Oleh : KH. Ahmad Syahrin Thoriq
Sesungguhnya keadilan yang kita tetapkan bagi para sahabat Rasulullah ﷺ bukanlah keadilan yang kita sematkan begitu saja berdasarkan hawa nafsu keinginan kita, karena siapapun kita tidaklah memiliki wewenang untuk bisa melakukan itu. Akan tetapi, keadilan tersebut telah tetap bagi mereka semua berdasarkan nash al Qur’an al Karim dan as-Sunnah asy-Syarifah; baik di antara mereka yang lebih dahulu masuk Islam maupun yang belakangan, yang berhijrah maupun yang tidak berhijrah, yang ikut serta dalam peperangan maupun yang tidak, serta yang terlibat dalam masa fitnah maupun yang tidak terlibat di dalamnya. Keadilan ini berlaku bagi mereka semua, dan dalil-dalilnya saling menguatkan dari al-Qur’an yang mulia dan Sunnah Nabi yang suci.
A. Dalil dalam al Qur’an
Rabb Yang Maha mulia telah mensifati para sahabat Rasulullah ﷺ dengan keadilan dan memuji mereka dalam ayat-ayat yang sangat banyak hingga akan terlalu panjang dan bertele-tele untuk disebutkan seluruhnya. Di antaranya adalah sebagai berikut:
Yang pertama adalah firman Allah Ta‘ala dalam surah al Baqarah ayat 143 :
﴿وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا﴾
“Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kalian sebagai umat yang pertengahan, agar kalian menjadi saksi atas (perbuatan) manusia, dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas kalian.”
Sisi pendalilan ayat ini terhadap keadilan para sahabat radhiyallahu ‘anhum adalah bahwa kata wasathan bermakna adil dan pilihan. Selain itu, para sahabat adalah pihak yang secara langsung menjadi sasaran khithab ayat ini. Sebagian ulama menyebutkan bahwa meskipun lafaz ayat ini bersifat umum, namun yang dimaksud dengannya adalah makna khusus. Bahkan ada yang mengatakan bahwa ayat ini ditujukan kepada para sahabat secara khusus, bukan kepada selain mereka dari umat Nabi ﷺ dari generasi setelahnya.[1]
Selanjutnya adalah firman Allah Ta‘ala dalam surah Ali Imran ayat 110 :
﴿كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ﴾
“Kalian adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia; kalian menyuruh kepada yang makruf, mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.”
Sisi pendalilan ayat ini terhadap keadilan para sahabat radhiyallahu ‘anhum adalah karena ayat ini menetapkan kebaikan (khairiyyah) secara mutlak bagi umat ini dibandingkan umat-umat sebelumnya. Dan yang pertama kali masuk dalam cakupan kebaikan tersebut adalah mereka yang secara langsung menjadi sasaran ayat ini saat diturunkan, yaitu para sahabat mulia radhiyallahu ‘anhum. Hal ini menuntut adanya kelurusan dan keistiqamahan mereka dalam setiap keadaan, serta konsistensi dalam ketaatan, bukan penyimpangan. Sangat jauh kemungkinan Allah ta’ala menyifati mereka sebagai umat terbaik sementara mereka bukan orang-orang yang adil dan istiqamah. Bukankah makna “umat terbaik” itu sendiri tidak lain adalah keadilan dan kelurusan?
Sebagaimana tidak boleh dikabarkan tentang Allah ta‘ala bahwa Dia menjadikan para sahabat sebagai orang-orang yang adil jika memang tidak memiliki sifat tersebut. Maka sah untuk menetapkan secara mutlak bahwa para sahabat adalah sebaik-baik umat, dan bahwa mereka adalah umat wasath, yakni orang-orang yang adil, secara mutlak.[2]
Demikian pula ayat-ayat lainnya yang datang untuk memuji kedudukan mereka. Allah ta‘ala berfirman:
لِلْفُقَرَاءِ الْمُهَاجِرِينَ الَّذِينَ أُخْرِجُوا مِنْ دِيارِهِمْ وَأَمْوَالِهِمْ يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا وَيَنْصُرُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ أُولَئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ (8) وَالَّذِينَ تَبَوَّءُوا الدَّارَ وَالْإِيمَانَ مِنْ قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ وَلَا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِمَّا أُوتُوا وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
“(Harta rampasan itu) adalah untuk orang-orang fakir dari kalangan kaum Muhajirin yang terusir dari kampung halaman dan harta benda mereka, mereka mencari karunia dari Allah dan keridaan-Nya, serta menolong Allah dan Rasul-Nya. Mereka itulah orang-orang yang benar. Dan orang-orang yang telah menempati negeri (Madinah) dan telah beriman sebelum (kedatangan) mereka, mereka mencintai orang-orang yang berhijrah kepada mereka. Mereka tidak menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa yang diberikan kepada orang-orang Muhajirin itu; dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin) atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam keadaan sangat membutuhkan. Dan barang siapa dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al Hasyr : 8-9)
Maka “orang-orang yang benar” adalah kaum Muhajirin, dan “orang-orang yang beruntung” adalah kaum Anshar. Demikian inilah Abu Bakar ash Shiddiq menafsirkan dua kata tersebut dari dua ayat itu. Hal ini beliau sampaikan dalam khutbahnya pada hari Saqifah, ketika berbicara kepada kaum Anshar. Ia berkata :
إن الله سمانا (الصادقين) وسماكم (المفلحين) ،وقد أمركم أن تكونوا حيثما كنا، فقال: {يَاأَيُّهَا الَّذِينَءَامَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ}
“Sesungguhnya Allah menamai kami sebagai orang-orang yang benar, dan menamai kalian sebagai orang-orang yang beruntung. Dan Dia telah memerintahkan kalian untuk berada bersama kami, sebagaimana firman-Nya: ‘Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah kalian bersama orang-orang yang benar.’” [3]
Maka seluruh sifat terpuji yang disebutkan dalam dua ayat ini telah diwujudkan dan dimiliki oleh kaum Muhajirin dan Anshar dari kalangan para sahabat Rasulullah. Oleh karena itu, Allah menutup penyebutan sifat-sifat kaum Muhajirin dengan penetapan bahwa mereka adalah orang-orang yang benar, dan menutup penyebutan sifat-sifat orang yang menolong, mendukung, dan mengutamakan mereka atas diri mereka sendiri dengan penetapan bahwa mereka adalah orang-orang yang beruntung. Dan sifat-sifat yang luhur ini tidak mungkin diwujudkan oleh suatu kaum yang bukan orang-orang yang adil.
Bahkan ayat-ayat yang di dalamnya terdapat teguran kepada para sahabat, atau kepada sebagian dari mereka, justru itu menjadi saksi atas keadilan mereka. Hal itu karena Allah telah mengampuni mereka atas apa yang Dia tegur kepada mereka dan menerima tobat mereka. Allah ta‘ala berfirman:
مَا كَانَ لِنَبِيٍّ أَنْ يَكُونَ لَهُ أَسْرَى حَتَّى يُثْخِنَ فِي الْأَرْضِ تُرِيدُونَ عَرَضَ الدُّنْيَا وَاللَّهُ يُرِيدُ الْآخِرَةَ وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ (67) لَوْلَا كِتَابٌ مِنَ اللَّهِ سَبَقَ لَمَسَّكُمْ فِيمَا أَخَذْتُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ (68) فَكُلُوا مِمَّا غَنِمْتُمْ حَلَالًا طَيِّبًا وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ
“Tidak patut bagi seorang nabi mempunyai tawanan sebelum ia dapat melumpuhkan musuhnya di muka bumi. Kalian menghendaki harta benda duniawi, sedangkan Allah menghendaki (pahala) akhirat. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Kalau sekiranya tidak ada ketetapan yang telah terdahulu dari Allah, niscaya kalian ditimpa azab yang besar karena apa yang telah kalian ambil. Maka makanlah dari harta rampasan perang yang telah kalian peroleh, sebagai sesuatu yang halal lagi baik, dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Anfal : 27-29)
Perhatikan penutup teguran tersebut: “Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” Apakah masih ada sesuatu setelah ampunan Allah ta’ala?!
Dan Allah ta‘ala berfirman:
وَعَلَى الثَّلَاثَةِ الَّذِينَ خُلِّفُوا حَتَّى إِذَا ضَاقَتْ عَلَيْهِمُ الْأَرْضُ بِمَا رَحُبَتْ وَضَاقَتْ عَلَيْهِمْ أَنْفُسُهُمْ وَظَنُّوا أَنْ لَا مَلْجَأَ مِنَ اللَّهِ إِلَّا إِلَيْهِ ثُمَّ تَابَ عَلَيْهِمْ لِيَتُوبُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ
“Dan terhadap tiga orang yang ditangguhkan (tobat mereka), hingga ketika bumi terasa sempit bagi mereka, padahal luas, dan jiwa mereka pun terasa sempit, serta mereka telah yakin bahwa tidak ada tempat berlindung dari Allah selain kepada-Nya; kemudian Allah menerima tobat mereka agar mereka bertobat. Sesungguhnya Allah Dialah Yang Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang.” (QS. At Taubah : 118)
Perhatikan pula penutup ayat ini: “Sesungguhnya Allah Dialah Yang Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang.”
Dan masih banyak ayat lainnya yang menjadi saksi atas ampunan Allah ta’ala kepada mereka atas sebagian maksiat yang mereka lakukan—dan sebagian di antaranya akan disebutkan dalam pembahasan bantahan terhadap syubhat-syubhat seputar keadilan para sahabat.
Sesungguhnya ayat-ayat yang di dalamnya terdapat teguran kepada para sahabat, atau kepada sebagian dari mereka, karena melakukan sebagian maksiat, adalah dalil terbaik yang menjadi saksi atas apa yang telah disebutkan sebelumnya: bahwa yang dimaksud dengan keadilan seluruh sahabat adalah terjaganya mereka dari berdusta dalam meriwayatkan hadis Rasulullah, bukan berarti mereka makshum dari perbuatan maksiat, dari lupa, atau dari kesalahan. Makna seperti ini tidak pernah diucapkan oleh seorang pun dari kalangan ulama.
Bahkan meskipun sebagian dari mereka terjatuh ke dalam sebagian dosa, Allah ‘azza wajalla telah menganugerahkan kepada mereka tobat dan ampunan atas dosa-dosa tersebut. Dan anugerah dari Rabb mereka ‘azza wa jalla ini tidak lain adalah penjelasan bagi seluruh hamba-Nya—baik yang beriman maupun yang kafir—hingga hari kiamat, tentang agungnya kedudukan orang-orang yang Dia pilih untuk menjadi sahabat pemimpin para Nabi dan rasul-Nya. Bahwa mencela dan meruntuhkan kedudukan serta keadilan mereka pada hakikatnya adalah mencela dan meruntuhkan ketetapan Dzat yang telah menempatkan mereka pada kedudukan tersebut, dan yang menjadikan mereka sebagai sebaik-baik umat yang dikeluarkan untuk manusia.
B. Dalil dalam al Hadits
Rasulullah ﷺ telah menyifati para sahabatnya dengan keadilan dan memuji mereka dalam banyak hadisnya. Ini juga akan menjadi bahasan yang sangat panjang jika hendak disebutkan satu per satu riwayatnya. Karenanya cukup kiranya kita sebutkan sebagiannya saja.
Yang pertama adalah sabda Nabi ﷺ :
أَلَا لِيُبَلِّغِ الشَّاهِدُ مِنْكُمُ الْغَائِبَ
“Hendaklah yang hadir di antara kalian menyampaikan kepada yang tidak hadir.” (HR. muslim)
Dalam hadis ini terdapat dalil yang paling kuat bahwa seluruh sahabat adalah orang-orang yang adil; tidak ada di antara mereka yang tercela dan tidak pula yang lemah keimanannya. Sebab, seandainya di antara mereka ada seseorang yang tidak adil, tentu Nabi ﷺ akan mengecualikannya dalam sabdanya dan berkata: “Hendaklah si fulan di antara kalian menyampaikan kepada yang tidak hadir.”
Namun ketika beliau menyebut mereka secara umum dalam perintah untuk menyampaikan ajaran agama kepada generasi setelah mereka, hal itu menunjukkan bahwa mereka semuanya adalah orang-orang yang adil yang dipercaya untuk meneruskan ajaran dan risalah yang beliau ﷺ bawa. Dan cukuplah sebagai kemuliaan bahwa seseorang dinilai adil oleh Rasulullah ﷺ.[4]
Dan selanjutnya adalah sabda Nabi ﷺ :
خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ يَجِيءُ قَوْمٌ تَسْبِقُ شَهَادَةُ أَحَدِهِمْ يَمِينَهُ، وَيَسْبِقُ يَمِينُهُ شَهَادَتَهُ
“Sebaik-baik manusia adalah generasiku, kemudian orang-orang setelah mereka, kemudian orang-orang setelah mereka. Setelah itu akan datang suatu kaum yang persaksian salah seorang dari mereka mendahului sumpahnya, dan sumpahnya mendahului persaksiannya.” (HR.Bukhari)
Pernyataan Nabi ﷺ tentang keutamaan ini menegaskan kesaksian Rabb Yang Maha Mulia dalam firman-Nya:“Kalian adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia.” (QS. Ali Imran : 110)
Dan sabda beliau ﷺ :
النُّجُومُ أَمَنَةٌ لِلسَّمَاءِ، فَإِذَا ذَهَبَتِ النُّجُومُ أَتَى السَّمَاءَ مَا تُوعَدُ، وَأَنَا أَمَنَةٌ لِأَصْحَابِي، فَإِذَا ذَهَبْتُ أَتَى أَصْحَابِي مَا يُوعَدُونَ، وَأَصْحَابِي أَمَنَةٌ لِأُمَّتِي، فَإِذَا ذَهَبَ أَصْحَابِي أَتَى أُمَّتِي مَا يُوعَدُونَ
“Bintang-bintang adalah pengaman bagi langit. Apabila bintang-bintang lenyap, maka akan datang kepada langit apa yang dijanjikan. Aku adalah pengaman bagi para sahabatku; apabila aku telah pergi, maka akan datang kepada para sahabatku apa yang dijanjikan kepada mereka. Dan para sahabatku adalah pengaman bagi umatku; apabila para sahabatku telah pergi, maka akan datang kepada umatku apa yang dijanjikan kepada mereka.” (HR. Muslim)
Dan juga sabda beliau ﷺ :
إِنَّ اللَّهَ اخْتَارَ أَصْحَابِي عَلَى الْعَالَمِينَ، سِوَى النَّبِيِّينَ وَالْمُرْسَلِينَ، وَاخْتَارَ لِي مِنْ أَصْحَابِي أَرْبَعَةً: أَبَا بَكْرٍ، وَعُمَرَ، وَعُثْمَانَ، وَعَلِيًّا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ، فَجَعَلَهُمْ أَصْحَابِي، قَالَ فِي أَصْحَابِي: كُلُّهُمْ خَيْرٌ، وَاخْتَارَ أُمَّتِي عَلَى الْأُمَمِ، وَاخْتَارَ مِنْ أُمَّتِي أَرْبَعَةَ قُرُونٍ: الْقَرْنَ الْأَوَّلَ، وَالثَّانِيَ، وَالثَّالِثَ، وَالرَّابِعَ
“Sesungguhnya Allah telah memilih para sahabatku di atas seluruh makhluk, selain para nabi dan rasul. Dan Dia memilihkan untukku dari sahabat-sahabatku empat orang: Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali—radhiyallahu ‘anhum—lalu Dia menjadikan mereka sebagai sahabat-sahabatku. Dia berfirman tentang seluruh sahabatku: ‘Mereka semua adalah baik.’ Dan Dia memilih umatku di atas seluruh umat, serta memilih dari umatku empat generasi: generasi pertama, kedua, ketiga, dan keempat.” (HR. Bazzar)
Dan hadits di atas menegaskan firman Allah ta’ala yang mensifati para sahabat dalam firmanNya : “Muhammad adalah Rasul Allah, dan orang-orang yang bersamanya bersikap keras terhadap orang-orang kafir, namun saling berkasih sayang di antara mereka. Engkau melihat mereka rukuk dan sujud, mencari karunia dari Allah dan keridaan-Nya. Tanda-tanda mereka tampak pada wajah mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat mereka dalam Taurat. Dan sifat mereka dalam Injil adalah seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya, lalu tunas itu menguatkannya, kemudian menjadi besar dan tegak di atas batangnya; tanaman itu menyenangkan hati para penanamnya, agar dengan mereka Allah membuat orang-orang kafir menjadi jengkel. Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan beramal saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al Fath : 29)
Sayidina Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu berkata :
إن الله نظر فى قلوب العباد، فوجد قلب محمد صلى الله عليه وسلم خير قلوب العباد، فاصطفاه لنفسه وابتعثه برسالته، ثم نظر فى قلوب العباد بعد قلب محمد فوجد قلوب أصحابه خير قلوب العباد، فجعلهم وزراء نبيه صلى الله عليه وسلم يقاتلون عن دينه
“Sesungguhnya Allah melihat ke dalam hati para hamba-Nya, lalu Dia dapati hati Muhammad saw sebagai sebaik-baik hati para hamba. Maka Dia memilihnya untuk diri-Nya dan mengutusnya dengan risalah-Nya. Kemudian Allah melihat ke dalam hati para hamba setelah hati Muhammad, lalu Dia dapati hati para sahabatnya sebagai sebaik-baik hati para hamba. Maka Dia menjadikan mereka para pembantu Nabi-Nya saw, yang berperang membela agama-Nya.” [5]
Al imam al Amidi rahimahullah berkata:
واختيار الله لا يكون لمن ليس بعدل
“Dan pilihan Allah tidak mungkin diberikan kepada orang yang tidak adil.” [6]
Yang selanjutnya adalah sabda Nabi ﷺ :
لَا تَسُبُّوا أَصْحَابِي، لَا تَسُبُّوا أَصْحَابِي؛ فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا، مَا أَدْرَكَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلَا نَصِيفَهُ
“Janganlah kalian mencela sahabat-sahabatku. Janganlah kalian mencela sahabat-sahabatku. Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya! Seandainya salah seorang di antara kalian menginfakkan emas sebesar Gunung Uhud, niscaya tidak akan menyamai satu mud dari salah seorang di antara mereka, dan tidak pula setengahnya.” (HR. Muslim)
Sahabat yang mulia, Sa‘id bin Zaid bin ‘Amr salah seorang dari sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga radhiyallahu ‘anhum, ketika mendengar seorang lelaki dari penduduk Kufah mencela salah seorang sahabat Rasulullah ﷺ beliau berkata:
والله لمشهد شهده رجل يغبر فيه وجهه مع رسول الله ﷺ أفضل من عمل أحدكم، ولو عمر عمر نوح عليه السلام
“Demi Allah, satu peristiwa yang disaksikan oleh seorang sahabat—hingga wajahnya berdebu bersama Rasulullah ﷺ—lebih utama daripada seluruh amalan salah seorang di antara kalian, sekalipun ia hidup sepanjang umur Nabi Nuh ‘alaihis salam.”[7]
Dan bila kita menggunakan akal pikiran akal yang jernih—yang terbebas dari hawa nafsu, fanatisme dan kebencian—tidak mungkin menisbatkan kepada Allah, dengan hikmah dan rahmat-Nya, bahwa Dia memilih untuk memikul syariat-Nya yang terakhir suatu umat yang tercela, atau suatu kelompok yang tercacatkan. Maha suci Allah dari hal itu dengan kesucian yang setinggi-tingginya.
Bersambung...