Oleh : KH. Ahmad Syahrin Thoriq
Di antara penyakit yang akan menjangkiti umat di akhir zaman, yang ia nampak sederhana namun sebenarnya sangat berbahaya adalah dicabutnya keberkahan ilmu agama. Yang terjadi bukanlah hilangnya mushaf, bukan pula kosongnya rak-rak dari deretan kitab-kitab, tetapi padamnya cahaya ilmu dari hati manusia yang diamanahkan sebagai pengembannya. Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa Allah tidak mencabut ilmu dengan cara mencabutnya sekaligus dari dada manusia, melainkan dengan mewafatkan para ulama yang jujur dengan keilmuannya. Ketika para pewaris nabi itu satu demi satu pergi, manusia pun kehilangan rujukan, kehilangan penuntun, dan akhirnya kehilangan arah.
إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنَ الْعِبَادِ، وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ، حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُؤُوسًا جُهَّالًا، فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ، فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا
“Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dengan cara mencabutnya sekaligus dari dada para hamba, tetapi Allah mencabut ilmu dengan mewafatkan para ulama. Hingga apabila tidak tersisa seorang alim pun, manusia mengangkat orang-orang bodoh sebagai pemimpin. Mereka pun ditanya lalu berfatwa tanpa ilmu, maka mereka sesat dan menyesatkan.” (HR. Bukhari)
Ilmu pada mulanya berada di dada para ulama. Yang dijaga dengan amanah, dipelihara dengan pemahaman yang baik dan dirawat oleh rasa takut kepada Allah. Dari merekalah ilmu itu kemudian disebarluaskan, yang tadinya tersimpan rapi di dalam hati kemudian dituliskan hingga berpindah kepada lembaran-lembaran buku yang mudah dijangkau oleh siapapun. Ia telah berubah menjadi hal yang lebih mudah untuk dijamah. Namun meski demikian, selama kunci ilmu itu tetap berada di tangan para ulama, ia akan tetap aman, terarah, dan memberi manfaat yang luas.
Namun persoalan besar muncul bukan ketika ilmu dituliskan, melainkan ketika kunci ilmu mulai berpindah tangan. Saat yang memegang kendali atasnya bukan lagi orang-orang yang benar-benar berilmu yang kompeten, tetapi mereka yang sebenarnya jahil namun menggunakan jubah para ulama. Maka mulailah terangnya cahaya ilmu tertutup bayang-bayang, bahkan lentera ilmu berubah dari cahaya yang tadinya menerangi menjadi ancaman yang bisa membakar banyak kebaikan. Ia tidak lagi membimbing, tapi bahkan menggelincirkan, bukan mengobati tetapi melukai; tidak lagi memperbaiki, tetapi bahkan menimpakan kerusakan. Bahkan ini penyebabnya bukan karena ilmunya yang salah dan berubah, melainkan karena orang yang menggunakannya tidak lagi memiliki kelayakan untuk mengemban amanah agung dari Allah ini.
Sebagian guru kami menyampaikan nasehatnya :
من أخذ العلم عن الكتب ضل وأضل الخلق، فالعلم يؤخذ عن العلماء العاملين الأتقياء الصالحين الذين أخذوا العلم كابرا عن كابر، وجلسوا على الركب بين أيدي الشيوخ حتى هذبتهم الشيوخ، ومن لم تعلمه الرجال لا يكون رجلا ولو قرأ كل الكتب، ولا يكون رجلا حتى تعلمه الرجال.
“Barang siapa mengambil ilmu dari buku-buku, ia akan sesat dan menyesatkan. Ilmu itu diambil dari para ulama yang beramal, bertakwa, dan saleh; yang mengambil ilmu secara turun-temurun dari para guru, duduk bersimpuh di hadapan para masyaikh, hingga para guru itulah yang membina dan menyempurnakan mereka.
Orang yang tidak dididik oleh manusia (para guru), maka ia tidak akan menjadi seorang lelaki sejati, meskipun ia membaca seluruh buku. Ia tidak akan menjadi seorang lelaki sejati sampai ia dididik juga oleh para lelaki yang sebenarnya (para ulama).”
Yah, ilmu itu bisa diibaratkan tak ubahnya sebilah pisau bedah yang sejatinya diciptakan untuk menyelamatkan nyawa, namun terlalaikan hingga tiba-tiba berada di tangan anak kecil yang tidak memahami fungsinya. Ia bisa melukai dirinya sendiri bahkan orang lain tanpa sengaja. Bahkan lebih berbahaya dari itu, ia mungkin bisa digambarkan seperti senjata yang semestinya berada di genggaman petugas keamanan, tetapi kini jatuh ke tangan para penjahatnya. Bisa dibayangkan bagaimana memilukan dan tragisnya musibah ini.
Dalam keadaan seperti ini, ilmu bukan hanya tidak bermanfaat, tetapi menjadi sumber kerusakan yang jauh lebih dahsyat daripada kebodohan itu sendiri. Sebab kebodohan yang diam masih jauh lebih ringan mudharatnya, dibanding kebodohan yang dibiarkan berbicara. Oleh karena itu, menjaga amanah ilmu hari ini menjadi lebih berat bukan hanya karena kita dituntut untuk terus mempelajarinya, tetapi juga memastikan ia tetap dibuka oleh ahlinya dan dituntunkan oleh mereka, bukan oleh para juhala yang sedang cosplay menjadi ulama.
Semoga bermanfaat.