Oleh : KH. Ahmad Syahrin Thoriq
Orang yang menghibah atau membicarakan aib orang lain hakikatnya ia telah mentransfer pahala amal-amalnya kepada pihak yang telah ia ghibah tersebut. Para pengghibah adalah termasuk golongan yang dimaksud dalam hadits berikut : "Sesungguhnya orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan (pahala) shalat, puasa, dan zakatnya. Tetapi dia juga datang dalam keadaan pernah mencaci si ini, menuduh si itu, memakan harta orang ini, menumpahkan darah orang itu, dan memukul orang ini. Maka akan diberikanlah (pahala) dari kebaikannya kepada orang ini dan kepada orang itu. Jika pahalanya habis sebelum semua kezhalimannya terbayar, maka dosa-dosa mereka akan diambil lalu dilemparkan kepadanya. Setelah itu, ia pun dilemparkan ke dalam neraka."(HR. Muslim)
Diriwayatkan bahwa ada yang menginformasikan kepada imam Hasan al Bashri rahimahullah bahwa seseorang telah membicarakan aib-aibnya. Maka beliau bergegas membawakan untuknya nampan yang penuh dengan makan seraya berkata:
قد بلغني أنّك أهديت إليّ من حسناتك فأردت أن أكافئك عليها فاعذرني فإنّي لا أقدر أن أكافئك على التّمام
"Telah sampai kepadaku berita bahwa engkau telah menghadiahkan sebagian dari pahala kebaikanmu kepadaku, maka aku ingin membalasmu. Maafkan aku karena aku tidak mampu membalasmu dengan balasan yang setimpal.”[1]
Al imam Abdullah bin Mubarak rahimahullah pernah berkata :
لو كنت مغتابا أحدا لاغتبت والدي لأنهما أحق بحسناتي
"Kalau seandainya (boleh) aku mengghibahi seseorang, niscaya aku akan mengghibahi kedua orang tuaku, karena keduanya yang paling berhak mendapatkan kiriman kebaikanku."[2]
Al imam Ibrahim bin Adham melewati seseorang yang sedang membicarakan iab orang lain, dengan nada meninggi beliau berkata :
يا مكذب بخلت بدنياك على أصدقائك وسخوت بآخرتك على أعداءك، فلا أنت فيما بخلت به معذور ولا أنت فيما سخوت به محمود
"Wahai pendusta, engkau pelit memberikan duniamu kepada teman-temanmu, namun mengapa engkau beigtu dermawan memberikan akhiratmu kepada musuh-musuhmu. Pelitmu itu tidak diterima alasannya (bagaimana bisa pelit ke teman padahal hanya urusan dunia) dan dermawanmu itu juga tidak akan mendatang kemuliaan untukmu (memberikan pahala akhirat dengan cara menghibah).”[3]
Al imam Sufyan bin Husain rahimahullah menceritakan : "Aku pernah duduk di sisi Iyas bin Mu‘awiyah. Lalu lewat seorang lelaki, aku pun membicarakan keburukan orang tersebut. Maka Iyas berkata: 'Diamlah!' Kemudian ia berkata kepadaku: 'Wahai Sufyan, apakah engkau pernah berperang melawan Romawi?' Aku menjawab: 'Tidak.' Ia bertanya lagi: 'Apakah engkau pernah berperang melawan Turki?' Aku menjawab: 'Tidak.' Maka ia berkata:
سلم منك الترك والروم، ولم يسلم منك أخوك المسلم
"Orang-orang Turki dan Romawi bisa selamat darimu, namun saudaramu sesama Muslim tidak selamat darimu?'
Sufyan berkata: "Setelah itu aku tidak pernah lagi mengghibah siapapun."[4]
Semoga nasehat singkat ini bisa menjadi pengingat yang bermanfaat. Amin.