LISAN MENUNJUKKAN KUALITAS AGAMA SESEORANG

17 Dec 2025 Admin Article

Oleh : KH. Ahmad Syahrin Thoriq

Sesungguhnya hubungan sosial diantara manusia dibangun di antaranya di atas pondasi komunikasi. Komunikasi itu terwujud melalui kata-kata yang diucapkan oleh lisan, yang mengungkapkan apa yang tersembunyi di dalam hati berupa lintasan pikiran dan perasaan. Hati bagaikan periuk yang berada di dalam dada, mendidih dengan apa yang ada di dalamnya, sedangkan alat penimba isinya adalah lisan seseorang. Baik buruknya seseorang ditentukan hatinya, dan bagaimana kondisi hatinya, perhatikanlah lisannya, karena lisannya hanya akan menyuguhkan untukmu apa yang ada di dalam hatinya, baik manis maupun pahit, lembut maupun kasar, baik maupun buruk.

Maka agar hubungan sosial tetap sehat, baik secara lahir maupun batin, diperlukan tutur kata yang baik dalam dialog dan interaksi. Dan sesungguhnya pada diri Rasulullah terdapat teladan terbaik dalam akhlak mulia dan puncak keutamaannya. Beliau adalah manusia yang paling fasih, paling lembut ucapannya, paling indah tutur katanya, dan paling jauh dari ungkapan kasar serta keji. Oleh karena itu, banyak sekali hadits-hadits Nabi yang memerintahkan umat ini untuk bersungguh-sungguh dalam menjaga lisannya, berhati-hati dalam memilih diksi perkataan dan tidak berbicara kecuali yang baik dan bermanfaat. Berikut ini adalah delapan hadits yang kami pilih untuk menjadi pengingat bagi kita semua dalam bahasan kali ini.

Hadis pertama :

اتَّقُوا النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ، فَإِنْ لَمْ تَجِدْ فَبِكَلِمَةٍ طَيِّبَةٍ

“Takutlah kalian kepada neraka walaupun hanya dengan (bersedekah) separuh buah kurma. Jika tidak mendapatkannya, maka dengan perkataan yang baik.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Sekedar mengucapkan perkataan yang baik itu sudah merupakan amal kebajikan yang agung. Nabi menyamakannya dengan sedekah harta karena keduanya sama-sama menimbulkan kegembiraan dan ketenteraman di hati orang lain. Bahkan sangking luar biasanya efek dari kalimat-kalimat yang baik, al Qur’an sampai mewasiatkan kaitannya dengan hal ini :

ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ

“Tolaklah (kejahatan) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang di antaramu dan dia ada permusuhan seakan-akan menjadi teman yang sangat setia.”
(QS. Fussilat: 34)

Di mana ayat ini menunjukkan kepada kita bahwa membalas keburukan dengan cara yang lebih baik, termasuk dengan ucapan yang lembut dan sikap yang santun, mampu melunakkan hati dan meredam permusuhan.

Hadis kedua :

إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ رِضْوَانِ اللَّهِ، لَا يُلْقِي لَهَا بَالًا، يَرْفَعُهُ اللَّهُ بِهَا دَرَجَاتٍ، وَإِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ سَخَطِ اللَّهِ، لَا يُلْقِي لَهَا بَالًا، يَهْوِي بِهَا فِي جَهَنَّمَ

“Sesungguhnya seorang hamba mengucapkan suatu kalimat yang diridhai Allah, ia tidak menganggapnya penting, namun Allah mengangkat derajatnya dengannya. Dan sesungguhnya seorang hamba mengucapkan suatu kalimat yang dimurkai Allah, ia tidak menganggapnya penting, namun dengannya ia terjerumus ke dalam neraka.” (HR. Bukhari)

Hadits tersebut menunjukkan betapa besar pengaruh sebuah ucapan, sekalipun itu sering dianggap remeh oleh banyak orang. Ah kan hanya omongan, itu kan hanya ucapan biasa, begitu kilahnya. Padahal Rasulullah memberikan peringatan bahwa efek ucapan yang buruk itu bahkan bisa menjerumuskan pelakunya kelembah keburukan yang paling buruk, yakni neraka.  Oleh karena itu, seorang Muslim selalu dituntut untuk senantiasa menjaga lisannya, karena selamat dan celakanya bisa ditentukan perkatan yang meluncur darinya. Dalam pepatah Arab ada ungkapan terkenal :

سلامةُ الإنسانِ في حفظِ اللسانِ


“Keselamatan seseorang terletak pada menjaga lisannya.”

Hadis ketiga :

إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ يَهْوِي بِهَا فِي النَّارِ أَبْعَدَ مَا بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ

“Sesungguhnya seorang hamba telah mengucapkan satu kalimat yang menyebabkan ia terjatuh ke dalam neraka sejauh jarak antara timur dan barat.” (HR. Muslim)

Hadis ini pun merupakan peringatan keras agar tidak meremehkan ucapan, terutama perkataan yang mengandung keburukan, fitnah, atau menyakiti orang lain karena akibatnnya tidaklah sepele.

Hadis keempat :

أَنَّ رَجُلًا سَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَقَالَ: أَيُّ الْمُسْلِمِينَ أَسْلَمُ؟ قَالَ: «‌مَنْ ‌سَلِمَ ‌الْمُسْلِمُونَ ‌مِنْ ‌لِسَانِهِ ‌وَيَدِهِ

“Sesungguhnya ada seorang lelaki bertanya kepada Rasulullah dengan berkata: “Siapakah Muslim yang paling baik Islamnya?” Beliau menjawab: “Yaitu orang yang kaum Muslimin bisa selamat dari lisan dan tangannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits di atas menegaskan bahwa menjaga lisan dari menyakiti orang lain merupakan tanda yang paling nyata kesempurnaan dan baiknya agama seseorang. Gangguan lisan berupa ucapan, sedangkan gangguan tangan berupa perbuatan, dan keduanya sangat dilarang dalam syariat.

Hadits kelima :

الْحَيَاءُ مِنَ الْإِيمَانِ، وَالْإِيمَانُ فِي الْجَنَّةِ، وَالْبَذَاءُ مِنَ الْجَفَاءِ، وَالْجَفَاءُ فِي النَّارِ

“Malu itu bagian dari iman, dan iman tempatnya di surga. Sedangkan perkataan keji berasal dari kekasaran, dan kekasaran tempatnya di neraka.”(HR. Tirmidzi)

Sesungguhnya Allah ta’ala sangat membenci orang yang gemar berkata keji dan berperilaku kasar. Al Badza’ah (ucapan keji) adalah perilaku mengumbar lisan untuk mengucapkan sesuatu yang tidak pantas, serta merendahkan orang lain dengan ucapannya. Dikatakan: seorang perempuan yang bazi’ah, yaitu yang hina atau yang tidak terkendali lisannya. Meninggalkan ucapan keji dan sikap merendahkan orang lain sejajar nilainya dengan amal shalat dan puasa. Adapun seseorang yang shalat dan puasa namun lisannya keji dan berbuat maksiat, maka tidak ada kebaikan akhlak padanya, dan tidak ada sesuatu pun yang menyamainya.

Hadis keenam :

مَنْ تَوَكَّلَ لِي مَا بَيْنَ رِجْلَيْهِ وَمَا بَيْنَ لَحْيَيْهِ تَوَكَّلْتُ لَهُ بِالْجَنَّةِ

“Barang siapa menjaminkan untukku apa yang ada di antara kedua rahangnya dan apa yang ada di antara kedua kakinya, maka aku menjaminkan baginya surga.” (HR. Bukhari)

Sesungguhnya kebanyakan musibah dan kerusakan yang timbul pada individu dan masyarakat adalah disebabkan dari kemaluan dan lisan. Barangsiapa bisa selamat dari bahaya keduanya, maka beruntunglah dia dan syariat menjamin baginya surga.

Hadits ketujuh :

الْكَلِمَةُ الطَّيِّبَةُ صَدَقَةٌ

“Perkataan yang baik adalah sedekah.” (HR. Bukhari)

Dalam banyak hadits, ucapan yang baik sering kali disamakan dan disandingkan dengan sedekah atau pemberian harta. Karena memang ia memiliki efek bisa menggembirakan hati siapapun yang mendengarnya, bahkan dalam beberapa kondisi itu bisa melebihi harta, itu mengapa Allah ta’ala berfirman : “Perkataan yang baik dan pemberian maaf itu lebih baik daripada sedekah yang diiringi dengan menyakiti (perasaan penerimanya).” (QS. Al Baqarah : 263)

Hadits kedelapan :

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau memilih untuk diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini termasuk mutiara hikmah dan yang paling agung berbicara tentang masalah ini. Sesungguhnya setiap ucapan itu tidak lepas dari tiga keadaan: baik, buruk, atau mengarah kepada salah satunya. Maka segala ucapan yang baik—baik yang wajib maupun yang dianjurkan—diperintahkan untuk diucapkan. Adapun ucapan yang buruk atau mengantarkan kepada keburukan, maka diperintahkan untuk diam ketika ingin mengucapkannya. Bahaya lisan sangat besar dan penyakitnya banyak, seperti dusta, ghibah, membanggakan diri, dan tenggelam dalam kebatilan. Semua itu memiliki daya tarik bagi hati, didorong oleh tabiat dan godaan setan, dan siapapun yang sudah terbiasa atau terlanjur mengumbar lisannya, jarang yang diberi kemampuan untuk mengekang lisannya dari melakukan ghibah, namimah dan bahkan fitnah.

Khatimah

Dari untaian hadits-hadits yang mulia tersebut kita bisa membuat kesimpulan bahwa lisan bukan hanya sekedar alat komunikasi. Dengan lisan, seseorang bisa mengangkat dirinya menuju akhlak yang mulia dan keutamaan yang tinggi. Karena tutur kata yang baik, Allah ta’ala akan memberinya pahala dan menaikkannya ke derajat-derajat yang tinggi di surga. Namun dengan lisan pula seseorang dapat terjerumus ke dalam akhlak yang hina dan rendah ; akibat ucapan yang keji, Allah ta’ala akan membalasnya dengan menurunkannya ke tingkatan-tingkatan yang menghinakan di neraka.

Dalam sebuah syairnya Zuhair bin Abi Sulma rahimahullah  berkata:

 

لسان الفتى نصف ونصف فؤاده***فلم يبق إلا صورة اللحم والدم

وكائن ترى من ساكت لك معجب***زيادته أو نقصه في التكل

 

“Lisan anak manusia itu adalah setengah dari dirinya, dan setengahnya lagi ada pada hatinya; tidak tersisa selain itu kecuali daging dan darah. Betapa banyak orang yang kau lihat diam, lalu engkau mengaguminya, namun pada akhirnya kelebihan atau kekurangannya tampak saat ia berbicara.” (Syu’abul iman, 7/95)


Semoga bermanfaat.