada pujian sekalipun, niscaya apa yang telah masyhur dan mutawatir dari keadaan mereka berupa hijrah, jihad, pengorbanan jiwa dan harta, memerangi ayah dan keluarga demi loyalitas kepada Rasul Allah dan menolong beliau, sudah cukup untuk memastikan keadilan mereka secara pasti.”[3]
Al imam al Juwaini rahimahullah berkata:
السبب فى قبولهم من غير بحث عن أحوالهم، والسبب الذى أتاح الله الإجماع لأجله، أن الصحابة هم نقلة الشريعة، ولو ثبت توقف فى رواياتهم، لانحصرت الشريعة على عصر رسول الله صلى الله عليه وسلم، ولما استرسلت على سائر الأعصار
“Sebab diterimanya riwayat mereka tanpa meneliti keadaan pribadi masing-masing, dan sebab Allah memungkinkan terjadinya ijma‘ atas hal tersebut, adalah karena para sahabat merupakan para penyampai syariat. Seandainya terjadi keraguan atau penangguhan terhadap riwayat-riwayat mereka, niscaya syariat akan terbatas hanya pada masa Rasulullah, dan tidak akan berlanjut serta tersebar ke seluruh masa setelahnya.”[4]
Al imam Nawawi rahimahullah berkata:
ولهذا اتفق أهل الحق ومن يعتد به في الإجماع على قبول شهاداتهم ورواياتهم وكمال عدالتهم
“Oleh karena itu, Ahlul Haq dan orang-orang yang pendapatnya dianggap dalam ijma‘ telah bersepakat untuk menerima kesaksian dan riwayat mereka, serta menetapkan kesempurnaan keadilan mereka.”[5]
Beliau rahimahullah juga berkata:
الصحابة كلهم عدول من لابس الفتن وغيرهم بإجماع من يعتد به
“Para sahabat semuanya adalah orang-orang yang adil, baik yang terlibat dalam fitnah maupun yang tidak, berdasarkan ijma‘ orang-orang yang pendapatnya dianggap.”[6]
Al imam Ibnu Abdil Barr rahimahullah:
لإجماع أهل الحق من المسلمين وهم أهل السنة والجماعة على أنهم كلهم عدول فواجب الوقوف على أسمائهم
“…Karena adanya kesepakatan Ahlul Haq dari kaum muslimin, yaitu Ahlus Sunnah wal Jama‘ah, bahwa mereka semua adalah orang-orang yang adil—maka kewajiban kita adalah mengetahui nama-nama mereka.”[7]
Al imam Ibnu katsir rahimahullah berkata:
والصحابة كلهم عدول عند أهل السنة والجماعة لما أثنى الله عليهم في كتابه العزيز، وبما نطقت به السنة النبوية في المدح لهم في جميع أخلاقهم وأفعالهم وما بذلوه من الأموال والأرواح بين يدي رسول الله صلى الله عليه وسلم رغبة فيما عند الله من الثواب الجزيل والجزاء الجميل
“Para sahabat seluruhnya adalah orang-orang yang adil menurut Ahlus Sunnah wal Jama‘ah, berdasarkan pujian Allah kepada mereka dalam Kitab-Nya yang mulia, serta berdasarkan apa yang ditegaskan oleh sunnah Nabi berupa pujian kepada mereka dalam seluruh akhlak dan perbuatan mereka, serta apa yang mereka korbankan berupa harta dan jiwa di hadapan Rasul, demi mengharap apa yang ada di sisi Allah berupa pahala yang besar dan balasan yang indah.”[8]
Al imam Ibnu ash Shalah rahimahullah berkata:
للصحابة بأسرهم خصيصة وهي أنه لا يسأل عن عدالة أحد منهم، بل ذلك أمر مفروغ منه لكونهم على الإطلاق معدلين بنصوص الكتاب والسنة وإجماع من يعتد به في الإجماع من الأمة
“Para sahabat secara keseluruhan memiliki satu keistimewaan, yaitu bahwa keadilan seorang pun dari mereka tidak perlu dipertanyakan. Hal itu merupakan perkara yang telah selesai, karena mereka secara mutlak telah dinilai adil berdasarkan nash-nash Kitab dan sunnah, serta ijma‘ umat yang pendapatnya dianggap dalam ijma‘.”[9]
Beliau rahimahullah juga berkata:
إن الأمة مجمعة على تعديل جميع الصحابة ومن لابس الفتن منهم، فكذلك بإجماع العلماء الذين يعتد بهم في الإجماع إحساناً للظن بهم ونظراً إلى ما تمهد لهم من المآثر، وكأن الله سبحانه وتعالى أتاح الإجماع على ذلك لكونهم نقلة الشريعة والله أعلم
“Sesungguhnya umat telah bersepakat menetapkan keadilan seluruh sahabat, termasuk mereka yang terlibat dalam fitnah. Demikian pula dengan ijma‘ para ulama yang pendapatnya dianggap, sebagai bentuk berbaik sangka kepada mereka dan dengan memperhatikan keutamaan-keutamaan besar yang telah mereka miliki. Seakan-akan Allah memudahkan terjadinya ijma‘ atas hal tersebut karena mereka adalah para penyampai syariat. Dan Allah Maha Mengetahui.”[10]
Al imam Ibnu Hajar al Asqalani rahimahullah berkata:
اتفق أهل السنة على أن الجميع عدول، ولم يخالف في ذلك إلا شذوذ من المبتدعة
“Ahlus Sunnah telah bersepakat bahwa mereka semuanya adalah orang-orang yang adil, dan tidak ada yang menyelisihi hal ini kecuali segelintir dari kalangan ahli bid‘ah.”[11]
Al imam as Sakhawi rahimahullah berkata :
وهم رضي الله عنهم باتفاق أهل السنة عدول كلهم مطلقاً كبيرهم وصغيرهم لابس الفتنة أم لا وجوباً لحسن الظن، ونظراً إلى ما تمهد لهم من المآثر من امتثال أوامره بعده صلى الله عليه وسلم وفتحهم الأقاليم وتبليغهم عنه الكتاب والسنة وهدايتهم الناس ومواظبتهم على الصلاة والزكاة وأنواع القربات مع الشجاعة والبراعة والكرم والإيثار والأخلاق الحميدة التي لم تكن في أمة من الأمم المتقدمة
“Mereka—radhiyallahu‘anhum—menurut kesepakatan Ahlus Sunnah adalah orang-orang yang adil seluruhnya secara mutlak, baik yang tua maupun yang muda, baik yang terlibat fitnah maupun yang tidak. Hal ini sebagai kewajiban untuk berbaik sangka kepada mereka, serta dengan memperhatikan berbagai keutamaan besar yang telah Allah hamparkan bagi mereka, berupa ketaatan mereka terhadap perintah-perintah Nabi setelah wafatnya, pembukaan berbagai wilayah, penyampaian al Qur’an dan sunnah dari beliau, pemberian petunjuk kepada manusia, ketekunan mereka dalam menegakkan shalat, menunaikan zakat, dan berbagai bentuk ibadah lainnya, disertai dengan keberanian, kecakapan, kedermawanan, sikap mengutamakan orang lain, serta akhlak-akhlak mulia yang tidak pernah dimiliki oleh satu pun umat dari umat-umat terdahulu.”[12]
Al imam al Alusi rahimahullah berkata:
اعلم أن أهل السنة ـ إلا من شذ ـ أجمعوا على أن جميع الصحابة عدول يجب على الأمة تعظيمهم، فقد أخلصوا الأعمال من الرياء نفلاً وفرضاً واجتهدوا في طاعة مولاهم ليرضى وغضوا أبصارهم عن الشهوات غضاً
“Ketahuilah bahwa Ahlus Sunnah—kecuali segelintir yang menyimpang—telah bersepakat bahwa seluruh sahabat adalah orang-orang yang adil, dan umat wajib mengagungkan mereka. Mereka telah memurnikan amal-amal dari riya, baik yang sunnah maupun yang wajib, bersungguh-sungguh dalam menaati Tuhan mereka demi meraih keridhaan-Nya, serta menundukkan pandangan dari syahwat dengan sebenar-benarnya.”[13]
Kami rasa yang telah disebutkan di atas sudah mencukupi untuk mewakili pernyataan ijma‘ dari kaum muslimin akan keadilan para sahabat nabi radhiyallahu ‘alaihim. Tidak tersisa lagi bagi siapa pun keraguan atau kebimbangan setelah adanya penetapan keadilan dari Allah dan Rasul-Nya serta ijma‘ umat atas hal tersebut.
Adapun segelintir orang dan kelompok yang berpendapat dengan menyelisihi ijma‘ ini, mereka adalah pihak yang pendapatnya tidak dianggap dan penyelisihan mereka tidak bernilai. Mereka ini tidak layak disebutkan kecuali sebatas untuk menjelaskan kebatilannya dan jauhnya dari kebenaran, seperti kelompok syiah Rafidhah, mu’tazilah atau orang-orang sekuler liberal yang kebanyakan menjadikan para misionaris sebagai rujukan mereka dalam beragama.
Bersambung..
[1] Al Kifayah hlm. 96
[2] Syarh Alfiah al Iraqi (13/3)
[3] Al Mustashfa (1/164)
[4] Al Burhan fi Ushul Fiqh (1/242), Irsyad al Fakhul (1/275)
[5] Syarh an Nawawi ‘ala Shahih Muslim (15/149)
[6] Taqrib an Nawawi ma’a Syarhihi Tadrib ar Rawi (2/214)
[7] Al Isti’ab ‘ala Hasyiah al Ishabah (1/8)
[8] Al Ba’its al Hatsits hlm. 181
[9] Muqadimah Ibnu ash Shalah hlm. 146
[10] Muqadimah Ibnu ash Shalah hlm. 147
[11] Al Ishabah (1/17)
[12] Fath al Mugits Syarah Alfiah al Hadits (3/108)
[13] Al Ahubbah al ‘Iraqiyyah ‘ala al As’ilah al Lahuriyyah, hlm. 10.