PUBERTAS BERAGAMA DI USIA SENJA

19 Aug 2025 Admin Article
PUBERTAS BERAGAMA DI USIA SENJA

Oleh : KH. Ahmad Syahrin Thoriq

Saya itu paling iba ketika ketemu orang yang gemar bikin ribut di jagad media sosial, ternyata setelahnya saya tahu umurnya sudah tidak muda lagi. Sayang sekali, umur yang harusnya dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk hidup tenang dan khusyu’ dalam ibadah, guna mempersiapkan bekal menuju alam kubur, malah diisi dengan membuat permusuhan dan kegaduhan.

Orang seperti ini kelihatannya memang lagi puber-pubernya dalam urusan agama. Di masa mudanya dulu dia buta sama sekali tentang hal tersebut; tahunya hanya bagaimana memburu dan mengumpulkan dunia sebanyak-banyaknya. Lalu di usia senjanya ia sadar dan tahu akan pentingnya ilmu agama yang selama ini dilalaikannya.

Semangatnya kemudian bukan hanya bagaimana ia mempelajarinya, tapi juga bagaimana menyampaikan kepada orang lain. Teramat sayang, pikirnya, sesuatu yang luar biasa ini orang lain tidak mengetahuinya. Apa yang ia rasa harus dirasakan orang lain. Apa yang ia tahu harus juga diketahui orang lain. Hanya memang sayangnya, yang ia tahu baru satu sisi dari begitu banyak sisi samudra keilmuan yang tak bertepi ini, dan celakanya dianggapnya ilmunya itu yang paling benar dan yang lain salah.

Tentu kita tidak menolak semangat itu. Justru kita bersyukur ketika ada yang tadinya lalai lalu di usia senja bisa mendapatkan hidayah. Hanya saja, ledakan semangat tanpa diiringi faktor penyeimbang yang cukup seperti ini memiliki daya rusak yang lebih besar dari manfaat yang bisa dirasakan. Korbannya bukan hanya diri sendiri, yang lazimnya membuat seseorang keras dan beringas dalam beragama, tetapi juga melukai banyak pihak yang ada di sekelilingnya. Kata-katanya yang tajam menusuk dalam hati-hati orang-orang yang seharusnya dihormati atau wajib diperlakukan lemah lembut olehnya.

Daya rusak cara beragama para pubertas tua ini begitu nyata adanya. Anak-anak muda yang tadinya mulai tertarik dengan dunia pengajian berubah menjadi alergi lagi. Pikir mereka ternyata dunia ilmu agama itu barbar dan jauh dari kata menyenangkan. Orang-orangnya tak kalah kasar dari karter narkotika yang digambarkan di film-film hanya dengan genre yang berbeda karena dibalut dengan istilah agama dan aneka dalil pembenaran : Memerangi ahli bid’ah, melawan kemunkaran, membantah kaum sempalan dan lainnya.

Kalau pelakunya yang seperti ini adalah dari kalangan anak-anak muda—mereka yang memang sedang dalam proses mencari jati diri dan diiringi darah muda yang masih menggelora—kita tentu bisa memaklumi. Tapi kalau yang melakukan justru orang yang seharusnya sikapnya pelan dan tenang, kata-kata lembut membahagiakan, nada suaranya sejuk menenangkan dan wajahnya teduh menentramkan, tapi justu menjadi sumber panas dan ledakan, ini memang anomali yang cukup mencengangkan.

Kalau anak muda juga lazimnya lebih mudah untuk diingatkan. Rasa hormat kepada yang lebih senior dan kesadaran akan masih minimnya pengalaman memudahkan mereka untuk berhenti sejenak, mendengar, lalu menimbang. Mereka lebih memiliki kesadaran akan posisinya, sehingga pendapat yang berbeda tidak selalu dicerna sebagai ancaman dan serangan. Tapi kalau untuk yang tua, cerita akan jadi lain.

Karena itu sebaiknya kalau antum punya ayah, kakek atau pakde yang tiap hari mulai rajin ngomongin agama dengan genre ini yang benar kelompok ini yang salah yang itu, alangkah baiknya lakukan antisipasi, sebelum semuanya menjadi lebih sulit ditangani. Untuk pertolongan pertama, kenali terlebih dahulu sebabnya lalu datangkan obat yang sesuai penyakitnya. Sebagai gambaran umumnya “penyakit“ ini biasanya disebabkan oleh proses ngaji yang tidak terstruktur atau melalui tahapan yang tidak seharusnya. Jenisnya ini pun terbagi menjadi dua : Yang pertama ngaji baru tiga hari langsung paham bid’ah, jenis kedua katanya sudah ikut pengajian belasan tahun tapi cuma kenal satu istilah saja : Wahabi.

Yang pertama itu tadi juga masih terbagi lagi menjadi beberapa bagian dan yang kedua tadi juga ada banyak jenisnya. Lalu masing-masing bagian dan jenis tersebut masih ada lagi ragam kategorinya. Kemudian selanjutnya ragam kategori itu juga mempunyai sub kategori di bawahnya.  Hingga yang terparah ada stadium yang harus ditangani secara khusus, yang  standar dokter spesialisnya harus sekelas sayidina Abdullah bin Abbas.

Pusingkan ? Iya sama saya juga pusing…