Oleh : KH. Ahmad Syahrin Thoriq
Seorang sufi ahli ibadah pernah mengirimkan surat kepada imam Malik rahimahullah, yang intinya mengajak beliau untuk lebih focus memperbanyak menyendiri dalam ibadah dengan dzikir, shalat dan yang semisalnya. Maka sang imam menulis surat jawaban yang isinya sebagai berikut :
إن الله قسم الأعمال كما قسم الأرزاق، فرب رجل فتح له في الصلاة، ولم يفتح له في الصوم، وآخر فتح له في الصدقة، ولم يفتح له في الصوم، وآخر فتح له في الجهاد.
“Sesungguhnya Allah telah membagi amal sebagaimana dia membagi rezeki. Maka bisa jadi seseorang diberi kemudahan dalam shalat, tetapi tidak diberi kemudahan dalam puasa. Orang lain diberi kemudahan dalam sedekah, tetapi tidak diberi kemudahan dalam puasa. Orang lainnya lagi diberi kemudahan dalam jihad.
فنشر العلم من أفضل أعمال البر، وقد رضيت بما فتح لي فيه، وما أظن ما أنا فيه بدون ما أنت فيه، وأرجو أن يكون كلانا على خير وبر.
Menyebarkan ilmu adalah salah satu amal shalih yang paling utama. Aku ridha dengan apa yang telah Allah bukakan untukku. Dan aku tidak menganggap bahwa apa yang aku lakukan lebih rendah daripada apa yang engkau lakukan. Aku berharap kita berdua berada dalam kebaikan dan kebajikan.”[1]
Demikianlah, setiap manusia pada dasarnya telah Allah ta’ala anugerahi potensi dan kecenderungan amal yang berbeda-beda. Ada yang mudah baginya untuk beribadah ritual, namun berat dalam beramal sosial, atau pun juga sebaliknya. Maka yang telah diberikan kemudahan untuk bisa beramal harta dan tenaga, jangan meninggalkan pos perjuangannya karena lebih tertarik ingin menjadi pendakwah atau pengajar ilmu agama. Biarkan yang memiliki ilmu yang memaksimalkan diri di medan itu, antum cukup mensuport dengan harta yang telah Allah titipkan agar kebaikan yang dirasakan oleh umat bisa lebih maksimal manfaatnya.