WAKTU YANG TERUS BERLALU

01 Nov 2025 Admin Article

Oleh : KH. Ahmad Syahrin Thoriq

Sebesar apapun kekayaan dan harta berharga yang hilang dari seseorang, itu masih sangat mungkin untuk dicari dan dimiliki kembali atau dicarikan ganti yang bahkan lebih baik, kecuali waktu yang telah pergi berlalu darinya. Waktu itu pergi dan tak akan mungkin untuk bisa kembali lagi.  Bahkan waktu itu  bagi kehidupan seseorang bukanlah sesuatu yang sekedar ia miliki, tapi bahkan ia adalah bagian dari kehidupannya itu sendiri. Dan para ulama telah banyak mewanti-wanti mengingatkan akan hal ini. Diantaranya adalah apa yang dinyatakan oleh al imam Hasan al Bashri rahimahullah dalam sebuah butir nasehatnya :

ابن آدم إنما أنت أيام كلما ذهب يوم ذهب بعضك

“Wahai anak adam, sesungguhnya kalian hanyalah kumpulan hari. Tatkala satu hari itu pergi, maka akan hilang pula sebagian dari dirimu.”[1]

Demikian juga Al imam Ibnu Jauzi rahimahullah berkata :

ينبغي ‌للإنسان ‌أن ‌يعرف ‌شرف ‌زمانه، ‌وقدر ‌وقته، فلا يضيع منه لحظة في غير قربة، ويقدم الأفضل فالأفضل من القول والعمل

“Hendaknya manusia yang telah mengetahui akan keagungan masa dan nilai dari waktunya, janganlah sampai ia menyia-nyiakan satu detik pun dari hidupnya untuk selain ibadah. Dan hendaklah ia mendahulukan yang paling utama, kemudian yang utama, baik dalam perkataan maupun perbuatan."[2]

Itulah mengapa waktu bagi seorang muslim menjadi sesuatu yang paling berharga melebihi apapun dari kekayaan yang ia miliki. Bagaimana tidak, sedangkan waktu baginya adalah modal utama untuk bisa memperbanyak amal-amal kebaikan dan melakukan segala hal yang bermanfaat untuk dirinya.

Ladang amal yang harus digarap membentang begitu luas, sedangkan umur yang dimiliki sangatlah terbatas. Maka aneh jika ada yang mengaku ingin meraih kebahagiaan dunia bahkan juga akhirat, namun rela menghambur-hamburkan waktu dalam kesia-siaan. Al imam Ibnu Qayyim al Jauziyah rahimahullah berkata :

وقت الإنسان هو عمره في الحقيقة، وهو مادة حياته الأبدية في النعيم المقيم، ومادة المعيشة الضنك في العذاب الأليم، وهو يمر مر السحاب، فمن كان وقته لله وبالله، فهو حياته وعمره، وغير ذلك ليس محسوبًا من حياته، فإذا قطع وقته في الغفلة والسهو، والأمانيِّ الباطلة، وكان خير ما قطعه به النوم والبطالة، فموت هذا خير له من حياته

“Waktu bagi manusia pada hakikatnya adalah umurnya. Ia adalah modal untuk meraih kehidupan abadinya dalam kenikmatan yang kekal, atau sebaliknya akan menjadi penyebab  bagi kehidupan yang sempit dalam siksa yang menyakitkan. Umur berlalu secepat berlalunya awan. Barang siapa yang waktunya untuk Allah dan bersama Allah, maka itulah kehidupannya dan umurnya. Selain dari itu tidak terhitung sebagai bagian dari hidupnya. Jika ia menghabiskan waktunya dalam  kelalaian, santai, dan angan-angan yang sia-sia,  dan bagian terbaik dari umur yang ia habiskan hanyalah untuk tidur dan menganggur, bahkan kematian untuk orang yang seperti ini lebih baik daripada hidupnya."[3]

Sungguh amat merugi seseorang yang memotong umurnya hanya untuk hal yang tak bermanfaat atau bahkan yang berisi kemaksiatan. Padahal waktu dan kesempatan semakin menipis atau bahkan jangan-jangan sudah tidak cukup lagi meski sekadar digunakan untuk menambal segala dosa dan keburukan yang telah ia lakukan.

 

Karena kebanyakan manusia tertipu dengan usia, kesehatan dan kenyamanan dalam hidupnya. Padahal akhir usia atau ujung waktu dari kehidupan seseorang tidak harus ditandai dengan datangnya sakit, tua ataupun terjadinya penderitaan. Sebagaimana yang diungkapkan  oleh al imam Syafi’i rahimahullah dalam bait nasehatnya :

فكم من فتى امسى واصبح ضاحكا … وقد نسجت اكفانه وهو لا يدري

“Betapa banyak orang yang segar bugar di sore atau pagi hari ia tertawa ria.
Sementara kain kafannya sedang dipersiapkan dan ia tidak menyadarinya.”[4]

Dan kelak pada hari kiamat, kita tidak akan mungkin bisa selamat hingga mampu menjawab dengan baik atas hisab waktu yang telah diberikan selama kita hidup di dunia ini. Dalam hadits disebutkan : "Kaki seorang hamba tidak akan bergeser pada hari Kiamat hingga ia ditanya tentang: Umurnya, untuk apa ia habiskan?... (HR. Tirmidzi)

 Semoga nasehat ini bisa menjadi pengingat yang bermanfaat bagi kita semua. Amin.

 


[1] Hilyah Aulia (2/148)

[2] Saidul Khatir hlm. 33

[3] Jawab al Kafi hlm. 109

[4] Fafiru Ilallah hlm. 84