DOSA PENYEBAB BENCANA

05 Dec 2025 Admin Article

Oleh : KH. Ahmad Syahrin Thoriq

Tak ada asap jika tidak ada api. Begitulah pepatah bijak menggambarkan akan adanya hukum sebab akibat dalam kehidupan yang kita jalani di kehidupan dunia ini. Bahwa setiap kejadian pasti ada sebab pemicunya. Maka tugas kita selalu makhluk yang dikaruniai akal oleh Allah adalah berusaha mencari sebab dari suatu kejadian agar bisa menemukan solusi atas permasalah yang terjadi dan menghindari kejadian serupa di kemudian hari.

 

Banyak musibah yang menimpa negeri ini secara bertubi-tubi. Gempa bumi, sunami, erupsi gunung berapi dan yang terkini apa yang menimpa saudara-saudara kita di Aceh, Sumatra Utara dan Sumatra Barat. Dan sungguh keliru mereka yang mengira bahwa semua penyebab utama  segala bencana ini adalah factor alam belaka, atau karena letak geografis daerah bencana semata. Namun ada penyeba lain yang lebih dominan dari sebab-sebab yang dinyatakan oleh banyak orang tersebut. Dia Allah yang menjadi Pemilik, Pengatur dan Penguasa alam ini telah dengan tegas menyatakan sebab mengapa terjadi musibah dan kerusakan di bumi ini dengan firmanNya :

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ

 

“Telah nampak kerusakan di daratan dan di lautan yang disebabkan oleh perbuatan tangan manusia. Maka Allah membuat mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar Rum :41)

 

Dan firmanNya :

وَمَآ أَصَٰبَكُم مِّن مُّصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُوا عَن كَثِيرٍ

Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Asy Syuraa: 30)

Dan firmanNya :

مَا أَصَابَكَ مِنْ حَسَنَةٍ فَمِنَ اللَّهِ ۖ وَمَا أَصَابَكَ مِنْ سَيِّئَةٍ فَمِنْ نَفْسِكَ

“Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allâh, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri.”(QS. An Nisa : 79)

Dan Rasulullah telah mengingatkan kita semua dengan sabdanya :

اَلْمَصَائِبُ وَالْأَمْرَاضُ وَالْأَحْزَانُ فِي الدُّنْيَا جَزَاءٌ

“Segala jenis musibah, penyakit dan penderitaan di dunia ini merupakan balasan dari perbuatan.” (HR. Abu Nu’aim)

            Dan sabda beliau :

لاَ يُصِيْبُ رَجُلاً خَدْشُ عُوْدٍ وَلاَ عَثْرَةُ قَدَمٍ وَلاَ اِخْتِلاَجُ عِرْقٍ إِلاَّ بِذَنْبٍ وَمَا يَعْفُو اللهُ أَكْثَرُ

“Tidaklah sepotong kayu melukai seseorang, tergelincirnya telapak kaki, hingga terkilirnya urat, kecuali itu disebabkan oleh dosa. Dan apa yang Allah maafkan lebih banyak.” (HR. Ibnu Jarir)

Maka sudah barang tentu kewajiban kita setelah mengetahui bahwa penyebab segala musibah ini adalah dosa dan kemaksiatan, hendaknya kita bersegera bertaubat kepada Allah ta’ala dengan berhenti dari segala maksiat dan kerusakan yang kita lakukan. Karena hanya dengan itulah maka segala luka dan duka ini bisa sembuh sempurna dan bisa menjadi pelindung agar hal serupa tidak menimpa kita lagi di kemudian hari. Allah ta’ala berfirman :

ذَلِكَ بِأَنَّ اللّهَ لَمْ يَكُ مُغَيِّرًا نِّعْمَةً أَنْعَمَهَا عَلَى قَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُواْ مَا بِأَنفُسِهِمْ وَأَنَّ اللّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

“(Siksaan) yang demikian itu adalah karena sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan merubah sesuatu ni’mat yang telah dianugerahkan-Nya kepada suatu kaum, hingga kaum itu merubah apa-apa yang ada pada diri mereka sendiri , dan sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al Anfal: 53)

Dan firmanNya :

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَٰكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS. Al A’raf : 96)


Sayidina Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu berkata :

مَا نُزِّلَ بَلاَءٌ إِلاَّ بِذَنْبٍ وَلاَ رُفِعَ بَلاَءٌ إِلاَّ بِتَوْبَةٍ

“Tidaklah musibah tersebut turun melainkan karena dosa. Oleh karena itu, tidaklah bisa musibah tersebut hilang melainkan dengan taubat.”[1]

Dan yang perlu diingat, kemaksiatan itu kaitannya bukan hanya shalat yang ditinggalkan, atau kemaksiatan seperti judi, zina atau minuman keras yang dibiarkan merajalela. Juga bahkan bukan hanya tentang kesyirikan yang masih dibiarkan terjadi. Namun maksiat yang tak kalah besar yang juga harus kita taubati, berhentilah dari merusak bumi ini !

Allah ta’ala telah mewasiatkan kepada kita semua :

وَلا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلاحِهَا

“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya…” (QS. Al A’raf : 56)

 

Dan yang lebih menyedihkan lagi, para perusak ini kadang tidak mau mengakui kejahatan yang telah mereka lakukan, dengan segala alibi bahkan mereka mencoba untuk menormalisasi aksi kejahatan mereka. Eksploitasi alam dengan dalih pembangunan, kerakusan diberi label menuju kemajuan, dan keserakahan dihias dengan dalih kesejahteraan. Hutan digunduli, gunung dikeruk, laut diracuni, sungai dikotori—semuanya dilakukan atas nama mencari keuntungan semata.

Padahal bumi ini bukan hanya tempat kita berpijak untuk hidup hari ini, tetapi juga amanah yang harus kita jaga untuk generasi yang akan datang. Setiap pohon yang ditebang tanpa hak akan menjadi saksi, setiap sungai yang dirusak akan menjadi saksi, dan setiap makhluk yang dizalimi akan mengadu pada hari ketika tidak ada lagi yang tersembunyi. Dan apa yang terjadi hari ini berupa musibah dan bencana hanya pengingat kecil agar kita tidak lupa semua itu !

Dan kelihatannya al Qur’an telah menyamakan perbuatan para perusak alam ini dengan perilaku orang-orang munafik, yang ketika berbuat jahat sekalipun masih berupaya mencari pembenaran atas kejahatan mereka.

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ لا تُفْسِدُوا فِي الأرْضِ قَالُوا إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُونَ أَلا إِنَّهُمْ هُمُ الْمُفْسِدُونَ وَلَكِنْ لا يَشْعُرُونَ

“Dan bila dikatakan kepada mereka: ‘Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi,’ mereka menjawab: ‘Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan’. Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar.” (QS. Al Baqarah: 11–12)

Inilah salah satu tragedi terbesar kemanusiaan, yaitu ketika dosa tidak lagi terasa sebagai dosa bahkan dianggap kebaikan, ketika kerusakan dianggap sebagai prestasi, dan ketika kehancuran dipandang sebagai keberhasilan. Hati menjadi mati, nurani menjadi tumpul, dan peringatan Allah dianggap angin lalu.

Maka wahai saudara-saudaraku, bila hari ini kita melihat banjir semakin sering, tanah longsor semakin dekat, udara semakin sesak, dan laut semakin rusak, itu semua bukan hanya sekadar musibah, tetapi peringatan dari Allah ta’ala dan jeritan alam karena amanah telah dikhianati. Sudah saatnya kita berhenti, menundukkan kepala, mengakui dosa, dan kembali kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya.

Dan taubat bukan hanya dengan air mata di atas sajadah, tetapi juga dengan menghentikan tangan dari merusak dan mengembalikan bumi kepada fungsi sucinya sebagaimana yang Allah ta’ala kehendaki.

Dan saat ini kerusakan telah terjadi secara masif, terstruktur, dan terus dibiarkan, maka taubat kita tidak cukup bersifat personal, tetapi harus dalam bentuk taubat nasional. Sebab boleh jadi kedzaliman terbesar bukan datang dari tangan-tangan perusak di lapangan, tetapi dari kekuasaan yang memberi izin, membiarkan, bahkan melindungi kejahatan itu atas nama kepentingan dan keuntungan.

Maka kami ingatkan kalian wahai para pemegang amanah. Ingatlah bahwa kekuasaan yang ada pada kalian adalah ujian, bukan tameng untuk kalian gunakan meraup keuntungan di dunia yang pasti akan kalian tinggalkan. Setiap tanda tangan dan pembiaran akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah subhanahu wa ta’ala pada hari ketika tidak ada apapun yang bisa menyelamatkan dan membela kalian.

Dan yang perlu kalian ingat, yang akan ditanya atas kalian bukan hanya tentang alam yang telah kalian jarah, tapi juga akibat yang terjadi dari ulah kalian tersebut. Ya kalian akan ditanya diantaranya tentang nyawa tak berdosa yang melayang begitu saja, kalian akan diminta tanggung jawab atas anak-anak yang berubah yatim seketika dan  juga derita mereka yang dalam sekejap telah kehilangan harapan dan penghidupan !

Ya Allah, jika musibah ini turun karena dosa-dosa kami, maka ampuni kami. Dan jika ia turun karena kedzaliman di antara kami, maka selamatkan kami darinya, dan kembalikan negeri ini kepada jalan yang Engkau ridhai. Amin.

 

 

[1] Al Jawabul Kafi, hal. 87